It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
CALON MERTUA



Selama di perjalanan Gavin lebih memilih diam. Zhie juga tampak masih sibuk dengan game di ponselnya. Hingga akhirnya Zhie merasa sangat bosan dengan ponselnya yang kini hanya menatap pepohonan di pinggir jalan yang tampak berlari mengejar lalu tertinggal jauh.


"Emm om kau mau membawaku kemana? " tanya Zhie memecahkan keheningan.


"Menemui calon mertuamu. " jawab Gavin dingin.


"Ja..jadi benar? " tanya Zhie gugup.


Gavin mengernyitkan dahinya, "Apanya? "


"Menemui calon mer... " Zhie terdiam sebelum menyelesaikan kalimatnya dan canggung untuk meneruskan kalimatnya. "Maksudku Ibu, " kata Zhie gugup.


"Ah maksudku ibumu, " kata Zhie mengoreksi kalimatnya.


Gavin mengangkat alisnya sebelah, "Berbicaralah dengan benar dan jelas, "


"Ah sudahlah lupakan, " kata Zhie akhirnya mengalah karena takut semakin dipojokan oleh Gavin.


"Apa pakaianku terlihat layak? " tanya Zhie lagi.


"Cihh pakaianmu benar benar terlihat kumal, sangat tidak layak untuk kau pakai! " maki Gavin.


Zhie menatap Gavin dengan tajam. Tak terima dirinya dimaki, tapi apa yang dikatakan Gavin pun ada benarnya ia tak bisa menyangkalnya.


(Pakaianku memang seperti sangat tidak layak, hanya kaos hoodie yang ku padukan dengan jeans putih ketat dan ini juga sudah terlihat tua )


"Kau tak perlu repot repot aku sudah menyiapkan banyak gaun untukmu, "


Setelah hampir beberapa lamanya akhirnya telah sampai di sebuah rumah besar sangat indah, dan luas.


"Ini rumah siapa? " tanya Zhie bingung.


"Rumah kita, masuklah di dalam sudah ada gaun gaun yang ku siapkan untukmu nanti setelah kita menikah dan ini rumah kita nantinya, " kata Gavin sambil memandang bahagia ke atap atap rumah.


Zhie tak menyangka bahwa Gavin telah menyiapkan semuanya sampai sejauh ini. Sedikit ada rasa dihati Zhie yang entah perasaan apa itu.


"Dimana kamarnya? " tanya Zhie mengalihkan pembicaraan.


"Kau naiklah, diatas kau akan melihat pintu dan melihat pintu bertuliskan Kenzhie Laurent Adinata dan itulah kamarmu. "


Zhie terkejut dengan namanya yang telah diubah oleh Gavin, dengan diganti Adinata yang mana itu adalah nama keluarga besar Gavin.


"Na...namaku? "


"Aku akan segera membuat namamu berubah, Zhie. " jawab Gavin dengan wajah menyeringai.


Merasa kalimat Gavin semakin membuat dirinya semakin merinding akhirnya Zhie memutuskan untuk segera naik dan mengganti pakaiannya.


Matanya terbelalak tak percaya begitu banyak gaun mahal di dalam lemari. Tapi ia sangat tidak menyukai gaun, ia lebih menyukai setelan kaos atau hoodie yang dipadukan dengan celana jeans.


Zhie sangat penasaran dengan isi ruangan itu dan memutuskan untuk keliling sebentar. Dilihatnya sebuah foto keluarga yang terlihat sangat harmonis, tepat ditengah tengah berdiri sosok yang sangat ia kenali yang yak lain adalah Gavin. Dibagian bawah foto itu terdapat nama nama anggota keluarga Adinata. Maya De Nanz Adinata dan Adinata Wijaya? Jadi itu nama orangtua om itu? pikir Zhie.


Akhirnya setelah butuh waktu hampir 1 jam bersiap siap di dalam kamar itu akhirnya ia selesai dengan urusannya. Dengan segera ia meninggalkan kamar itu dan berjalan ke bawah dan menemui Gavin.


"Om? " panggil Zhie sambil celingukan mencari sosok pria itu.


Namun tak ada sahutan sama sekali, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.


"Emm permisi, apa kau melihat Om mesum itu? " tanya Zhie yang tanpa sadar menyebut Gavin dengan sebutan Om Mesum.


"Maaf nona siapa yang anda maksud? " tanya pelayan itu bingung.


"Oh maksudku Tuan Gavin, apa kau melihatnya? " kata Zhie mengoreksi kalimatnya.


"Ohh Tuan ada di taman samping nona, mari saya tunjukkan, " jawab pelayan itu sopan lalu mengarahkan Zhie ke sebuah taman. Sangat indah dan hijau, cocok sekali untuk meredakan seseorang yang sedang marah atau bimbang. Dilihatnya Gavin sedang duduk dan menikmati pemandangan sekitar sambil memejamkan matanya.


"Om apa yang kau lakukan? " tanya Zhie setelah pelayan tadi pergi.


Gavin menoleh mendengar suara sosok wanita, suaranya lembut dan sangat menggairahkan bagi Gavin. Dilihatnya Zhie dengan pakaian warna merah berhiaskan polkadot putih di setiap bagian gaunnya. Dengan setelan gaun diatas lutut dan dipadukan dengan high heels berwarna bening semakin membuat Zhie terlihat cantik dan manis.


"Kau sudah selesai? Lama sekali! " maki pria itu.


"Kan sudah kubilang aku tak biasa memakai gaun jadi aku tak tahu harus memakai gaun yang seperti apa" jawab Zhie dengan polosnya.


