It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
HARI H



Setelah kejadian itu sudah beberapa hari ini Daniel tak menghubungi Zhie lagi. Begitupun Zhie yang sudah terlanjur kecewa kepada Daniel telah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Daniel secara sepihak. Hal ini membuat Gavin merasa menang dan perlahan Zhie mulai menerimanya.


Hari ini adalah hari dimana Zhie dan Gavin akan disatukan dengan ikatan pernikahan. Gavin merasa bangga dan bahagia karena usahanya meyakinkan Zhie kini telah berhasil. Ia berjanji tidak akan melepaskan miliknya untuk orang lain.


Perlahan Zhie mencoba menerima kenyataan. Dimana ia harus bisa mencoba melupakan Daniel dan memfokuskan diri untuk kuliah dan suaminya. Ia mencoba mengikhlaskan semuanya meskipun masih terasa berat.


****


Zhie duduk didepan cermin besar. Melihat dirinya tak seperti biasanya. Bukan Zhie yang tidak suka memoles wajahnya dengan make up kini wajahnya justru penuh make up dan sangat merubah tampilannya. Mungkin akan banyak orang yang mengira itu bukan wajahnya.


Zhie sendiri terkagum kagum dengan riasan serta gaun mewah yang ia pakai. Bibirnya sedikit terangkat menampilkan senyum secerah mentari pagi. Mahkota yang menghiasi rambutnya menambahkan nuansa anggun.


Make up yang tak terlalu tebal namun cukup merubah tampilan wajahnya juga terlihat cantik berpadu dengan gaun putih dan buket bunga yang ia pegang.


Zhie mulai berjalan menyusuri ribuan tamu yang hadir didalam gedung mewah itu. Kebanyakan adalah rekan kerja calon suaminya dan beberapa teman kampusnya.


Gavin dengan setelah jas dan celana putih sangat terlihat cocok dengan gaun milik Zhie. Meskipun usianya sudah menginjak 29 tahun namun wajah dan badannya yang sangat atletis menambah tampilannya terlihat seperti berusia 25 tahun.


Mereka berdua berjalan bersama setelah mengucapkan ijab kabul melintasi tamu tamu yang riang bertepuk tangan mengucapkan selamat. Zhie memang belum seutuhnya menerima kenyataan ini namun ia berusaha untuk tidak mengecewakan orang tua dan suaminya yang saat ini ia gandeng mesra didepan orang banyak.


Pesta telah dimulai. Zhie yang sudah selesai menyalami para tamu kini tengah menghabiskan waktu bersama teman kuliahnya. Bergurau ria sejenak melupakan lelah yang menerpa tubuhnya.


Zhie berjingkit saat seseorang menepuk bahunya pelan dan menoleh.


"Ada apa? " tanya Zhie kepada Gavin.


"Kemari, waktumu telah habis. Sekarang ikut aku dan berbincang dengan rekan kerjaku sekaligus memperkenalkanmu kepada mereka. "


Zhie menoleh ke teman temannya dan berpamitan.


"Aku pamit dulu ya, kalian nikmati saja pesta ini. Selamat bersenang senang. " ucap Zhie tersenyum dan menggandeng lengan suaminya spontan.


Gavin mengelus tangan Zhie dan membawanya ke meja dimana banyak rekan kerja Gavin. Zhie mencoba untuk tetap mempertahankan senyumnya meskipun ia sangat kelelahan dan sangat ingin mandi air dingin lalu merebahkan tubuhnya di kasur.


Setelah sekian lama pesta berlangsung malam semakin larut. Pesta sudah berakhir dan orang orang sudah meninggalkanmu gedung itu. Zhie dan Gavin telah pulang ke rumah keluarga Adinata. Kehadirannya disambut hangat oleh mertuanya.


Zhie sedikit lega karena mertuanya baik dan tidak sejahat yang ada di kebanyakan film. Mungkin ia akan sedikit betah dirumah ini meskipun ia tak akan mempunyai teman lagi jika dirumah. Biasanya ia akan ditemani oleh kakaknya. Namun sekarang ia harus terbiasa sendiri jika nanti suaminya bekerja.


Semoga mertuaku ini tidak jahat kepadaku jika Om itu sedang bekerja. Kan tidak lucu jika nanti kisahku akan seperti film film di tv dimana seorang menantu disiksa oleh mertuanya saat suaminya sedang pergi bekerja. Zhie


Gavin kini tengah mandi dan Zhie berdiri menikmati angin dan pemandangan malam dari balkon kamarnya. Memejamkan matanya dan menghirup udara segar sembari meluapkan rasa lelahnya setelah seharian penuh berdiri dan berjalan kesana kemari menggunakan sepatu hak tinggi.


