
Sementara Gavin tertawa keras melihat Zhie menatapnya dengan tatapan waspada. Ia berdiri mendekati tubuh Zhie yang masih terpaku di tempat yang sama..
"Hei jadi kau percaya? Ayolah Zhie aku hanya bercanda. " kata Gavin merangkul bahu Zhie.
Spontan Zhie menggerakkan tubuhnya dan menepis lengan kekar yang merangkul bahunya. Ia menatap tajam suaminya itu.
"Kau menipuku?" tanya Zhie sinis.
Gavin tersenyum sekaligus mengangguk pasti.
"Tentu saja aku berbohong. Aku baru saja kembali dari ruang kerjaku saat kau sudah selesai memakai pakaianmu jadi aku sama sekali tidak melihatnya, kecuali jika kau mengijinkan." ucap Gavin dengan senyum khas mesumnya.
Setelah Gavin menjelaskan yang sebenarnya, Zhie tetap memasang wajah sinisnya. Namun menjadi daya tarik sendiri bagi Gavin. Karena menurutnya saat Zhie menatapnya dengan sinis justru semakin menggoda imannya.
Zhie masih bertahan dikamarnya setelah meminta Gavin untuk turun terlebih dahulu. Ia akan tetap pergi kuliah hari ini. Lagipula Gavin tetap pergi bekerja jadi untuk apa jika ia harus menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di rumah sampai ia bosan sembari menunggu Gavin pulang bekerja.
"Zhie kau mau kemana membawa tas? " tanya mertuanya, Maya.
Gavin menoleh mengikuti tatapan ibunya. Tatapan matanya bertemu dengan mata Zhie yang tengah melihatnya.
Dengan susah payah Zhie kembali berpura pura tersenyum bahagia. Dan menjawab pertanyaan mertuanya dengan sopan.
"Ibu, aku akan tetap kuliah hari ini. Lagipun suamiku tetap bekerja hari ini. "
Maya mengernyitkan dahinya. "Kau yakin tidak ingin istirahat saja? Apa kau tidak ingin spa setelah kegiatan tadi malam? "
Zhie ternganga dengan jawaban mertuanya itu. Apa maksudnya kegiatan tadi malam? Memang aku kenapa**!
Kegiatan sarapan bersama yang penuh drama itu telah berakhir. Kini Zhie sudah menunggu Gavin di dalam mobil dan siap untuk berangkat kuliah. Matanya menetap ke arah jam tangan yang melingkar ditangannya. Sudah pukul 7 kurang 15 menit.
Zhie berdecak kesal setelah menunggu lumayan cukup lama. Akhirnya setelah bergumam tidak jelas kini pria yang ia tunggu sudah datang.
"Maaf membuatmu menunggu, aku tadi harus menyiapkan beberapa brankas terlebih dulu. " kata Gavin dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Zhie menganggapi ucapan Gavin dengan berdehem. Ingin rasanya cepat cepat jauh dari pria disampingnya itu.
Hari ini jalanan tidak begitu macet sehingga mudah bagi Zhie sampai tepat waktu. Zhie segera turun ketika mobil Gavin sudah sampai didepan kampusnya.
Kakinya yang belum terbiasa dengan sepatu hak berjalan sedikit kesulitan. Karena hanya ini sepatu yang suaminya sediakan dirumah. Sementara ia sendiri terbiasa dengan sepatu ala anak sekolahan dan flatshoes yang tidak begitu ribet.
Gavin ikut turun saat Zhie sudah menutup pintu mobil. Melangkahkan kakinya mendekati istrinya dan...
Cupp.
Zhie terkejut saat suaminya mengecup keningnya sekilas lalu mengusap pucuk kepalanya lembut.
"Nanti pulang bersamaku, hubungi aku jika sudah selesai dan aku akan segera menjemputmu. "
Tubuh Zhie yang masih terkejut kini berdiri kaku dan menatap lurus. Berusaha mencerna setiap detail kejadian yang baru saja ia alami.
"I..iya." balas Zhie singkat.
