It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
MERENGGUT



Gavin telah selesai menyuapkan makanan ke Zhie dan meletakkan piringnya ke atas nampan. Menatap ujung bibir Zhie yang masih terlihat lebam.


"Masih sakit? " tanya Gavin sembari mengelus pelan bibir Zhie dengan jarinya. Sebenarnya Zhie merasa risih dengan perlakukan Gavin, namun ia lebih memilih diam dan bersikap seolah ia tak peduli.


Zhie menganggukan kepala. "Sedikit."


Cup.


Kecupan sekilas yang mendarat tepat di bibir Zhie. Dirinya terlonjak kaget dengan perlakuan om itu. Ia hanya diam mematung membiarkan pikirannya mengalir dan mencerna kejadian itu dengan detail.


"Anggap saja ini obat agar bibirmu cepat sembuh. " ujar Gavin sembari pergi meninggalkan kamar dengan nampan berisi piring dan gelas kosong.


Apa apaan tadi! Kenapa aku tidak menolaknya! Aaaa ciuman pertamaku!


Selepas kejadian itu Zhie menjadi lebih diam karena malu. Setiap Gavin menatapnya rasa malunya semakin membakar dan membara. Bukankah harusnya dia yang malu karena menciumku tanpa izin!


****


Keesokan paginya Zhie bangun lebih awal dari Gavin. Sekilas ia menatap wajah Gavin yang sedang tertidur tenang. Wajahnya tampan dengan hidung mancung dan dagu yang bersih hanya ditumbuhi bulu bulu halus. Itupun sebagian. Ia rasa Gavin sering mencukurnya.


Tanpa aba aba tangan Zhie membelai pipi Gavin. Rahangnya terlihat sangat kuat. Mengetukkan jarinya di pipi Gavin. Tidak ada tanda tanda Gavin bangun namun hanya sedikit terganggu karena sempat menggeliat pelan.


Zhie terkekeh. Semakin liar ingin menikmati karya Tuhan yang begitu indah. Terlebih lagi akhir akhir ini Zhie merasa ia lebih aman jika berdekatan dengan Gavin. Mungkin hanya perasaannya saja.


Setelah puas menjahili Gavin yang sedang tertidur kini dirinya dibuat terkejut saat tiba tiba Gavin membuka mata. Tangan Zhie masih berada di rahang Gavin.


Segera mungkin Zhie menarik tangannya. Namun sial hari ini ia tertangkap basah. Membuatnya menyesali dan merutuki dirinya sendiri.


"Sudah puas? " tanya Gavin menyeringai sementara tangan Zhie yang hendak ditarik kini di genggam erat oleh Gavin.


"A..aku.."


Sial aku kehabisan kata kata**!


"Tidak perlu gugup kau bisa bebas menyentuhku. " tersenyum menampakkan deretan gigi rapih dan putihnya.


Zhie menarik tubuhnya untuk segera bangun. Namun gerakannya terhenti saat merasakan berat di kakinya. Ternyata kakinya sengaja ditindih oleh Gavin untuk mengunci rapat tubuhnya.


"O..om lepaskan aku! Aku mau mandi nanti aku telat kuliah! " berontak Zhie.


"Kuliah? Siapa yang mengijinkannya? "


Zhie menghentikan tangannya yang memukul mukul lengan kekar Gavin. Mengernyitkan keningnya.


"Apa maksudmu?"


"Hari ini kau tetap dirumah saja. Aku yakin Daniel masih mengejarmu sampai saat ini. "


"Apa! Bagaimana bisa! Aku harus tetap kuliah om aku mohonn.." ucap Zhie dengan wajah memelas.


"Tidak! " jawab Gavin secepat kilat.


"Bagaimana kakimu? " lanjutnya.


"Baik." Zhie memasang wajah murung. Mengerucutkan bibirnya.


Gavin terekeh melihat Zhie yang merajuk. "Kau merajuk? "


Mata Zhie menatap Gavin sekilas. Sinis.


"Tidak."


"Baiklah kau boleh keluar, " Tangan Gavin membelai pucuk kepala Zhie dan mengacak rambutnya.


"Huaaa yang benar?! " jawab Zhie dengan wajah berseri. Matanya mengerjap beberapa kali.


"Iya bersamaku. "


"Ah tidak seru! " Zhie melipat tangannya didepan dada.


"Apanya yang tidak seru hah?!"


Suaranya berteriak keras. Memenuhi langit langit kamar. Benar benar membuat nyali Zhie menciut. Baiklah nyawaku hanya satu lebih baik aku mengalah saja.


"Ah tidak tidak om. Baiklah aku akan ikut denganmu. "


****


Di Perusahaan Su Jien.


Semua mata karyawan perusahaan menatap tak percaya melihat bosnya menggandeng istrinya. Bukan seperti suami istri tepatnya seperti seorang ayah menggandeng anaknya.


"Kau duduk di sini saja dan tunggu aku sampai selesai meeting. Itu akan sedikit lama jadi bersabarlah. "


Zhie menuruti intruksi dari Gavin. Mulai mendudukkan pantatnya di sofa empuk itu. Terlihat beberapa tumpukan majalah kecantikan.


