
Gavin sudah duduk di pinggiran tempat tidur dan masih tersenyum geli bagaimana bisa gadis itu mengelabuhinya. Sampai akhirnya suara pintu kamar mandi terbuka dan dilihatnya gadis itu dengan balutan piyama yang minim (memang sengaja ia memilihkan piyama itu untuk istrinya.)
Terlihat Zhie menarik narik ujung bajunya dan memegangi kerah piyamanya yang terlalu kebawah. Ditambah lagi dengan bahannya yang tergolong tipis sehingga dengan jelas menampakkan cetakan pakaian dalamnya.
Gavin tidak menyia-nyiakan pemandangan itu. Dilihatnya dengan saksama sampai ia benar benar puas. Lamunannya terpecahkan saat gadis itu berbicara setengah berteriak.
"Om kenapa piyamaku seperti ini?! " protes Zhie.
Gavin hanya menatap Zhie sembari tersenyum. Kakinya melangkah untuk mendekat. Zhie yang melihat Gavin mendekat kini justru ketakutan dan memundurkan tubuhnya sampai terantuk dinding dibelakangnya.
"Ma..mau...a..apa kau om! " ujar Zhie terbata.
"Kau sangat cantik. " kata Gavin setelah tubuhnya hanya berjarak beberapa cm dengan Zhie.
Zhie menundukkan kepalanya dalam dalam. Sementara tangannya mencengkram piyamanya kuat kuat. Tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Ayo tidur, aku tidak akan menyentuhmu lebih. Kau tidak perlu takut. " kata Gavin meyakinkan.
Zhie menengadahkan kepalanya agar dapat melihat wajah Gavin. Ada sorot ketulusan di mata Gavin dan membuat ketakutan Zhie kian berangsur hilang.
Zhie membaringkan tubuhnya sampai pinggir ujung tempat tidur. Berusaha untuk menjaga jarak dengan Gavin. Saat Gavin memilih mendekati tubuh mungil Zhie justru ia semakin mundur tanpa ia sadari tubuhnya sudah berada di ujung tempat tidur.
"Kyaaa!! " teriak Zhie saat tubuhnya terhuyung ke belakang dan pantatnya terantuk lantai. Pinggangnya terasa seperti akan patah.
"Buahahaha! " balas Gavin tertawa sampai suaranya memenuhi seisi kamar.
"Kau jahat sekali om! Aduh sakit sekali pinggangku! " kata Zhie memegangi pinggangnya dan berusaha berdiri.
Gavin mengulurkan tangannya namun ditepis segera oleh Zhie. Wajah Zhie terlihat ditekuk dan bibirnya mengerucut.
Menggemaskan sekali. Gavin
"Menyingkirlah om aku mau tidur! Pinggangku berasa seperti patah. " omel Zhie yang kini duduk sembari memegangi pinggangnya.
"Sudah kubilang mendekat malah kau menjauhiku. " balas Gavin dengan sisa sisa tertawa.
Zhie hanya diam dan mulai merebahkan tubuhnya sembari menarik selimutnya sampai ke leher. Matanya mulai memejam tanpa memperdulikan ocehan Gavin lagi.
****
Pagi datang begitu cepat. Matahari sudah mulai naik dan memancarkan sinarnya. Cahaya terangnya memasuki kamar Zhie melalui celah celah jendela menerobos tirai putih polos kamarnya.
Zhie mengerjapkan matanya dan menggeliat pelan. Dilihatnya sebelahnya sudah kosong.
Kemana om itu pergi. pikir Zhie
Tangannya meraih ponsel jadulnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Membuka akun sosmednya dan mulai mengetikkan jarinya membalas satu persatu pesan group yang berisi sahabat sahabatnya.
Zivana.
"Aduh penganten barunya udah bangun aja nih."
Celline.
"Gimana nih malem pertamanya? "
Helen.
"Iya ceritain dong nyonya Adinata"
Kenzhie.
"Astaga otak kalian mesum ya ternyata gila masa yang ditanyain malem pertamanya sih"
Celline.
Kenzhie.
"Makanya gih buruan pada nikah🤣"
Zhie meletakkan ponselnya setelah merasa obrolan teman temannya itu sudah ngelantur. Ia menarik rambutnya kebelakang dan mengikatnya acak. Pinggangnya masih terasa sakit dan membuatnya berjalan sedikit terpincang-pincang.
Perlahan Zhie menyibakkan tirai putih polos yang menutupi pintu kaca menuju balkonnya. Sinar matahari mulai naik menerpa tubuh Zhie dan membuat kehangatan tersendiri.
Zhie tersenyum puas melihat sunrise yang terpampang lumayan jelas dari balkonnya. Menghirup udara segar pagi hari selolah olah menyiapkan stok udara segar untuk paru parunya.
Suara ketukan pintu mengejutkan Zhie yang sedang menikmati sunrise. Ia menoleh ke arah pintu. Melangkahkan kakinya dan bersiap membukakan pintu.
"Nona, Nyonya besar meminta anda dan tuan untuk segera turun dan sarapan bersama. " kata pelayan itu sopan. Dari wajahnya bisa dilihat pelayan itu berusia sekitar 40 tahunan.
Zhie mengangguk sembari tersenyum.
"Baiklah sebentar aku akan mandi dulu. "
Pintu sudah tertutup kembali dan pandangannya kini berpindah ke pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Dapat didengarnya suara gemercik air yang berjatuhan dari shower. Sudah dipastikan om itu masih mandi sekarang.
Langkahnya kian mendekati pintu kamar mandi yang kemudian ia ketok pelan.
Tok tok tok.
"Om cepattt! Aku juga ingin mandi! " rengek Zhie gemas.
Setelah hampir 5 menit tanpa adanya jawaban dari dalam pintu kamar mandi sudah terbuka. Menampakkan pria bertubuh atletis bertelanjang dada dengan aroma mint yang menyeruak seluruh ruangan itu.
Dengan gelagapan Zhie berjalan ke arah kamar mandi tanpa berani menatap tubuh om itu yang kini berstatus suaminya. Langkahnya terhenti saat tangan Gavin menarik lengannya.
"Mau ditemani? " tanya Gavin tersenyum jahil.
"Ka..kauu! " balas Zhie gugup.
Gavin terkekeh melihat wajah Zhie merah padam menahan malu. Bahkan telinganya ikut memerah.
"Kenapa wajahmu merah? Aku kan hanya bercanda! " kata Gavin yang kini tertawa sampai suaranya memenuhi langit langit kamar.
Zhie segera menepis tangan kekar Gavin dan masuk kamar mandi. Ia tidak lupa juga menguncinya. Persiapan, siapa tahu nanti om itu masuk dan menggodanya lagi.
Pagi ini Zhie memutuskan untuk berendam sebentar. Tangannya sudah memutar kran dan mengisi bathup itu sampai setengah dan meneteskan beberapa tetes aromaterapi yang terletak tidak jauh dari situ.
Hampir 15 menit Zhie menyudahi ritual mandinya dan berjalan keluar hanya menggunakan jubah mandi saja. Kepalanya celingukan mencari keberadaan om itu. Bola matanya berputar kesana kemari namun ia tak melihat batang hidung om itu. Ia bernapas lega.
Zhie memutuskan untuk memakai pakaiannya disitu saja setelah memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu. Perlahan tangannya menarik tali dan terikat di pinggangnya dan meloloskan tubuhnya dari jubah mandi itu.
Matanya kini menatap tubuhnya yang sudah berbalut gaun rumahan. Sebenarnya ia kurang nyaman namun ia harus terbiasa. Setelah puas bercermin dan mengoreksi tampilannya tubuhnya berjingkit terkejut saat mendengar suara yang asalnya dari kamar.
"Sudah selesai? "
Zhie menoleh mencari sumber suara. Terlihat seorang pria dengan tampilan kemeja yang berbalut jas hitam polos dan celana panjang menyelimuti tubuhnya. Zhie terkejut bukan main setelah mengetahui ternyata ada yang memperhatikannya sedari ia melepas jubah mandinya sampai ia memakai gaun coklat polosnya yang simpel.
"Kyaaa!!! Sejak kapan kau disitu! " teriak Zhie melengking sembari menyilangkan tangannya menutupi bagian dadanya.
"Apa yang harus kau tutupi? Aku sudah melihat semuanya, " kata Gavin dengan senyum menyeringai.
"Ka..kau? Kau me..melihatnya? " tanya Zhie gugup. Dadanya berdebar dua kali lebih cepat. Memacu pernapasannya yang mulai memburu.
Gavin hanya tersenyum dan memijit keningnya yang tidak pening. Sementara Zhie ditempatnya memaku tak percaya. Matanya memerah dan mulai terisi genangan air mata yang siap jatuh dan mengalir.
Like nya jangan lupa ya gaiss ngga berat ko cuma like dan vote ^_^ Oiya kalau sukak jangan lupa favorit kan cerita ini ya😍
Makasih banget buat kalian udah support author untuk terus berkarya😘