It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
SENSITIF



Paginya Zhie berusaha untuk menghindari tatapan keluarganya dan memilih untuk berangkat pagi pagi sekali dengan alasan ada tes dadakan. Sesampainya di kampus Zhie masih memakai masker untuk menutupi lebamnya dan menimbulkan kecurigaan dari Ziva, sahabatnya.


"Zhie lepas saja maskermu, mengapa kau masih memakainya. " kata Ziva sambil menarik masker yang dipakai Zhie.


"Jangan!! " tolak Zhie namun telat. Maskernya telah terlepas dan menampakkan bagian wajah Zhie yang lebam kebiru biruan.


"Kyaaa!! Astaga!! Kau kenapa?! " pekik Ziva.


Zhie hanya menunduk dalam dalam mengingat kejadian tadi malam. Betapa malangnya dia dengan posisi jatuh tersungkur didepan orang orang terkena pukulan meleset.


Bukannya menjawab Zhie malah menangis tersedu sedu. Bahunya ikut terguncang akibat menahan tangis sekuat mungkin namun hatinya tidak bisa berbohong. Zhie sesegera mungkin merangkul sahabatnya itu dengan erat berusaha meluapkan segala unek uneknya.


Ziva hanya bisa mengelus pelan punggung Zhie yang terguncang akibat tangisnya. Air mata Zhie mulai terasa membasahi bajunya. Setelah beberapa lama Zhie menangis dipelukan Ziva, akhirnya ia mulai mengangkat wajahnya dan memandang sayu wajah Ziva.


"Zhie tenanglah aku disini untukmu, apapun yang terjadi kita akan melewati bersama. " kata Ziva menyemangati.


Zhie hanya tersenyum membalas Ziva dan mulai berusaha untuk terlihat baik baik saja.


Kring kring kring!


Bel sudah berbunyi dan menunjukkan jam makan siang dimulai. Zhie melangkahkan kakinya menuju kantin untuk mengisi perutnya yang meronta ronta menjerit kelaparan sebab ia belum sarapan.


(Krukk! Aku sangat lapar! ) gumam Zhie.


Setelah selesai memesan Zhie mendudukkan pantatnya di kursi kantin dengan senyaman mungkin. Ia juga sudah memakai kembali maskernya.


Sampai tiba tiba semua orang dibuat tercengang saat melihat sosok pria berjalan dengan dikawal oleh beberapa bodyguard. Zhie melotot tajam melihat pria itu.


Apa apaan dia! Ada apa lagi si maunya?!


Pria itu membuka kacamata hitamnya lalu mengedar pandangannya berusaha mencari seseorang. Lalu tatapannya terhenti saat dilihatnya seorang wanita sedang duduk dengan memakai masker.


Tanpa ragu pria itu berjalan kearah Zhie lalu menariknya. Zhie meronta ronta agar pria itu mau melepaskan genggamannya. Namun tenaganya tak sekuat pria itu hingga akhirnya ia pasrah dan mengikuti langkah pria itu. Semua orang melihat kejadian itu dengan tatapan bingung dan berbisik bisik.


Sesampainya diparkiran pria itu mulai melepaskan genggamannya lalu berusaha melepaskan masker yang melekat diwajah Zhie.


Seketika Zhie menahan tangan pria itu dan membuangnya kasar.


"Jauhkan tanganmu atau aku akan berteriak! " kata Zhie dengan nada tinggi.


Pria itu tersenyum miring. "Kau pikir aku takut? Bahkan aku bisa saja menghancurkan mimpimu dan keluargamu hari ini juga! "


Zhie tercengang dibuatnya. Ia tak menyangka bahwa pria itu akan mengancamnya. Sekarang justru dirinya yang kalah telak.


"Jangan mengancamku! "


"Heii nona apa aku tak salah dengar? Bukankah kau yang lebih dulu mengancamku? Sekarang katakan harus dari mana dulu aku mengubah nasib dan menghancurkan mimpimu lalu keluargamu, "


Zhie semakin geram saat dirinya mulai terpojok dengan segala ancaman pria itu.


"Baiklah Tuan Adinata Gavin Caesar apa mau mu?! " jawab Zhie menekan.


"Ikut denganku hari ini! " kata Gavin cepat.


"Tidak. Aku tidak bisa, aku masih ada jam kuliah. " balas Zhie dingin.


"Baiklah sepertinya kau ingin melihat pertunjukan Nona Kenzhie Laurent Albert, " jawab Gavin tersenyum sinis.


Zhie tidak punya pilihan selain menuruti kemauan Gavin. Tapi ia masih tetap mencoba membujuk Gavin agar membiarkannya masuk kuliah dengan full hari ini karena di hari hari sebelumnya ia sering kali absen.


"Aku mohon, biarkan aku kuliah hari ini. Aku sudah terlalu sering absen, jika aku terus terusan seperti ini kapan aku bisa lulus. Kuliah ini mahal apalagi aku mengambil jurusan yang harganya 2 kali lipat dari harga kuliah pada umumnya." kata Zhie mencoba membujuk.


