
Jarum jam menujukan pukul 06.00
Sudah siang apabila bagi orang orang, lain dengan Zhie.Justru dirinya masih terlelap dibawah selimutnya.Mommy nya, Olivia memasuki kamar putrinya dan dilihatnya putrinya yang masih tertidur dengan sangat nyenyak.
"Astaga sayang bangun! Ini sudah siang? Bukankah kau harus kuliah hari ini?!" Panggil mommy nya yang geram melihat tingkah putrinya yang masih kekanak kanakan.Sudah beberapa kali ia memanggil nama putrinya itu, namun tak kunjung ada sahutan.Dengan terpaksa mommy nya menarik selimut yang menutupi tubuh mungil Zhie.
"Ayo cepat bangun Zhie! Kau sudah besar bukan anak kecil lagi jadi bersikaplah seperti orang dewasa!" omel mommy nya.
"Hoammm..mom jangan ditarik selimutnya ini sangat dingin" gumam Zhie yang tidak terlalu jelas.
Olivia hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
"Zhie, cepatlah bangun lalu mandi dan segeralah sarapan.Mommy sudah menyiapkannya." kata Olivia sembari menutup pintu kamar putrinya.
Dengan nyawa yang belum terkumpul seutuhnya, Zhie mencoba membuka matanya. Setelah dipastikan nyawanya sudah terkumpul semua, ia mengambil ikat rambut di meja dekat tempat tidurnya lalu mengikat asal rambutnya.Dengan malas ia beranjak dari tempat tidur, dan...
"Srettt! Ahh!" pekik Zhie.Ia lupa kalau kemarin ia sempat menginjak pecahan kaca.Tak sesuai perkiraannya ternyata bekas lukanya itu justru semakin terasa perih menyeruak.
Zhie tetap memaksa berjalan dengan kaki terpincang-pincang."Ah sungguh merepotkan sekali!" desisnya.
Setelah selesai bersiap siap Zhie segera menuruni anak tangga dengan hati hati.
***
Di Kampus.
Zhie yang pikirannya sudah terlihat normal dari kemarin memutuskan untuk tetap berangkat kuliah.Ia tak ingin berlama lama kuliah, dirinya ingin cepat cepat lulus dan menggapai mimpinya.Saat ia baru saja duduk setelah kelelahan berjalan dengan kaki terpincang-pincang dikejutkan dengan suara super cempreng milik Ziva.
"Aaaaa!! Zhie!!! Akhirnya!!" teriak Ziva gembira.
Zhie berjingkit terkejut mendengar suara teriakan super melengking Ziva.
"Astaga Ziva! Kau sangat mengejutkanku!"
"Aaaaa aku sungguh senang sekarang!!" Ziva tetap berteriak histeris.
"Ziva pelankan suaramu!Apa kau tak malu lihatlah mereka memandangi kita!" desis Zhie kesal.
"Okey baiklah! Aku ingin memberikan kabar gembira kepadamu Zhie!Kau tahu Reyhan kan?" tanya Ziva dengan wajah serius.
"Ah iya pria yang sedari lama sudah kau suka? Yang anak kedokteran itu? Kenapa? Dia sudah punya pacar? Ah sudah kuduga" jawab Zhie terbahak memegangi perutnya.
Ziva memasang wajah cemberut mendengar ejekan Zhie.
"No..No..Kau salah besar Zhie" jawab Ziva yang kali ini tak kalah terbahak sampai memukul mukul pundak sahabatnya itu.
"Lalu?" tanya Zhie bingung.
"Dia menyukaiku!! Aaaa tadi malam dia menembakku!! Astaga aku hampir meninggal saat dia mengatakan bahwa dia menyukaiku dan menginginkanku menjadi pacarnya!!" jawab Ziva sumringah banyak sekali sorot kebahagiaan yang terpampang di manik matanya.
"Buahaha...Kau sedang membual apa sekarang Va!" seketika Zhie tertawa terpingkal pingkal dan mengira bahwa sahabatnya itu sedang membual.
"Aishh Zhie!! Aku serius! Tadi malam aku ngedate dengannya, aku ingin memberitahu mu tentang Reyhan yang menyatakan perasaannya kepadaku tapi ponselmu tak aktif" jelas Ziva
"Ah ponselku tak aktif? mana mungkin, biar aku cek dulu tadi pagi aku belum sempat membuka ponsel." tanpa pikir panjang Zhie langsung menggeledah tas nya dan tak menemukan ponselnya.(Kemana ponselku) desisnya kesal.
"Aku rasa aku tak membawa ponselku Va,"
"Ceroboh sekali kau, bagaimana kalau ada yang menghubungimu dan membutuhkanmu" jawab Ziva menepuk dahinya.
