
Edouard memandangi putrinya dengan seksama, tatapan putrinya masih polos dan tulus yang pasti tatapan itu akan berubah kemarahan dan kebencian saat dirinya mengatakan yang sebenarnya.
"Zhie, dengarkan daddymu ini, daddy yakin kau akan terpukul saat kau mengetahui ini tapi tolong mengertilah kondisi kita sekarang." kata Edouard dengan sangat hati hati.
"Apa maksudmu daddy? kondisi kita sekarang? memang mengapa kondisi kita bukankah semua berjalan seperti biasanya?" berbagai pertanyaan Zhie lontarkan kepada daddynya dengan bingung.
"Zhie dengarkan aku, tenanglah. Sekarang kondisi Perusahaan daddy sedang kritis, kita sedang terancam bangkrut, dan daddy memutuskan un... " belum selesai Edouard berbicara putrinya sudah memotong pembicaraannya.
"Apa? kita terancam bangkrut? sejak kapan? mengapa daddy tak memberi tahuku?" wajah mungil Zhie terlihat sangat panik dan khawatir.
"Zhie.. kumohon dengarkan aku dulu." kata Edouard mencoba menenangkan putrinya. "Baiklah langsung ke intinya saja, daddy memutuskan untuk melakukan kerja sama dengan Perusahaan Su Jien, dan untuk jaminannya daddy mau kau menikah dengan Ceo Gavin." Edouard menjelaskan dengan suara berat dan gemetar, ia takut kalau putrinya akan melakukan hal diluar nalar.
Dengan terkejut Zhie cepat cepat membungkam mulutnya agar isak tangisnya tak menjadi jadi.Sekuat tenaga ia menopang tubuhnya yang sudah seperti tak bertulang itu.
"A..aapa?!! Ka..kau menjualku??!!..." dengan sekuat tenaga ia mencoba membuka mulut dan menentang Edouard.
"Zhie... sayang dengarkan aku..a..aku tak pernah menjualmu, kau putriku bagaimana mungkin aku tega menjualmu Zhie.." Edouard mencoba menggenggam tangan Zhie yang gemetar dan dingin bagai tak teraliri darah.
"Tak pernah kusangka kau bahkan bisa serendah itu! Kau bahkan tega menjual putrimu ke om om itu?!" tanya Zhie dengan wajah geram.
Mendengar Zhie berkata "om om" membuat Gavin membulatkan matanya dan memicingkan alisnya.(apa aku setua itu sampai kau menyebutku om om?) gumam Gavin.
"Siapa yang kau maksud? om om? heii aku tak setua itu untuk kau panggil om." Gavin mencoba menengahi pembicaraan Eduardo dengan Zhie.
Zhie menatap Gavin dengan tajam dan ada sorot kebencian disana dengan arti tatapan (tolong anda diam tuan! aku tak menyuruhmu berbicara!) mungkin hanya itu yang dapat Gavin artikan dari tatapan tajam Zhie.
"Sayang dengarkan daddy dulu..." Edouard mencoba menenangkan Zhie kembali.
"Diam!!" bentak Zhie yang membuat semua orang terkejut dan berjingkit.Zhie menatap dalam dalam mata Edouard sehingga dengan sangat jelas Edouard melihat ada sorot kebencian dimata putrinya, Zhie.
"Dengarkan aku! Kau!" kata Zhie menunjuk daddynya."Ka..kau bukan daddyku yang dulu. Mengapa kau sampai tega menjualku?! Aku putrimu! Aku anakmu! Aku darah dagingmu! Pernahkah kau berfikir keinginanku untuk masa depan cerahku hah?!Aku juga punya masa depan! Aku punya impian! Aku masih 19 tahun dan aku berhak bahagia diumurku saat ini, jadi kumohon padamu, biarkan aku mengejar mimpiku...." jawab Zhie penuh emosi dan tangisnya semakin menjadi jadi.
Semua orang diruangan itu bungkam seolah tak berani berbicara.Semua membisu termasuk Ceo Gavin.Dengan langkah yang berat Zhie meninggalkan ruangan itu, sudah tak ada lagi air mata di pipinya hanya saja matanya nampak sembab yang mengisyaratkan bahwa perempuan itu baru saja menangis.
Zhie kembali tersadar dari lamunannya yang dipecahkan oleh suara dering ponsel miliknya dan bertuliskan "Ziva" dengan sesegera mungkin ia mengangkat telpon itu dan mencoba menetralkan suaranya.
(Halo Zhie, kamu ngga lupa kan sama janji kita? aku tunggu kamu di rumah ya cepatlah datang.) suara Ziva diseberang sana nampak bahagia seolah tak sabar menunggu temannya datang menjemput.
"Hm baiklah aku akan segera datang." jawab Zhie.
Ia kembali menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Ia tak tahu harus bagaimana ia menyikapi permasalahan ini. (haruskah aku bercerita soal ini kepada Ziva?)
***
Sementara Diruangan Ceo Gavin.
"Maafkan saya tuan, maafkan atas sikap putri saya yang kasar." kata Edouard dengan wajah tertunduk.
"Hm tak apalah tapi kau usahakan putrimu menerima tawaran ku kali ini, bujuk dia dan yakinkan dia!" jawab Gavin.
"Baik tuan saya akan membujuk putri saya." dengan napas lega Edouard meninggalkan ruangan Ceo Gavin.
Edouard mencoba menghubungi nomor Zhie namun tak kunjung ada jawaban.Lalu ia berpikir (mungkin dia butuh waktu untuk sendiri dulu).
"Marc apa kau yakin kalau Zhie akan menerima tawaranku ini?" tanya Gavin kepada Sekretaris Marc.
"Saya yakin kalau nona Zhie akan menerima ini, hanya saja sekarang ia pasti sedang shock, jadi ia perlu waktu untuk sendiri, tuan." balas Sekretaris Marc dengan sopan.
"Hem semoga saja, karena jujur sepertinya aku tertarik untuk mengikuti permainan Zhie, sepertinya ia gadis yang pintar dan cantik." jawab Gavin yang tanpa sadar ia memuji Zhie.
(apa aku tak salah dengar? Tuan Gavin memuji seseorang? hem sepertinya Tuan Gavin menyukai Nona Zhie) batin Sekretaris Marc.
Haii Terimakasih Sudah Mampir dan jangan lupa vote yaa❤❤❤