Mobil mewah suaminya kini sudah mulai menghilang dari hadapannya. Namun tetap saja keterkejutan akan kejadian tadi tetap menghantui pikirannya.
Dengan susah payah Zhie berjalan terpincang-pincang karena pinggangnya masih terasa sakit ditambah sepatu hak nya yang semakin mempersulit dirinya untuk berjalan cepat.
Ah menyusahkan sekali sepatu sialan ini! gumam Zhie ketika sudah sampai pintu kelas.
"Zhie?! Kau berangkat?! " teriak Ziva saat melihat sahabatnya itu memasuki ruang kelas.
"Wah teman teman lihatlah sekarang tampilan Zhie sudah berubah bukan? Sudah sepatutnya Zhie memakai gaun mewah dan sepatu mahalnya karena kini sudah menjadi nyonya Adinata, " canda Helen.
"Aihh lihatlah jalannya pun terpincang-pincang aku rasa kalian pasti paham apa yang sudah terjadi tadi malam. " goda Celline.
Ketiga temannya itu tertawa terbahak menjadikan Zhie sebagai bahan candaan. Ia memasang muka tak suka dan sebal.
"Kalian sungguh mesum! " balas Zhie sembari mendudukkan pantatnya perlahan dikursi.
"Jadi bagaimana tadi malam nyonya Adinata?" tanya Ziva pelan dengan senyum menggoda.
"Apanya? Yang ku lakukan hanyalah tidur dengan nyenyak tadi malam. " balas Zhie enteng dan mulai mengeluarkan ponselnya.
Sebuah pesan tanpa nama masuk ke ponsel Zhie.
Tanpa nama.
"Kau Zhie bukan? Aku ingin bertemu denganmu hari ini apakah kau bisa? "
Zhie mengernyitkan keningnya. Ia tak mengenal nomor itu.
Kenzhie.
"Siapa?"
Tanpa nama.
"Mantan kekasih Gavin. "
Zhie kembali berpikir.
Kenapa mantan om itu menghubungiku? Apa dia masih mencintai om itu? Jika benar maka ini kesempatanku untuk bebas dari om itu. pikir Zhie.
Kenzhie.
"Baiklah kau kirim saja alamatnya. "
****
Tanpa nama.
"Kau datanglah ke cafe XXX, jika kau sudah sampai hubungi aku. "
Tanpa pikir panjang ia segera memesan taxi online dan menuju cafe yang mantan kekasih suaminya maksud.
Setelah duduk hampir 15 menit dan sudah menghubungi mantan kekasih suaminya bahwa ia sudah berada di cafe tempat janjian itu.
Zhie sudah memesan satu minuman sejak tadi namun belum sedikitpun ia meneguknya. Yang ia pikirkan saat ini adalah apa tujuan mantan kekasih suaminya itu mengajaknya untuk bertemu.
"Haii! Maaf membuatmu menunggu," sapa seorang wanita dengan rambut tergerai dan wajah yang penuh make up.
"Ah iya tak apa, " balas Zhie tersenyum.
"Perkenalkan aku Li Xiaoi, mantan kekasih Gavin. " kata wanita itu dengan penuh percaya diri.
Cih kau pamer sekali! Baru saja kekasih belum menikah tapi percaya dirimu bisa setinggi itu tante.
"Aku Zhie, " balas Zhie sembari mengulurkan tangannya membalas wanita itu.
"Jadi bagaimana pernikahanmu? " tanya wanita itu dengan wajah licik.
"Apanya? Semuanya baik baik saja dan berjalan semestinya. " jawab Zhie. Bodoh! Kenapa kau menjawab seperti itu Zhie.
"Lalu kapan kau akan bercerai? "
Zhie terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita didepannya itu. Berani sekali.
"Apa? Pernikahanku bahkan belum berumur 24 jam dan kau sudah menanyakan kapan aku bercerai? " tantang Zhie entah mengapa ia merasa kesal. Ia lupa dengan tujuannya.
"Kumohon jangan membuatku menunggu terlalu lama. Aku masih sangat mencintai Gavin saat ini. Aku bisa mati hidup tanpanya. "
Cih kau lebay sekali sih!
