
Di Perusahaan Su Jien group.
Gavin memutar ponsel ditangannya. Menunggu istrinya menelepon dan meminta jemput. Ia kurang tahu jadwal pulang kuliah Zhie karena sebelumnya ia selalu menjemputnya sebelum jam kuliah berakhir.
Matanya kini beralih menatap jam yang melingkar ditangannya. Sudah pukul setengah 3. Namun istrinya tak kunjung menelponnya. Atau mungkin ada jam tambahan. Gavin mencoba untuk berpikir positif dan melanjutkan pekerjaannya.
****
"Jika aku saja tidak bisa memilikimu jangan harap orang lain juga memilikimu! Jika memang aku tidak bisa memusnahkan orang itu mengapa aku tak memusnahkan kau saja? Bukankah itu menyenangkan." ancam Gavin dengan senyum menakutkan.
Zhie yang dari tadi berontak tidak jelas kini hampir pasrah. Namun pikirannya akan takut jika Daniel akan menyiksanya lagi kembali menghantui. Ia tetap berpikir keras sementara Daniel kini tengah mengangkat telepon karena ponselnya sejak tadi sudah bunyi berkali kali.
Tangannya masih tetap mencengkram kuat lengan Zhie yang mungkin kini sudah memerah. Daniel menjawab telepon itu dengan emosi dan yang dapat Zhie dengar pria itu sedang membicarakan tentang bisnis yang mungkin sedang mengalami guncangan.
Tiba tiba Daniel meninggikan suaranya dengan sangat emosi dan tangannya yang mencengkram Zhie kini terlepas. Meninju pohon yang berada disampingnya.
"Arghh!! Dasar bodoh!! Bagaimana bisa terjadi!! " kata Gavin setelah meninju pohon disampingnya kuat kuat.
Zhie yang melihat keadaan Daniel berpikir mungkin ini kesempatannya untuk kabur. Sedetik kemudian Zhie berlari dengan sudah payah menggunakan sepatu hak nya yang lumayan tinggi.
"Zhie!! Jangan coba coba kabur dariku! " teriak Daniel penuh emosi. Memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan berusaha mengejar Zhie yang mulai menjauh.
Damn! Sepatu sialan! Kau menyusahkanku!
Dengan gerakan cepat Zhie melepas sepatunya dan melempar ke belakang. Tepat mengenai kepala Daniel. Kemungkinan kepalanya akan berdarah namun Zhie tak memikirkan hal itu. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya cepat cepat kabur dari pria gila itu.
"Arghhh!! " pekik Daniel saat sepatu Zhie mengenai kepalanya tepat. Berhenti sejenak dan memegangi keningnya yang mulai berdarah. Tidak banyak namun terasa sangat pusing.
Zhie tertawa penuh kemenangan dan kembali berlari sekuat tenaga tanpa memakai sepatu. Kerikil yang bertebaran di jalan mungkin akan melukai kakinya yang telanjang.
Setelah dirasa cukup Zhie berhenti untuk mengatur napasnya. Tubuhnya masih bergetar ketakutan. Napasnya memburu tak keruan.
Tut tut tut.
Tangannya menekan tombol panggil ke nomor om itu dengan sedikit panik.
Ayolah cepatlah angkat! gumam Zhie sembari terus mengahadap ke belakang. Takut Daniel masih mengejarnya.
"Kau sudah selesai? " sahut Gavin dibalik sana.
"Om..om..ce...cepatlah datang ke cafe XXX sekarang! " kata Zhie gugup dengan napas yang masih memburu.
"Apa yang terjadi! Kau kenapa!! " sahut Gavin khawatir.
"Nanti aku jelaskan! Cepat datang sekarang! Aku sangat takutt..." kata Zhie mulai menangis. Suaranya bergetar seiring menahan isak tangis.
"Kau tetap disitu jangan kemana mana! Aku akan segera datang! "
Tut.
Panggilan terputus. Zhie masih berdiri dibalik tembok. Bersembunyi dari pria gila yang mengejarnya. Tubuhnya semakin bergetar saat tiba tiba ada sekitar 3 orang pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam. Ia tahu orang itu adalah asisten Daniel.
Sekuat mungkin Zhie menahan napasnya. Pandangannya kian kabur tertutup oleh cairan bening yang menutupi matanya. Berjongkok dibalik tembok perumahan yang sempit dan mungkin 3 asisten Daniel tidak akan menemukannya.