Apa om itu sudah tidak waras? Untuk apa dia menyimpan majalah kecantikan? Tidak mungkin kan dia membacanya.


Tangannya mulai mengambil beberapa majalah kecantikan itu setelah kepergian Gavin yang akan meeting. Sedikit membacanya dan mengamatinya gambar gambar di majalah itu untuk sedikit menghilangkan rasa bosan dan kantuknya.


Membuka lembaran demi lembaran majalah itu. Tatapan Zhie membeku di sebuah foto seorang model cantik yang tak lain Li Xiaoi.


Jadi dia model? Cih aku ternyata tidak ada apa apanya dibandingkan dia.


2 jam sudah berlalu. Rasa kantuk yang semakin menjalar hampir membuat Zhie tertidur. Gavin telah kembali sejak setengah jam yang lalu namun masih sibuk dengan berkas berkasnya.


"Om aku sudah sangat muak! Disini sungguh sangat membosankan sekali! " celoteh Zhie yang sudah terlalu muak berlama lama diruangan itu.


"Biasanya kau selalu sibuk dengan game mu kenapa kau tidak bermain game saja. " balas Gavin tanpa mengalihkan tatapan dari berkas berkas ditangannya yang membuatnya terlalu sibuk.


"Kalau saja aku punya kuota sudah pasti aku bermain game dari tadi! " umpat Zhie kesal.


"Dasar b*doh! Kau pikir aku tidak melengkapi kantorku dengan wi-fi hah?! "


Oh iya kenapa tidak terpikir sama sekali! Ah Zhie akhir akhir ini kau selalu terlihat bodoh didepan om itu!


Dengan lentik Zhie memainkan jarinya diponselnya. Setelah menyambungkan wi-fi di ponselnya Zhie langsung membuka game nya untuk menghilangkan bosan dan jenuhnya.


"Aku masih bosan! " kata Zhie setelah bermain game selama sekitar 1 jam namun justru membuat kantuknya menyerang kembali.


"Astaga Zhie bisa kau diam! Dari tadi kau bilang aku bosan aku bosan sampai isi kepalaku penuh dengan ocehanmu! "


Zhie menekuk wajahnya. Memajukan bibirnya sedikit. Seiring dengan hembusan napas kasar yang dikeluarkan Zhie.


Brakk!


Suara pintu terbuka dengan paksa sekaligus kasar. Tampak seorang wanita dengan tampilan glamor dan barang barang branded yang dia kenakan sudah pasti dia bukan orang biasa.


Zhie mengerjapkan matanya beberapa kali setelah melihat Li Xiaoi masuk dengan wajah kusut dan murung. Entah dia menyadari keberadaan dirinya atau tidak. Sepertinya tidak.


"Gavin aku sangat merindukanmu!"


Tubuh wanita itu menghambur memeluk tubuh Gavin. Dengan sangat tepat wanita itu mendaratkan bibirnya tepat di bibir Gavin. Zhie melihat pemandangan itu dengan tatapan dingin. Tubuhnya kaku seperti tidak bisa digerakkan.


Pria itu hanya diam mematung tanpa ada tolakan dengan perlakuan wanita itu yang sudah kelewat batas. Zhie sebenarnya tidak peduli apa hubungan wanita itu dengan suaminya. Tapi entah kenapa rasanya sangat sesak dan juga mengesalkan.


Selang beberapa waktu setelah wanita itu melepaskan pelukannya Gavin masih mengunci bibirnya rapat rapat. Seperti tidak tertarik untuk berbicara dan mencoba menjelaskan kepada Zhie.


Cih berharap sekali kau Zhie! Om itu tidak akan perduli dengan kondisimu oke.


Semakin lama Zhie semakin tidak bisa menahan rasa kesalnya. Rasanya ingin sekali menarik rambut wanita itu dan menyeretnya keluar.


Ada apa sih ini kenapa rasanya aku sangat kesal**!


"A..a..aku keluar dulu. " Akhirnya Zhie mencoba membuka mulutnya. Meninggalkan dua insan yang mungkin masih saling mencintai itu.


"Zhie? Ka..kau ada disini? Maaf aku..aku tidak mengetahui itu. " dengan entengnya Li Xiaoi berkata dan sok memasang wajah penuh penyesalan.


"Zhie tunggu! " Dengan cekatan Gavin sedikit berlari mengejar Zhie yang sudah memegang knop pintu dan siap keluar.


"Lepaskan!" Tubuh Zhie terasa bergetar. Mulutnya seolah sangat berat untuk berucap.


"Aku bisa jelaskan semuanya. Aku mohon jangan pergi. " kata Gavin memohon.


Cih ada apa dengan diriku?Kenapa aku sekesal ini sih! Ingat Zhie tujuanmu adalah menyatukan Li Xiaoi kembali dengan Gavin agar kau terbebas.


Rasanya hati Zhie tidak merespon jalan pikirannya dan membiarkan hatinya yang bertindak kali ini. Matanya memang tidak bisa mengeluarkan air mata karena ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya kali ini.