It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
TAMAN



Zhie berlari dengan terburu buru. Melewati lobby yang tampak ada beberapa karyawan yang memandangnya aneh tapi hanya dengan lirikan. Mungkin takut dikata lancang.


Tubuhnya terasa bergetar dan lemas untuk mengingat kejadian tadi. Yang ia pikirkan saat ini adalah pergi dan menjauh. Menenangkan perasaan aneh pada hatinya yang tak semestinya terjadi.


Kini Zhie telat masuk ke dalam taxi. Wajahnya pucat pasi. Meremas ponsel yang ada di tangannya sampai telapak tangannya ikut memucat.


"Jadi tujuannya ini kemana mbak? " tanya sopir taxi itu.


"Jalan aja terus pak. Jangan khawatir saya pasti akan membayarnya. "


Setelah uring uringan mencari tempat dimana ia harus pergi akhirnya Zhie memutuskan untuk pergi ke sebuah taman yang jaraknya lumayan jauh dari pusat kota tempatnya tinggal.


Usai membayar Zhie langsung berjalan tanpa arah menyusuri taman itu. Dari jauh terlihat ada seseorang dengan kanvas didepannya. Zhie memilih duduk di sebuah bangku taman dekat pria yang sedang melukis itu.


Taman itu terlalu ramai seperti biasanya. Mungkin karena hari ini bukan hari libur. Lagipula langit sedikit mendung. Zhie memejamkan matanya sembari bersandar ke bangku taman itu.


Hampir 2 jam Zhie tidak bergerak dan mengubah posisinya. Tetap memejamkan matanya. Tapi tidak juga tertidur. Hanya ingin meluapkan rasa lelah dan kesalnya.


"Nona apa anda masih tertidur? " tanya seorang pria tiba tiba yang membuat Zhie mau tidak mau membuka matanya dan mengerjap beberapa kali.


"Oh tidak tuan, sebenarnya saya tidak tertidur. Hanya ingin melepaskan semua masalah karena tempat ini sangat cocok dan tidak begitu ramai. "


"Maaf sepertinya saya telat mengganggu anda, " kata pria itu dengan sopan.


"Ah tidak tuan. Tidak sama sekali. " Dengan sedikit mengangkat senyum.


"Apa anda keberatan jika saya melukis anda tadi? "


Zhie terlonjak kaget. "Maksud anda? "


Pria itu pergi kembali ke kanvasnya dan mengambilnya. Membawa hasil lukisan itu ke hadapan Zhie.


"Indah sekali lukisanmu. " kata Zhie terkagum dengan lukisannya yang sangat terlihat seperti nyata. Ajaib sekali tangannya.


"Benarkah? Terimakasih atas pujian anda nona. " jawab pria itu tersenyum.


"Anda pasti ikut sekolah melukis, "


Pria itu tersenyum lagi. "Ah tidak nona. Saya tidak pernah ikut sekolah melukis. "


Zhie terkejut. Lukisannya sangat bagus tapi kenapa dia tidak sekolah melukis.


"Kenapa? Lukisanmu sangat bagus kenapa tidak ikut sekolah melukis saja? Itu akan sangat membantu keuanganmu untuk kedepannya. "


"Saya tidak punya cukup biaya untuk sekolah melukis. "


Zhie terbengong dengan jawaban pria itu. Sangat disayangkan bakatnya yang benar benar tidak kalah dengan seorang pelukis tapi tidak punya biaya untuk mengembangkan bakatnya. Membuat rasa iba muncul di benak Zhie.


"Berapa usia anda? " tanya Zhie.


"Saya masih 17 tahun, lalu anda? "


"17 tahun?? Kau masih SMA?"


"Iya, sepertinya anda juga masih muda dan perkiraan saya anda masih berusia 17 atau 18 tahun. "


"Oh saya 19 tahun, "


"Oh iya nama anda siapa? "


"Aku Zhie, kau?"


Pria itu mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Zhie.


"Aku Johan, senang berkenalan dengan anda."


Zhie mengernyitkan dahinya. "Kenapa canggung? Kau bisa memanggilku Zhie tanpa harus berbahasa se-formal itu."


"Kenapa? Apa aku terlihat setua itu?" Zhie sedikit protes.


"Tidak sama sekali, kau bahkan terlihat seperti seusia ku." canda pria itu yang disusul tawa renyahnya.