"Apa yang kau takutkan? Sebentar lagi pun kau akan menjadi istriku. Aku yang akan membiayai kuliahmu sampai kau lulus. "


Mendengar kata istri membuat bulu kuduk Zhie berdiri. Tubuhnya terasa menegang. Ia masih meratapi nasibnya dimana usianya yang baru menginjak 19 tahun ia harus siap mendapatkan gelar istri. Waktu dimana ia bersenang senang akan digunakan untuk menjalani kewajibannya sebagai seorang istri, meskipun selain diranjang.


"Ta..tapi..aku ingin lulus bersama teman temanku, aku tidak ingin lulus terlambat atau tertinggal oleh teman temanku. " sangga Zhie lagi.


"Apa kau lupa? Aku juga mempunyai saham disini. Aku bisa membuatmu lulus secepat mungkin. "


Zhie melotot kesal, matanya berkaca kaca. "Apa?! Aku kuliah pun agar aku pintar, dan kau dengan mudahnya ingin menyogok kelulusanku?! "


Apakah dia marah? gumam Gavin.


Sedetik kemudian Zhie berjalan dengan cepat meninggalkan Gavin dan beberapa bodyguardnya.


"Tuan sepertinya Nona Zhie marah, " kata salah satu bodyguardnya.


"Diamlah aku tahu itu. " jawab Gavin singkat.


Belum sempat Gavin menyusul Zhie tiba tiba ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Gavin tak tahu namanya namun ia tahu bahwa wanita itu sering bersama Zhie.


"Tuan tunggu! " teriak Ziva.


Gavin hanya membalas panggilan Ziva dengan menaikan salah satu alisnya.


Cihh dasar sombong.


"Ini ponsel Zhie, ia melupakannya dimeja kantin tadi. " kata Ziva sembari menyerahkan ponsel milik Zhie.


"Terimakasih. " balas Gavin singkat.


"Ah iya, " jawab Ziva gugup.


"Nona apa kau tahu mengapa Zhie hari ini sensitif? Tidak biasanya ia mudah tersinggung seperti tadi. " tanya Gavin.


"Tuan membuat Zhie tersinggung? Apa tuan tahu Zhie sepertinya sedang datang bulan, "


Mendengar jawaban Ziva, dengan cepat Gavin melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Meninggalkan Ziva yang masih terbengong. Sesampainya diparkiran, Gavin melihat sosok wanita berjongkok di pinggir mobilnya.


Gavin melihat bahu Zhie naik turun.


Apakah dia sedang menangis?


"Zhie kau tak apa? " tanya Gavin memegang bahu Zhie lalu ditepis dengan kasar oleh Zhie.


Zhie segera mengusap matanya membersihkan sisa sisa air matanya.


"Sekarang akan kemana kita? " tanya Zhie to the point tanpa melihat wajah Gavin. Ia masih merasa kesal dengan perkataan Gavin yang sangat terlihat enteng diucapkannya.


Tangan Gavin segera meraih wajah Zhie tanpa menjawab pertanyaan Zhie.


"Apa yang kau lakukan? "


"Diamlah aku hanya ingin melihatnya, " jawab Gavin.


Jawaban Gavin membuat jantung Zhie berpacu 2 kali lebih cepat. Namun ia tak menghentikan tangan itu, ia membiarkan Gavin membuka maskernya.


Setelah masker tebuka seluruhnya barulah Gavin melihat wajah kanan Zhie terlihat membengkak dan membiru akibat terkena pukulan tadi malam.


Gavin menatap wajah Zhie. Ia sangat menikmati bahkan dengan keadaan wajah Zhie yang seperti itu tak membuat kecantikan Zhie berkurang. Gavin menatap wajah Zhie semakin dalam, sampai akhirnya Zhie angkat bicara.


"A...aku..aku sangat lapar. Biasakah kita pergi sekarang? " kata Zhie dengan gugup.


Gavin berjingkit terkejut. Lalu dengan cepat ia masuk lebih dulu kedalam mobil meninggalkan Zhie yang masih berdiri diposisinya.


"Ayo cepatlah kita cari makan, aku juga sangat lapar. " kata Gavin kembali bersikap sok cool.


Zhie duduk di kursi belakang berdekatan dengan Gavin. Dilihatnya Gavin mengeluarkan kotak P3K. Zhie memandang heran kotak itu. Ia mencoba untuk mengabaikannya namun ia kembali dibuat terkejut saat tangan Gavin menangkup pipi kirinya dan mengarahkan wajahnya memandang Gavin.


Jarak mereka bisa dibilang terlalu dekat. Zhie semakin gugup dibuatnya. Dadanya naik turun, napasnya juga ikut memburu.


"Tahanlah mungkin ini akan terasa sedikit sakit. " kata Gavin lalu menempelkan kapas yang sudah dibaluri obat.


Zhie terkejut karena rasanya memang sakit. Gavin memang tidak menekankan kapas itu dengan kasar tapi tetap saja terasa nyeri.


"Shhh!! " desis Zhie lalu mencengkram bahu Gavin yang terbalut jas mahalnya dengan erat.


Gavin sedikit tersenyum saat Zhie mencengkram bahunya sembari menutup matanya. Ia bisa dengan bebas menatap wajah cantik Zhie.