It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
DIA BUKAN DADDYMU



Langit sudah terlihat gelap dan waktu menunjukkan pukul delapan malam. Namun Zhie masih terduduk letih di kursi mobil milik Gavin setelah seharian menghabiskan waktu untuk bersenang senang.


"Kyaa!! " pekik Zhie tiba tiba membuat Gavin tersentak kaget terlebih lagi Sekretaris Marc yang mengerem mendadak.


"Ada apa Zhie? " tanya Gavin khawatir.


"Aku kan membawa mobil ke kampus lalu bagaimana dengan mobilku! " kata Zhie dengan wajah penuh kegelisahan, sementara Gavin menghembuskan napas lega.


"Hanya itu? Aku kira apa. Membuatku terkejut saja! Marc cepat jalan lagi. " Sekretaris Marc mengangguk mengerti dan segera kembali fokus mengemudi.


"Apa? Hanya itu? Hei Om itu mobilku! Lalu bagaimana caraku besok berangkat ke kampus! " kata Zhie tak terima.


"Kau mau mobil apa dan berapa? Akan ku beli semua mobil yang kau suka bahkan kalau perlu ku beli pabriknya! " tantang Gavin.


Zhie membulatkan matanya lalu berpikir.


Oiya dia kan orang kaya. Lagipula aku sebentar lagi menjadi istrinya bukankah sah sah saja jika aku meminta sesuatu kepadanya? Aish! Zhie apa yang kau pikirkan jika kau mau memakai uang Om itu untuk foya foya itu sama saja kau telat menjual tubuhmu bukan? pikir Zhie.


"Mengapa diam? Apa kau tak percaya? Baiklah besok setelah kita menikah akan ku beli pabrik mobilnya untuk kau. "


Zhie dengan cepat mengibaskan tangannya dan menggeleng cepat. "Tidak tidak tidak. Aku tidak mau. "


"Kalau aku meminta uangmu untuk foya foya itu berarti sama saja aku telah menjual tubuhku kan?" lanjut Zhie.


"Apa hubungannya? Memang aku memintamu untuk memuaskanku diranjang dan dengan begitu kau bisa meminta apapun yang kau mau? Aku kan hanya memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami nantinya. " jelas Gavin.


"Tanpa meminta kewajibanku sebagai seorang istri?" tanya Zhie pelan.


Gavin tersenyum melihat Zhie mengatakan hal itu dengan malu malu. "Akan ku terima dengan senang hati jika kau mau. "


"Cih kau sungguh Om Om pedofil mesum. " maki Zhie.


"Kan kau yang menawarkan tadi." jawab Gavin tersenyum mesum.


Tak lama kemudian mobil Gavin sudah mulai memasuki halaman rumah Zhie. Sebelum Zhie turun Gavin menahan tangannya dan dibalas tatapan bingung oleh Zhie.


"Besok pagi aku menjemputmu, jangan coba coba menghindar atau kau akan menanggung akibatnya." ancam Gavin.


Tanpa menjawab apapun Zhie langsung menarik tangannya dan segera keluar dari mobil. Lagipun jika ia menolak toh tidak ada gunanya memang siapa yang berani menentang perintah Gavin.


Zhie segera berlari kecil menuju pintu utama dan membuka pintu perlahan. Sebelum Zhie benar benar menutup pintunya ia sesekali menengok ke arah halaman rumahnya. Dilihatnya mobil Gavin yang sudah menghilang entah sejak kapan.


Cepat sekali perginya.


Perlahan pintu sudah tertutup sempurna dan dengan segera ia menaiki tangga sembari menyambar ponsel di tasnya.


Cekrekk.


Saat pintu kamarnya terbuka dilihatnya kakaknya sedang terduduk di kursi kamarnya. Zhie menelan ludah kasar. Ia lupa tidak mengabari kakaknya kalau dirinya tadi dipaksa oleh om mesum itu untuk bersamanya seharian penuh sekaligus menyiapkan pernikahan hanya tinggal beberapa hari.


"Dari mana saja kau? " tanya Ken.


"Eh..a..anu itu.." jawab Zhie gugup.


"Astaga Zhie kau membuat kakakmu ini khawatir. Lain kali kabari aku jangan seperti ini." kata Ken lalu menghamburkan pelukan ke tubuh kecil adiknya.


Zhie merentangkan tangan, membalas pelukan yang tak kalah hangat. Terasa sangat nyaman dan merasa sangat dilindungi saat tangan Ken mengelus lembut pucuk kepalanya. Namun tetap saja kakaknya itu tidak bisa menyelamatkannya dari pernikahan yang tak diinginkannya itu.


"Maaf Kak, tadi aku dijemput oleh om mesum itu saat di kampus lalu membawaku pergi dan sekalian menyiapkan pernikahan." jawab Zhie yang masih di dada bidang kakaknya, Ken.


"Om mesum? " tanya Ken bingung.


"Tentu saja Ceo itu om mesum. Dia selalu menggodaku dengan tatapan mesumnya. Hih itu sangat mengerikan! " kata Zhie seolah olah anak kecil yang mengadukan sesuatu yang membuatnya takut kepada kakaknya.


Ken hanya bisa diam. Matanya memerah membayangkan tragisnya nasib adiknya yang harus rela mengorbankan masa mudanya dengan menikah seseorang yang umurnya jauh di atasnya.