Tanpa Zhie sadari, Gavin telah selesai dengan ritual mandinya dan kini telah berdiri tepat dibelakangnya. Membelai pelan lengan dan bahunya yang tak terlilit kain. Zhie membuka matanya lebar dan terkejut.


"O..om..ka..kau sudah selesai mandi? " tanya Zhie yang kini sudah berbalik menghadap Gavin yang masih berbalut jubah mandi.


"Apa kau tak ingin mandi hm? " tanya Gavin yang kini tangannya membelai pipi mulus Zhie yang masih penuh make up.


Gavin menatap punggung Zhie yang terekspos meskipun hanya sebagian. Namun ia begitu menikmatinya lalu tersenyum geli membayangkan bagaimana nanti Zhie akan berteriak jika ia pura pura menakut-nakutinya untuk meminta jatah malam pertamanya.


Kini Zhie sudah berada diruang ganti sementara tangannya masih kesulitan untuk menggapai tali yang terikat rapi di punggungnya. Ia berdecak sebal. Lalu memutuskan untuk keluar.


"Om bisakah kau membantuku melepas tali gaun yang berada di punggungku? Aku kesulitan untuk menggapainya. " kata Zhie sembari menekuk wajahnya sebal.


Gavin dengan senang hati berdiri dan mendekati Zhie. Tangannya dengan lincah menarik tali yang diikat pita rapih di punggung mulus Zhie. Ia menelan salivanya dengan susah payah setelah menikmati pemandangan punggung milik gadis didepannya itu.


"Sudah," ucap Gavin.


"Terimakasih om, aku ingin mandi dulu. " kata Zhie berlalu meninggalkan Gavin yang mematung kaku.


Zhie mengguyur badannya yang lengket dengan air dingin yang mengalir dari shower. Menikmati sejenak deru air yang mengaliri setiap jengkal tubuhnya.


Setelah hampir setengah jam Zhie didalam kamar mandi ia menyudahi ritual mandinya karena tubuhnya mulai merasa kedinginan.


Baru Zhie mengingat kebodohannya yang lupa tidak membawa baju ganti dan hanya ada jubah mandi yang tertata dilemari kaca dalam kamar mandi itu.


Terpaksa ia menggunakan jubah mandi dan keluar tanpa menggunakan pakaian lain selain jubah mandi itu. Ia menatap sekitar dan menemukan Gavin sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya.


Dengan ragu Zhie melangkahkan kakinya keluar dan berusaha fokus menatap lemari yang hendak ia gapai secepat mungkin.


Baiklah Zhie anggap saja om itu tidak ada. Jangan takut dan jangan khawatir. Setelah kau mengambil baju berlari secepat mungkin masuk ke kamar mandi. batin Zhie


Zhie mulai melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa dan fokus menatap lemari yang hendak ia datangi tanpa melihat sekitar. Setelah ia selesai mencari piyamanya ia segera berbalik dan terkejut saat dilihatnya Gavin sudah berdiri tegap di belakangnya.


"Kyaaa!! Sedang apa kau disini?!! " teriak Zhie spontan.


"Kenapa? ini kan kamarku. " jawan Gavin santai.


"Minggirlah om aku mau ke kamar mandi! " kata Zhie berusaha menyingkirkan tubuh dan atletis Gavin yang menghalangi jalannya.


"Kenapa harus dikamar mandi? Kan kau bisa memakai pakaianmu disini, " kata Gavin sambil tersenyum mesum dan dibalas tatapan tajam dari Zhie.


"Kau mesum sekali! " ronta Zhie saat Gavin mendekap tubuhnya di dada bidang milik Gavin.


"Kyaa!! Ada kecoa om dikepalamu! " teriak Zhie.


"Mana! Dimana?! " tanya Gavin panik sembari mengibaskan kepalanya dengan tangannya.


Zhie yang melihat Gavin panik dan sibuk mengibaskan tangannya langsung berlari menuju kamar mandi dengan senyum kemenangan.


"Aaa tidak om aku hanya bercanda! " kata Zhie yang sudah masuk dan mengunci pintu kamar mandi.


Gavin menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup sempurna dan gadis itu telah masuk tanpa ia sadari. Ia hanya tersenyum meratapi kebodohannya yang dilabuhi oleh seorang gadis cilik yang kini telah menjadi istrinya.