Zhie sedang terbengong karena kecerobohannya. Tak biasanya ia lupa tidak membawa ponsel.
"Zhie!!" seseorang memanggil namanya dan dilihatnya arah suara itu. Ternyata itu Ayra teman sekelasnya.
"Ada apa Ra?" dilihatnya wajah Ayra yang terlihat pucat dan tergesa gesa.
"Nyariin aku? siapa?" tanya Zhie penasaran.
"Di depan itu dia nunggu di koridor, mending temuin aja dulu deh" kata Ayra yang sudah normal napasnya.
Zhie berusaha dengan cepat melangkahkan kakinya meski terasa perih dan nyeri.Matanya dibuat terbelalak saat melihat sosok pria dengan jas hitam dan kacamata hitam yang sedang berdiri bersandar di tembok.
(Apaan apaan dia! beraninya menemuiku disini! apa dia sengaja?!) desis Zhie kesal saat melihat sosok Gavin disana.
"Akhirnya kita bertemu lagi Nona Zhie," kata Gavin tersenyum menyeringai.
(Heii Om bisakah kau buang saja kebiasaan senyum menyeringaimu? Itu sungguh membuatku merinding.) gumam Zhie.
"Ada apa kau kesini Om?" tanya Zhie.
"Apa maksudmu memanggilku Om? Aku tak setua itu cih," desis Gavin kesal.
"Sudahlah, lalu apa tujuanmu datang kesini?" tanya Zhie to the point.
"Aku ingin menjemputmu." jawab Gavin singkat.
"Apa?! Untuk apa Om? Aku membawa mobil sendiri dan mengapa kau tak mengabariku jika kau ingin menemuiku?"
"Apa kau tuli sehingga tak mendengar suara dering ponselmu? Aku menelfonmu puluhan kali dan kau tetap tak menjawab lalu tiba tiba ponselmu tak aktif, Apa sampai pagi ini kau juga belum membaca pesanku?Cih apa gunanya ponselmu," Gavin berdecak kesal kepada Zhie karena semalam ia tak bisa dihubungi padahal ia ingin menyampaikan sesuatu.
"Itulah aku lupa tidak membawa ponselku," kata Zhie pelan.
"Dasar bodoh bagaimana kau bisa seceroboh itu sih, yasudah cepatlah ikut bersamaku." titah Gavin yang hampir menggandeng tangan Zhie.
Dengan gerakan reflek Zhie menjauhkan tangannya agar tak digandeng oleh Gavin. Sementara Gavin yang melihat tingkah Zhie menjadi gemas karena ia tak menyangka wajah sepolos ini keras kepala sekali.
"Ayolah aku ingin kita datang ke butik, kau harus mengukur badanmu agar bajunya pas.Kita tak punya waktu banyak, minggu depan adalah pernikahan kita." jelas Gavin.
Zhie yang mendengar penjelasan Gavin sontak terkejut dan menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Apa?! Apa kau gila Om? Bagaimana mungkin minggu depan itu terlalu cepat!" kata Zhie komplain tak terima.
"Itulah yang aku inginkan sayang," lagi lagi Gavin tersenyum menyeringai dan membuat bulu kuduk Zhie merinding.
Dengan cepat Gavin meraih tangan Zhie dan menggandengnya. Langkah kaki Gavin yang lebar dan cepat itu tak bisa Zhie imbangi lagipula kakinya sedang sakit sekarang.
"Shhh Ahh sakit!!" pekik Zhie kesakitan karena luka di kakinya terbuka kembali dan mengucurkan darah segar.
"Apa kau sedang berpura pura sekarang hah?" tanya Gavin dingin.
"Aku tak bohong, ini sungguh sakit." jawab Zhie menaikan kakinya dan melepas flatshoes miliknya yang terbuka lebar sehingga menampakkan luka yang masih mengucurkan darah itu.
Sontak Gavin ternganga melihat luka Zhie dan dengan cepat tangannya meraih pinggang Zhie dan menggendongnya.
"Kyaaa...Lepaskan aku Om! Heii turunkan aku cepat!!" kata Zhie berteriak heboh di pelukan Gavin.
"Diamlah! Atau aku akan menjatuhkan, hmm itu pasti sangat menyakitkan."
Kalimat Gavin membuat nyali Zhie menciut dan memilih untuk tetap diam.
"Marc! Ambilkan kotak P3K cepat!!" perintah Gavin kepada Sekretaris Marc.
Dengan sangat hati hati Gavin meletakkan tubuh mungil Zhie di kursi mobil bersamaan dengan datangnya Sekretaris Marc yang membawa kotak P3K.
Haiii guys Terimakasih sudah mampir!!ππ
Jangan lupa di like dan di vote yaaππ