Hampir 10 menit Zhie berjongkok di tempat yang sama. Setelah memastikan para asisten Daniel pergi ia keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan dada yang masih naik turun karena ketakutan dan menahan isak tangis Zhie brjalan sebisanya.
Kedua kakinya yang telanjang terasa sangat perih. Ada bercak darah yang tercetak di telapak kakinya karena kerikil yang ia pijak. Mendatangi sebuah kursi kosong yang tidak jauh dari situ.
Baru saja ia duduk dilihatnya sebuah mobil hitam berhenti tepat didepannya. Zhie tahu itu mobil suaminya. Setelah melihat pria itu keluar dengan segera Zhie melompat dan menubruk tubuh tegap suaminya. Isak tangisnya semakin menjadi jadi ketika Zhie membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya.
"Zhie kau kenapa? Siapa yang berani melukaimu?! " tanya Gavin panik.
"Hiks..hiks..hiks..a..aku sangat ta..takut om..pria gila itu masih mengejarku..."
"Pria gila? Apa Daniel maksudmu? Beraninya dia! " ucap Gavin penuh emosi. Namun tangannya mengelus lembut ujung kepala Zhie.
"Ayo kita pulang. " ajak Gavin setelah isak tangis Zhie semakin mereda.
Zhie sendiri tidak mengerti mengapa tubuhnya spontan memeluk om itu ketika sedang takut. Merutuki segala kebodohannya saat di dalam mobil. Menahan rona malu yang tercetak di wajahnya.
"Dimana sepatumu? " tanya Gavin setelah melihat kaki Zhie yang telanjang.
"Maaf aku melemparnya tadi. Sepatu sialan itu hampir membuatku terjatuh jadi aku melemparkannya ke wajah pria gila itu. "
Gavin hanya terkekeh melihat tingkah istri kecilnya.
"Maafkan aku. Itu pasti sepatu mahal aku akan menggantinya dengan yang baru. " ujar Zhie menunduk dalam dalam.
"Untuk apa? Bahkan tubuhku yang berharga dan semua hartaku juga milikmu kenapa harus mengganti sepatu yang harganya tak seberapa itu? "
Zhie terlonjak kaget dengan kalimat blak-blakan yang dengan mudahnya terucap. Ia memilih untuk tidak menanggapinya dan mengabaikan kalimat omongan om itu yang dirasanya hanya main main.
Selama diperjalanan Zhie memilih diam dan menutup matanya. Mencoba melupakan hal yang baru saja ia alami. Ingin rasanya memusnahkan pikirannya yang terus dihantui oleh ancaman Daniel.
"Memusnahkan! Memusnahkan! Memusnahkan**! "
Zhie membuka matanya lebar. Dikepalanya terus menerus terngiang ancaman Daniel.
Mobil Gavin sudah memasuki halaman rumahnya yang megah bak istana. Bagi Zhie.
"Diam ditempatmu. " kata Gavin singkat dan berlalu keluar dari mobil.
Lagi lagi Gavin menggendong tubuh Zhie masuk kedalam rumah setelah melihat keadaan kaki Zhie yang terluka karena pijakan kakinya yang telanjang di kerikil tajam.
Zhie hanya diam pasrah saat Gavin menggendongnya. Kakinya pun terasa sangat sakit akibat luka ditelapak kaki dan kemungkinan akan bertambah sakit jika ia memaksakan untuk berjalan sendiri.
Dengan pelan Gavin menurunkan tubuh Zhie di tempat tidur berukuran king size. Setelahnya melepas jas yang menyelimuti tubuh atletisnya dan melepas dasi bersamaan dengan melepas beberapa kancing kemeja atasnya.
Tatapannya kini hanya terfokus pada kaki Zhie yang merah dan penuh luka. Melihatnya dengan mata nanar.
"Marc suruh pelayan ambilkan handuk kecil dengan sedikit air untuk membersihkan luka Zhie. " perintah Gavin pada Sekretaris Marc yang memang membuntutinya sampai depan pintu kamar.
"Baik tuan. " balas Sekretaris Marc sopan.
"Jelaskan! " Matanya kini menatap wajah Zhie. Dingin dan datar.
"Apanya? " tanya Zhie kebingungan.
"Jangan pura pura bodoh! " kata Gavin setengah berteriak.
"A..a..aku hanya menemui seseorang di Cafe itu lalu saat aku ingin kembali dan menunggu taxi Daniel datang dan menarik lenganku memaksaku untuk ikut dengannya. " jelas Zhie sambil menunduk.