"Tante bersabarlah, aku juga ingin segera bebas dan kau ingin segera memiliki apa yang sudah menjadi hakmu. Kita hanya perlu waktu sekarang. "
Wanita didepannya itu yang sedari tadi diam bersandar di kursi kini menegakkan tubuhnya.
"Kau memanggilku tante?! " protes wanita itu.
Zhie mengangkat kedua bahunya.
"Tentu saja aku masih berusia 19 tahun sementara kau terlihat seperti tante berusia sekitar 27." jawab Zhie
Li Xiaoi ternganga karena ternyata saingannya itu seorang bocah.
"Oh jadi kau masih bocah. " olok Li Xiaoi.
"Apa?! Heii tante usiaku memang masih tergolong muda tapi bukan berarti aku tidak pintar ya! " balas Zhie tak terima.
Zhie merasa akan sangat panjang dan sulit urusannya jika ia tetap meladeni wanita didepannya itu. Zhie pergi meninggalkan cafe itu setelah menggebrak meja dan membuat semua orang menoleh.
Banyak orang berbisik bisik setelah melihat kejadian itu. Bahkan tak banyak ada yang merekam namun Zhie bersikap acuh.
Setelah melihat Zhie pergi, segera Li Xiaoi mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo? Dia baru saja keluar dari cafe. Kau tunggu saja dijalan. " kata Li Xiaoi dengan senyum licik.
****
Zhie berdiri di pinggir jalan sembari menunggu taxi lewat. Sore ini matahari terasa sangat terik dan hampir membakar kulitnya jika saja ia lupa tidak memakai sunblock.
Tubuhnya berjingkit kaget saat dirasa ada seseorang yang menepuk pelan bahunya. Spontan Zhie menoleh dan mendapati pria gila yang menyiksanya waktu itu.
Rasanya seperti tersambar petir disiang bolong. Cuaca hari ini yang begitu panas seketika seperti lebur. Tubuhnya justru sekarang terasa dingin dan kaku. Merasakan getaran hebat disekujur tubuhnya.
"Apa kabar bebby? " tanya pria itu dengan senyum menyeringai penuh kemenangan.
"Ka..kau?! "
"Kenapa kau begitu terkejut sekarang? Apa kau takut? Kau tahu kesalahanmu bukan? " tangan Daniel mulai mencengkram kuat lengan Zhie. Dan membuatnya meringis kesakitan.
"Le..lepaskan aku! Aku bukan lagi milikmu lagi! " Zhie mencoba menggerakkan tangannya agar terlepas. Namun cengkeraman ditangannya begitu kuat. Sepertinya akan sia-sia jika ia terus memberontak.
"Apa kau tidak rindu denganku? Mari kita habiskan waktu bersama malam ini. " tangan kekar yang mencengkram kuat lengan Zhie kini mulai menyeret tubuh mungil Zhie.
"Lepaskan aku dasar pria gila! Pria brengsek! Kau psikopat! " maki Zhie.
Daniel menghentikan langkahnya sejenak.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat mulus tepat di pipi kanan Zhie. Terasa panas dan perih. Wajahnya sampai terhuyung seketika saat tangan kekar pria itu menamparnya.
"Berani sekali kau memakiku! " tantang Daniel penuh dengan wajah meredam amarah.
Zhie yang merasa masih syok hanya bisa diam mematung. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya karena ia sempat terhuyung. Matanya mulai memerah namun ia tak sanggup mengeluarkan air mata. Hanya saja perasaannya yang kalut dan tubuhnya yang gemetar menjadi ketakutan tersendiri. Takut jika Daniel akan mengurungnya lagi di apartemen dan menyiksanya.
Pikirannya sekarang hanya tertuju pada Gavin. Ia sangat membutuhkan sosok suaminya itu. Otaknya berputar memikirkan cara agar ia bisa lolos dari pria gila yang terobsesi dengan dirinya.
Terimakasih sudah mampir jangan lupa like dan vote ya😍
Kalau sukak jangan lupa favorit kan cerita ini😍
terimakasih untuk supportnya ^_^