Sementara Zhie yang sedari tadi bingung mengapa kakaknya diam kini menatap wajah Ken dengan serius.


"Kakak? Kau menangis? Apa aku melukaimu? Mengapa kau menangis? " deretan pertanyaan Zhie ajukan.


Ken menatap manik mata adiknya lekat lekat. Tatapan polosnya justru seperti menyiratkan banyak luka dan beban. Adiknya memang sudah tidak terlihat keberatan dengan pernikahan itu tapi bukan berarti ia sudah sembuh total dari keterpurukannya bukan?


Zhie paham apa yang dimaksud kakaknya dan sebisa mungkin untuk menahan matanya agar tidak menumpahkan air mata. Ia harus berusaha tetap terlihat tegar didepan orang orang.


****


Pagi dengan cepat sudah nampak. Matahari hari ini begitu cerah, mengisyaratkan kebahagiaan. Namun tidak bagi Zhie. Kata kata kakaknya semalam masih terngiang ditelinganya.


Aku harus membuktikan bahwa aku kuat. Aku tidak boleh lemah.


Dengan senyum sumringah yang sengaja Zhie buat buat agar keluarganya mengira ia baik baik saja tanpa tekanan dan beban. Ia menuruni tangga dengan semangat dan senyum seterang lampu sejuta watt.


"Good morning Dad. " sapa Zhie saat melihat daddynya tengah sibuk mengetikkan sesuatu di laptopnya.


"Haii sayang good morning, sepertinya hari ini kau begitu bahagia. Apa yang membuatnya terlihat begitu bahagia coba ceritakan pada daddymu ini. " balas Edouard mengalihkan pandangannya ke arah putri satu satunya itu.


"Entahlah Dad. Hari ini aku begitu semangat dan bahagia sekali rasanya." kata Zhie mulai berakting.


Zhie mengambil setangkup roti yang siap diolesi selai cokelat kesukaannya. Bibirnya tak henti hentinya melukiskan senyum palsu tapi seterang lampu sejuta watt.


"Apa kau akan pergi menghabiskan waktu dengan teman temanmu sayang? " tanya Olivia yang baru muncul dari dapur dengan tangan membawa nampan berisi 4 gelas susu untuk sarapan.


"No mom. Aku terlalu sibuk dengan tugasku sampai aku tak sempat menghabiskan waktu dengan teman temanku. "


Zhie meraih gelas susu yang Olivia berikan. Lalu dengan segera meminumnya sampai setengah gelas. Namun ia seperti melupakan sesuatu.


"Mom dimana Kak Ken? " tanya Zhie setelah mengingat bahwa ia tak melihat kakaknya turun untuk sarapan bersama.


"Kakak sudah berangkat tadi pagi pagi sekali. Ia sangat jarang sarapan dirumah karena terus disibukkan dengan pekerjaannya. " kata Olivia setelah mendudukkan pantatnya di kursi.


Belum sempat Zhie menjawab mommy nya, bel rumah terdengar begitu nyaring. Mengejutkan ketiga orang itu yang sedang sibuk sarapan.


Zhie yang sudah berdiri siap membukakan pintu kini ditegur oleh mommy nya.


"Biar mommy saja yang buka. "


Zhie kembali duduk setelah mendengar intruksi mommy nya. Melanjutkan kegiatan sarapannya dengan lahap.


Cekrekkk.


Pintu sudah terbuka. Dilihatnya seorang pria tegap dengan jas rapih menyelimuti tubuhnya dan aroma maskulin yang kuat.


"Tu..tuan Gavin? " kata Olivia ternganga tak percaya.


"Ibu." sapa Gavin sopan lalu menyalami tangan Olivia. "Panggil saja Gavin bu. " lanjut Gavin.


"Ah iya baiklah, kau pun bisa memanggilku mommy. " balas Olivia tersenyum.


"Zhie ada mom? "


"Ada, sedang sarapan dia. Ayo masuk ikut sarapan sekalian. " tawar Olivia sembari menggandeng tangan Gavin.


Mata Zhie terbelalak melihat sosok pria yang ia benci kini duduk dikursi depannya dan disambut hangat oleh mommy daddynya.


"Kau?! " pekik Zhie.


Gavin memicingkan alisnya sebelah. Menatap Zhie dengan senyum licik terukir dengan jelasnya di bibir.


"Aku kan menyuruhmu menjemput didepan jalan bukan di rumah om! " protes Zhie.


Belum Zhie mendengar jawaban dari mulut Gavin daddynya menepuk punggung tangannya. Lalu menatap tajam.


"Zhie jangan seperti itu. Tuan Gavin ini juga calon suamimu bersikaplah dengan sopan. "


"Ah tak apa dad. " kata Gavin.


"Heii dia bukan daddymu! " kata Zhie getir. Singkat namun menusuk. Gavin teringat dengan almarhum ayahnya yang sudah lama pergi meninggalkan dirinya bersama ibunya seoarang.


Kini mommynya yang membalas Zhie dengan tatapan tajam. Seperti mengisyaratkan dirinya untuk bersikap sopan dan tahu diri. Hingga akhirnya Zhie memilih untuk tetap diam seribu bahasa bagai patung bernyawa. Sementara yang lainnya bercanda gurau dengan renyah.