
Setelah selesai sarapan Zhie dan Gavin berpamitan untuk berangkat karena hari semakin siang. Secara bergantian mereka menyalami tangan Edouard dan Olivia.
Selama perjalanan tak biasanya Gavin diam mematung dengan tatapan mata yang datar dan kosong. Zhie berkali kali mencuri pandang untuk melihat wajah Gavin namun tetap sama. Masih terlihat datar.
Ada apa dengan om ini? Tak biasanya dia diam seperti patung. Apa mulutnya sudah lelah menggodaku lagi? Baguslah kalau begitu sepertinya aku kali ini menang. gumam Zhie masih menatap wajah Gavin dengan saksama.
"Ada apa? " tanya Gavin menoleh setelah menyadari Zhie memandanginya terus menerus.
Zhie yang terkejut langsung menoleh dan mengedarkan pandangannya ke arah lain.
Oh **** aku tertangkap basah.
"E..ti..tidak. Tidak ada apa apa. " jawab Zhie gugup.
Gavin kembali memasang wajah datarnya. Justru itu semakin membuat wajahnya lebih terlihat aura dingin dan arogannya. Zhie kini mencoba menyibukkan diri dengan bermain ponselnya. Namun tetap saja wajah pria di sampingnya itu menghantui pikirannya.
Zhie kembali menatap wajah Gavin. Dilihatnya wajah itu dengan saksama. Tanpa ia duga Gavin kini menoleh kearahnya sehingga tatapan mata mereka bertemu. Sangat menghanyutkan.
"E..Om.." panggil Zhie gugup.
Gavin menoleh dan menatap Zhie dengan alis terangkat sebelah.
"Ka..kau..marah padaku? " tanya Zhie terbata.
Gavin tersenyum miring. "Lalu apa urusanmu? " balas Gavin getir.
"Bu..bukan maksudku membuatmu marah Om, ta..tapi.." belum selesai Zhie berbicara Gavin sudah memotong.
"Sudahlah kau tak perlu pura pura perduli kepadaku. Aku tak marah padamu jadi diamlah. " kata Gavin dingin tanpa menatap Zhie.
Aaaaa! Dia benar benar marah! Bagaimana ini?
Zhie memilih diam dan mematung ditempatnya sampai mobil Gavin sudah mulai memasuki kampusnya. Ia memejamkan matanya, berpikir apa yang akan dilakukannya setelah turun apakah harus berterima kasih apa pergi tanpa menoleh. Cih itu sangat tidak sopan jika aku tidak berterimakasih kepadanya.
Saat Zhie hendak keluar Gavin memanggilnya. Tapi tanpa menarik tangannya seperti biasa.
"Mobilmu masih disini. Jangan khawatir. Cepat keluarlah! "
Dengan segera Zhie keluar diselimuti rasa bersalah dan menyesal. Ia tahu kalau om itu sedang merajuk. Tidak mungkin ia badmood sampai segitunya.
Zhie berjalan dengan malas dan terseok-seok menuju kelasnya. Belum sampai ia dikelas dengan malas harus meladeni seseorang yang sangat ia malas temui. Dengan cepat ia memutar kakinya dan sedikit berlari menjauh.
"Zhie! " teriak seseorang diseberang.
Aduh ketahuan! Sial bagaimana ini?!
Zhie tetap berjalan menjauh berpura pura seolah olah ia tidak mendengar. Mulutnya tak henti henti nya mengucapkan doa agar tidak bertemu lagi orang itu.
Tetapi langkah orang itu lebih cepat dan dengan sekejap sudah menggapai bahunya membuat Zhie seketika mematung dengan keterkejutannya. Menahan napasnya sebentar.
"Haii Zhie apa kabar? Sudah lama tidak bertemu bukan? " kata orang itu.
Zhie menggeram kesal.
"Dittt! Please! Jangan ganggu gue! Udah berapa kali gue bilang gue gak suka sama lo! " jawab Zhie dengan emosi.
"Wow. Sekarang ternyata lo lebih ganas. " balas pria itu dengan senyum menggoda.
Zhie berdecak kesal. Ia memutar bola matanya dengan malas jika harus meladeni pria itu yang mengejarnya terus menerus.
"Minggir! Gue mau lewat! " kata Zhie sembari mengibaskan tangannya.
"Eits. Tunggu dulu. Gue bakal minggir kalo lo menerima tawaran gue buat balik bareng. " tawar pria itu memaksa.
"Mimpi! Minggir atau gue teriak! " ancam Zhie.
Pria dihadapannya itu hanya membalas dengan senyum licik. Lalu mengurut dahinya.
"Zhie! " tiba tiba suara melengking mengejutkan mereka berdua. Sudah dipastikan itu suara Ziva sahabatnya.
"Aditttt! Lo ngapain sih gangguin Zhie terus?! Ga laku lo ya?" teriak Ziva sampai sampai membuat kedua orang itu menutup telinganya.
"Huh! Gue itu bukannya ga laku. Cuma gue nya aja cuma mau sama sahabat lo ini. " balas Adit enteng.
"Mimpi! " kata Zhie menaikkan satu oktaf suaranya.
"Awas! Gue bilangin Kak Ken nih. " ancam Ziva sembari menyingkirkan tubuh tetap Adit.
Akhirnya Adit mengalah. Ia tahu Kak Ken adalah kakaknya Zhie. Ia tahu seberapa mengerikannya kakak Zhie.
****
Gavin duduk termenung. Kata kata yang dilontarkan Zhie pagi ini masih terngiang jelas di benaknya. Ia menggeram kesal.
Tiba tiba pintu ruangannya terbuka secara paksa dan kasar. Dilihatnya seorang wanita dengan setelan gaun diatas lutut dengan renda di setiap ujung jahitan.
Gavin melotot melihat wajah wanita dihadapannya itu.
"Gavin! " pekik wanita itu sembari berlari ke arah Gavin dan memeluk.
Gavin tidak menolak. Ia justru terkejut. Setelah sekian lamanya wanita yang berada diperlukannya ini menghilang kini datang dan memeluknya.
Tubuhnya kaku bagai tak teraliri darah. Lidahnya kelu tak sanggup mengeluarkan kata kata untuk memaki wanita dihadapannya itu. Sekilas otaknya kembali bekerja dan seketika mendorong kasar wanita di depannya itu.
"Brengs*ek! Beraninya kau! " maki Gavin.
"Gavin. Sayang aku merindukanmu. Sungguh aku sangat merindukanmu! " pekik wanita itu sembari menangis.
Oh ****! Jangan menangis dihadapanku bodoh!
Ia mengutuk dirinya sendiri saat melihat wanita dihadapannya itu menangis. Menangisi dirinya. Wanita yang bahkan dulu ia tak sanggup membuatnya menangis kini justru menangisinya tepat didepan matanya.
Ditengah Gavin sedang merutuki dirinya sendiri datang Sekretaris Marc dengan napas tersengal. Tatapannya langsung tertuju kepada Tuan nya yang sedang menatap wanita didepannya dengan sendu.
"Maaf Tuan. