
Gavin berlari menyusuri lorong apartemen. Ia tahu kamar apartemen Daniel karena memang dulu ia sempat kesini sewaktu masih berteman baik dengan Daniel.
Langkahnya terhenti saat dilihatnya sebuah pintu. Matanya tertanam amarah dan kebencian seketika saat mengingat jeritan Zhie yang terdengar sangat miris.
Tangannya meraih knop pintu tapi pintu itu terkunci. Seolah sang empunya tahu akan ada orang datang. Dengan satu tendang pintu itu sudah terbuka.
Dilihatnya seorang gadis bertubuh mungil telah terkapar dilantai. Dengan wajah yang penuh tanda merah seperti bekas pukulan atau tamparan berkali kali. Pergelangan tangannya juga terlihat mengalirkan darah dari bekas sayatan rapih. Tidak banyak namun terlihat sangat perih.
Spontan Gavin meraih tubuh mungil Zhie ke dalam dekapannya. Dibawanya tubuh itu dengan perasaan tak karuan. Hatinya tersayat. Merasakan kesakitan seperti yang Zhie rasakan.
"Tunggu pembalasanku pria brengs*k!! " guman Gavin sembari membawa Zhie ke rumah sakit.
"Tuan apa perlu kita habisi pria itu sekarang? " tanya Marc yang masih fokus mengemudi.
"Tidak. Kita fokuskan kepada Zhie sekarang. Dia pasti sangat terpukul. " jawab Gavin dengan tatapan kosong menatap wajah Zhie. Tangannya membelai lembut rambut lurus Zhie.
Gavin menunggumu dokter yang menangani Zhie di dalam. Pikirannya masih sangat kacau. Hari ini begitu banyak kejadian tak terduga. Gavin mengusap wajahnya kasar.
"Apa anda keluarga dari Nona Zhie? " tanya dokter itu.
"Iya dok saya calon suaminya. " Gavin berdiri dari duduknya. Diikuti oleh Sekretaris Marc.
"Baiklah, semuanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada luka yang parah di tubuh Nona Zhie. Tapi sepertinya pasien akan mengalami trauma. Apa pasien baru saja dirampok atau mengalami penyiksaan? "
"Di...dia diculik dok. Apa saya boleh masuk sekarang? "
"Silahkan tuan. " kata Dokter itu sembari pergi meninggalkan tempat itu.
Gavin masuk ke ruangan dimana Zhie dirawat. Matanya merah padam menahan emosi.
Beraninya dia menyentuh wanitaku! Akan kubuat tanganmu patah setelah ini dasar pria brengsek!
Tangan kekar milik Gavin menggenggam tangan kecil Zhie. Membelainya lalu mengecup sekilas. Karena detik berikutnya Zhie terlihat mengerjapkan matanya.
"Zhie? " panggil Gavin.
Tanpa menjawab Zhie menangis didepan Gavin. Tangannya meraih leher Gavin lalu memeluknya erat. Gavin terpaku. Berusaha mencerna keadaan saat ini. Tanpa ia sadari bibirnya terangkat. Senyum tipis tersungging di ujung bibirnya.
"Hikss..Hikss...A..aku sangat takut om..." kata Zhie dalam pelukan.
Dengan antusias Gavin membalas pelukan Zhie. Menepuk punggung itu lembut.
"Zhie..kau tak perlu takut sekarang. Aku akan selalu melindungimu. "
"Hiks..hiks...aku takut dia kembali dan menamparku berulang kali lalu menarik kasar rambutku.." adu Zhie.
"Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu. Tenanglah sekarang kau aman disini. "
Setelah hampir 10 menit Zhie melepas pelukan itu. Wajahnya merona malu. Zhie menundukkan kepalanya dalam dalam. Rasanya ingin sekali ia beringsut menenggelamkan kepalanya di bantal. Ia sangat malu atas perbuatannya yang tanpa ia sadari.
Gavin yang menyadari wajah Zhie yang merona malu hanya terkekeh sekaligus senang. Ini kali pertamanya Zhie memeluknya tanpa ia minta.
Waktu demi waktu sudah belalu. Kini jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Zhie yang sudah bosan didalam ruangan itu kini mulai merengek pulang kepada Gavin.
"Om aku ingin pulang, ayolah aku sudah baik baik saja. " rengek Zhie.
"Tidak." jawab Gavin singkat dan tegas. Ia masih khawatir dengan keadaan Zhie.
"Sudah kubilang tidak! " kata Gavin menaikan satu oktaf suaranya. Tapi bukan maksudnya untuk membentak Zhie.
"Ka..kau marah pa..padaku? " tanya Zhie ketakutan.
Gavin menatap wajah takut Zhie. Ia menyesali perkataannya tadi. Zhie. mengira dirinya marah dan membentaknya. Mungkin Zhie masih trauma karena dibentak dan diteriaki oleh Daniel.
"Zhie, bukan maksudku untuk meneriakimu dan menakut-nakutimu. Aku hanya khawatir dengan kondisimu. "
"A..aku ingin pulang saja om. A..aku ingin bertemu mommy. "
Gavin menghela napas menghadapi sikap keras kepala Zhie. "Huft. Baiklah aku akan menebus obat dulu kau tetap disini dan jangan kemana mana. Jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja Marc, ia ada diluar. "
Zhie mengangguk paham.
****
Mobil mewah Gavin mulai memasuki halaman rumah Zhie.
Saat sudah berhenti tepat di depan rumah dengan segera Zhie bersiap akan turun. Namun ia kembali duduk saat Gavin memintanya untuk tetap duduk sementara Gavin keluar.
Gavin membuka pintu mobil sebelahnya. Diraihnya tubuh Zhie.
"Apa yang kau lakukan om! Turunkan aku sekarang. Aku bisa berjalan sendiri. " berontak Zhie.
"Tetap diam diposisimu jika kau tak ingin jatuh. " ancam Gavin yang membuat Zhie memilih untuk tetap diam dan membiarkan tubuh tegap Gavin menggendongnya.
Saat pintu rumah terbuka Olivia melihat anaknya berada di gendongan Gavin. Wajahnya penuh bekas pukulan dan tamparan. Tangannya juga sudah diperban untuk menutupi luka sayatan.
"Astaga Zhie! Apa yang sudah terjadi! "
Gavin menurunkan tubuh Zhie di sofa dengan pelan. Olivia segera menghampiri anaknya dan menyerbunya dengan deretan pertanyaan. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Mommy, Zhie tidak apa apa. Om Gavin sudah menyelamatkanku. " balas Zhie tersenyum ke arah Gavin.
Sial! Manis sekali!
"Gavin sebenarnya apa yang sudaj terjadi? Kenapa Zhie bisa sampai seperti ini? "
"Daniel pelakunya bu." jawab Gavin kembali menahan emosi mengingat bagaimana Zhie berteriak memohon dan kesakitan.
"Daniel?! Sudah mommy bilang bukan?! Daniel itu bukan pria baik untukmu! Sekarang bahkan dia sudah berani melukaimu! Mommy tidak mau tahu segera tinggalkan dia! Kalau tidak ada Gavin entah apa yang akan terjadi padamu. "
"Mommy,," kata Zhie menggenggam erat tangan Olivia.
"Ingat Zhie kau akan segera menikah, jangan membuat suamimu kecewa, " Olivia mengelus rambut dan menariknya ke belakang telinga.
"Berjanjilah pada mommy mu ini sayang. " ujar Olivia.
Zhie tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Ia memang akan segera menikah, tapi perasaan cintanya hanya untuk Daniel. Meskipun Daniel telah merendahkannya.
"Zhie berjanjilah sayang, katakan kau akan menuruti kata mommy mu ini, " kata Olivia menangis.
"Iya mom, Zhie berjanji. " jawab Zhie terpaksa saat melihat mommy nya menangis. Hatinya terasa berdenyut sakit jika melihat mommy nya menangis.
Gavin hanya terpaku di tempatnya mendengar Zhie berjanji menyanggupi permintaan Olivia. Bibirnya kembali menyunggingkan senyum yang tanpa disadari oleh Zhie maupun Olivia.