"Benarkah? Padahal aku sudah menikah." jawab Zhie ikut tertawa dan hanyut dalam candaan pria itu.


"Menikah? Kau menikah di usiamu yang masih tergolong sangat muda ini?" tanya Johan sedikit terkejut.


Zhie menghentikan tawanya. Hatinya terasa nyeri lagi mengingat pernikahan yang tak diinginkannya dan setelah mengiyakan pernikahan itu justru ia harus siap dihadapkan dengan pria yang tak berperasaan.


"Aku.."


Kali ini Zhie benar benar kehabisan kata kata. Bagaimana caranya mengungkapkan kejadian sebenarnya. Mulutnya terasa terkunci untuk mengatakannya.


"Ah tidak perlu dibahas kak, kau bisa menjelaskannya lain kali kalau kita bertemu lagi."


Johan tersenyum hangat dan membujuk Zhie untuk melupakan pertanyaannya itu. Dengan canggung Zhie membalas senyuman pria itu. Hatinya kembali berdenyut sakit.


Suara petir yang beriringan dengan hujan yang mulai membasahi bumi. Zhie dan Johan berlari ke sebuah warung yang letaknya tak jauh dari situ. Badannya terasa lengket karena basah terkena hujan dan bercampur dengan tubuhnya yang sudah berkeringat. Sangat tidak nyaman.


Sembari menunggu hujan reda Zhie dan Johan kembali berbincang bincang dan sesekali bercanda. Tak terasa Zhie telah menghabiskan waktu selama 3 jam di warung itu. Johan adalah sosok pria yang ceria dan penuh canda tawa. Zhie yakin pasti Johan memiliki banyak teman disekolahnya.


Suara ponsel berdering mengejutkan tawa mereka berdua. Bukan ponsel milik Zhie melainkan milik Johan.


"Halo?"


"....."


"Apa? Baiklah aku akan segera pulang!"


Selepas menutup telfon wajah Johan terlihat panik dan resah. Membuat Zhie bertanya tanya kenapa Johan sepanik itu.


"Kenapa?" tanya Zhie kebingungan.


"Aku harus segera pulang. Ibuku kembali drop dan aku harus segera membawanya ke rumah sakit."


Zhie terkejut dan ber-oh karena bingung.


"Apa kau perlu bantuanku?" ujar Zhie menawarkan diri.


Johan menggeleng cepat sembari membereskan perkakas alat lukisnya.


"Tidak perlu kak biar aku saja. Terimakasih atas traktiran dan tawarannya." Johan kembali menyuguhkan senyum kepada Zhie.


"Baiklah kau hati-hati semoga ibumu cepat sembuh. "


Johan hanya tersenyum dan berlari menerobos hujan yang memang masih sedikit deras. Pandangan Zhie kini beralih ke jam tangan yang melingkar di tangannya.


Deg.


Sudah pukul 3 lebih 15 menit. Ia tidak menyadari karena asik mengobrol dengan Johan. Ia juga sempat meminta nomornya karena Zhie sempat menawarkan untuk membantunya mendapatkan beasiswa sekolah melukis.


Dengan sangat terpaksa Zhie berlari ke pinggiran jalan raya dan berhenti sejenak di halte. Setelah melihat taxi ia langsung menghentikannya dan segera masuk. Tubuhnya terasa menggigil karena kehujanan. Bahkan buku buku tangannya keriput dan pucat.


Setelah sampai di rumah Gavin ia segera membayar dan keluar menghambur ke arah gerbang. Penjaga yang tampak sedang berjaga dengan cepat membukakan gerbang setelah menyiapkan payung untuk Zhie.


Hawa dingin kian merasuk ke tubuh Zhie. Tubuhnya sampai terasa kaku kedinginan dan kepalanya berdenyut. Lagipun ia belum makan apa apa selain minum teh hangat di warung tadi.


Tubuhnya yang lemas berusaha keras menaiki anak tangga yang jumlahnya lumayan banyak. Terasa sempoyongan dan pandangannya mulai kabur.


Saat tangannya meraih knop pintu dan berhasil terbuka dilihatnya Gavin tengah berjalan mondar mandir di depan tempat tidur dengan tangannya menggenggam ponsel.


"Zhie?!" pekik Gavin. Setelahnya Zhie tidak lagi mendengar suara Gavin. Pandangannya gelap dan seketika tubuhnya ambruk.