"Yasudah ayo pergi, ibu pasti sudah menunggu. " kata Gavin lalu menarik tangan Zhie dan menggandengnya erat bagai tak mau dilepas.


Zhie hanya menurut saat Gavin menggandengnya memasuki sebuah rumah mewah, rumah itu adalah rumah keluarga Adinata. Sangat luas dan juga megah.


"Ingat bersikaplah manis didepan calon mertuamu, dan panggil aku sayang untuk sementara " bisik Gavin pelan sampai napasnya terasa di daun telinga Zhie dan membuat tubuhnya berkidik merinding.


Saat mereka mulai memasuki ruang tamu dengan tangan Gavin yang masih menggenggam erat tangan Zhie datang sesosok wanita paruh baya, namun masih terlihat cantik.


"Ibu " panggil Gavin lalu menyalami tangan ibunya bergantian dengan Zhie.


"Iya bu, ini Zhie. "


Matanya masih mengoreksi tiap detail penampilan Zhie. Dan akhirnya tersenyum puas.


"Sangat cantik sayang, " kata Maya tersenyum.


Zhie membuang napas lega dengan hasil koreksi wanita itu.


"Berapa umurmu nak? " tanya Maya.


"Eh..emm..19 tahun tante, " jawab Zhie dengan gugup.


"19? Apa kau tak salah memilih Gavin? " Kini mata Maya sudah memandang Gavin tak percaya.


"Memangnya mengapa bu? bukankah cinta itu tak memandang umur? " jawab Gavin lalu merangkul pinggang Zhie.


Eh apa apaan ini? gumam Zhie sambil melihat manik mata Gavin, sangat indah mata biru nya.


"Hm bukan begitu Gavin, apakah dia siap mempunyai anak diumurnya yang baru 19 tahun, " Sontak Zhie terkejut dengan kalimat wanita itu. Apa?! Anak?!


"Tentu saja ia akan siap, dan nantinya Zhie akan tetap meneruskan kuliahnya. "


"Meneruskan kuliah? " tanya Maya terkejut.


"Iya bu, aku tak mungkin membiarkan Zhie putus kuliah hanya karena menikah denganku, "


Akhirnya setelah lama berkenalan, mereka bertiga menuju ruang makan. Sudah banyak sekali makanan yang tertata rapih.


Zhie menatap Gavin setelah ia melihat banyak seafood di meja. Ia tak suka makan seafood.


"Emm, sayang aku...aku tak suka seafood, maaf. " kata Zhie tertunduk.


"Oh iya aku lupa, ibu maaf Zhie tak suka seafood. " kata Gavin sambil menggenggam tangan Zhie.


"Tidak apa nak, Zhie kau mau makan apa? Biar pelayan nanti membuatkan masakan baru untukmu " tanya Maya lalu memanggil beberapa pelayan.


"Ah tidak perlu tante, aku bisa makan diluar nanti " jawab Zhie menggelengkan kepalanya.


"Kau memanggilku tante? Zhie kau sebentar lagi menjadi istri anakku berarti aku juga ibumu, panggil aku ibu saja Zhie, " kalimat Maya membuat Gavin tersenyum simpul.


"Ba..baiklah ibu, "


"Kau suka makan apa Zhie? " tanya Maya antusias.


"Aku jarang makan dirumah bu, karena aku lebih sering makan diluar sambil mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk, "


Maya memandang Gavin dan tersenyum simpul, "Kau sama seperti Gavin, ia juga jarang makan dirumah karena pekerjaan. Tapi setelah menikah denganmu aku yakin dia pasti akan lebih sering makan dirumah, "


Zhie tak menyangka bahwa keluarga Adinata memperlakukannya sangat baik, mulai dari Gavin dan Ibu Maya.


****


Setelah makan siang itu Zhie pulang bersama dengan Gavin. Didalam mobil ia baru ingat tentang janjinya dengan pacarnya, Daniel.


Dengan segera ia menggeledah tasnya dengan buru buru. Matanya terbelalak terkejut setelah melihat banyak pesan dan telfon dari pacarnya.


Tanpa pikir panjang Zhie langsung menghubungi Daniel. Berharap Daniel tak marah dan memakluminya dengan alasan yang dibuat buatnya.


"Hallo? "


"Beby apa kau sengaja menghilang? " sahut pria itu tampak emosi.


"Bukan begitu beby, tapi..tapi aku ada urusan mendadak dan lupa dengan janji kita. Percayalah aku tak sengaja menghilang, aku harus menemani daddy bertemu klien, " jawab Zhie berbohong.


Gavin menatap Zhie dengan tatapan tak suka.


Berani beraninya dia menelfon pacarnya didepanku!


Setelah hampir 30 menit berdebat dengan Daniel, akhirnya sambungan telah diputuskan. Zhie menarik napasnya dan membuangnya kasar.


"Ini persyaratan yang kau minta, aku harap kau membacanya sampai akhir agar kau tak menyesal. " Kata Gavin dingin.


Zhie menatap map itu dan mengambilnya. Ia mulai membacanya tetapi tak sampai selesai. Ia tersenyum puas saat persyaratannya dipenuhi dan tertulis secara resmi di map itu.


(Sekarang aku sudah aman. ) gumam Zhie tersenyum menang ditambah lagi melihat wajah Gavin yang tampak murung dan masam. Mungkin ia begitu karena kalah, pikirnya.


Haii Guys terimakasih sudah mampir 😍😍


Jangan lupa like dan vote ya😘😘