Tangan Gavin beralih meraih dagu Zhie dan mengangkatnya agar tatapan mereka bertemu.
"Dia menamparmu? "
"E...ti..tidak! " elak Zhie. Takut jika ia menceritakan yang sebenarnya maka akan terjadi perselisihan yang tak diinginkan. Lebih baik jika ia tutup mulut.
"Kau yakin? Padahal ujung bibirmu berdarah! "
Apa! Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi! Pantas saja ujung bibirku terasa perih dan pegal.
"Tidak mau mengaku? " tanya Gavin sembari menekankan jempolnya tepat di ujung bibir Zhie yang berdarah.
"Shhh!! " ringis Zhie saat jempol itu menekan semakin kuat.
Gavin memicingkan alisnya. Bertanya lewat tatapan matanya dan gerak gerik tubuhnya.
"Iya dia menamparku karena aku memakinya. "
"Jadi darimana dulu kita akan membalaskan dendam nya? " Gavin tersenyum licik. Setelahnya terdengar suara pelayan dari luar yang membawakan handuk kecil dan air.
"Tuan ini handuknya. Apa saya perlu membantu tuan? "
"Tidak perlu. " jawab Gavin dingin. Matanya tak beralih menatap yang lain selain wajah Zhie.
Setelah pelayan itu pergi Gavin mulai membersihkan luka di telapak kaki Zhie. Wajah menyeramkannya kini berubah menjadi wajah iba. Merasa kasihan dengan istrinya. Ditambah ringisan Zhie saat ia mulai menyeka pelan kakinya.
Pasti perih. Gavin.
"Jadi? " tanya Gavin disela kegiatannya.
"Jadi apa? "
"Ckk. Jadi dari mana dulu kita akan membalaskan dendamnya? "
"Tidak perlu. Aku juga sudah tidak apa apa. "
Gavin memicingkan alisnya. "Kenapa? "
"Aku tidak ingin kau berurusan dengan pria gila dan psikopat sepertinya. Aku tidak ingin orang lain menanggung beban demi diriku. "
"Orang lain? Aku suamimu dan kau menganggapku orang lain? " tanya Gavin tidak terima. Wajahnya yang menyebalkan justru semakin menambah ketampanannya.
"Bu..bukan begitu. Kau pun tahu Daniel itu seperti apa karena kau bilang kau temannya dulu. Aku hanya tidak ingin dia melukaimu...ma..maksudku melukai orang disekitarku. "
Aduh keceplosan segala**! Zhie.
Gavin sedikit menarik bibirnya keatas. Tersenyum simpul.
"Aku hanya tidak suka barangku dipegang orang lain. "
"Barang? Jadi kau pikir aku barang yang hanya bisa di pegang dan diklaim olehmu? "
"Bukan begitu. Aku hanya tidak suka kau berdekatan dengan pria itu. Jangan pernah kau mendekati atau berhubungan dengannya. Akan kupastikan masa depanmu terancam jika kau berani melanggarku. " ucap Gavin serius. Ada sorot ketulusan di matanya. Dengan jelas ia menyatakan cemburunya, hanya saja tidak secara langsung. Tersirat.
Waktu seperti berputar begitu cepat. Rasanya baru saja Zhie terbangun kini sudah malam lagi. Malam ini Zhie tidak turun untuk makan malam bersama karena Gavin tidak mengizinkannya berjalan jalan terlebih dahulu.
Gavin kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan.
"Biar aku sendiri saja om kan hanya kakiku yang sakit tanganku ini baik baik saja. " tolak Zhie saat Gavin bersiap menyuapkan makanan itu ke dalam mulut Zhie.
"Diam dan terima saja hukumanmu karena sudah lancang menemui Li Xiaoi tanpa ijinku! "
Deg.
Zhie terkejut ternyata om itu mengetahui yang sebenarnya.
.
Bagaimana dia bisa tahu? Apa jangan jangan dia memata mataiku.
Gavin kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut Zhie. Wajahnya datar dan terlihat biasa saja. Apa dia tidak berdebar padahal aku sedang menyuapinya. Gavin.
Pikiran Zhie kembali melayang ke ancaman yang Daniel lontarkan. Ia takut kalau Daniel benar benar nekat dan akan memusnahkan dirinya atau suaminya, Gavin.
Memusnahkan memusnahkan memusnahkan memusnahkan! Kyaa!! Apa yang aku pikirkan! Mengapa hanya kalimat itu yang terngiang dikepalaku.