It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
ADINATA GAVIN CAESAR



Adinata Gavin Caesar, atau biasa disapa Gavin ini merupakan laki-laki sedingin dan sebeku es batu. Namun fisiknya yang nyaris sempurna ini membuat orang-orang melupakan point pertamanya sebagai laki-laki dingin dan kasar.


Di kalangan perusahaan, Gavin dipandang sebagai orang penting dan akan sangat beruntung apabila sampai bisa berjabat tangan dengannya.Lelaki ini benar-benar menjaga jarak dengan keramaian. Kekayaannya yang melimpah ini ia dapatkan karena ia pewaris tunggal Su Jien Group. Ayahnya telah meninggal saat ia berusia 21 tahun. Sementara sekarang usianya sudah menginjak 29 tahun, namun belum pernah terpikir untuk segera menikah dan memberikan ibunya cucu.Ia masih ingin terus fokus mengejar kariernya.Ibunya selalu uring-uringan menawarkan model-model cantik dan berbakat untuk anaknya namun selalu ditolak mentah-mentah.


"Sayang, kau lihatlah! Bukankah dia sangat cantik?" celoteh ibunya sambil menyodorkan tumpukan foto model cantik. "Ibu rasa dia sangat cocok denganmu." sambungnya.


Gavin membuang napas pelan melihat tingkah ibunya. "Ibu, Gavin ini sudah besar, sudah dewasa.Gavin bisa mencari wanita untuk dijadikan istri sendiri.Hanya saja waktunya belum tepat, ibu tak perlu khawatir." jawab Gavin berusaha meyakinkan ibunya, bersamaan dengan tangannya merangkul pundak ibunya dan tersenyum.


Ibu membalas tatapan Gavin seolah tak percaya dengan kata-kata anaknya itu.


"Ya sudah bu, aku berangkat ke kantor dulu." katanya kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya dan disambut hangat oleh sekretaris pribadinya, namanya Marc.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tidak butuh waktu lama mobil itu sudah sampai di kantor.Gavin mulai membuka laptopnya dan melihat lihat laporan data keuangan yang diberikan oleh Sekretaris Marc.


"Marc, segera bacakan jadwalku hari ini." kata Gavin singkat.


"Anda ada janji bertemu dengan Ceo Perusahaan Albert setelah jam makan siang, tuan. Lalu dilanjutkan dengan meeting klien yang kemungkinan akan sampai larut malam." jawab sekretaris Marc sambil melihat tablet yang ia pegang dan dibalas anggukan oleh Gavin.


***


Sementara dirumah Albert.


Zhie dengan semangatnya menuruni anak tangga dan menuju meja makan.Dilihatnya dimeja itu sudah penuh dengan sarapan dan ada ayah yang sedang membaca koran.


Ibunya yang melihat kejadian itu seketika merasa hancur dan terpukul. Seolah tak percaya bahwa garis takdir anaknya akan serumit ini.Pandangannya membuat ia terus berlarut dan tanpa disadari pelupuk matanya siap meneteskan cairan bening.


"Good morning anak dady yang manja." balasnya sembari melepas pelukan.


"Ah dady apakah kau tahu? sebentar lagi aku akan camping bersama teman-temanku itu pasti akan sangat menyenangkan bukan?" kata Zhie dengan nada benar-benar bahagia.


Ayahnya hanya terdiam mendengar perkataan anaknya, seolah bersiap merasakan kehancuran yang akan dirasakan anaknya setelah ini.


"Wow! Really?" sambar Kak Ken yang baru keluar dari kamarnya.


Zhie mengalihkan pandangannya menatap kakaknya yang sedang berjalan menuju meja makan. "Really, lusa besok kalau nggak salah."


"Asik bakal seru seruan nih kayaknya, oleh-olehnya jangan lupa dong" ledek kakaknya.


"Beli aja sendiri sana" jawab Zhie yang dilanjut dengan gelak tawa yang memenuhi ruang makan pagi itu.


Ibunya yang dari tadi memperhatikan mereka bertiga dari dapur kini mulai mendekati dan ikut bergabung. "Sudah sudah ayo makan nanti kalian telat." kata Ibunya sambil menahan perih di dada bahwa sebentar lagi anaknya akan melepas masa muda yang seharusnya untuk bersenang-senang justru akan dihadapkan menjadi gelar seorang istri.


Haii guys jangan lupa di vote ya❤❤❤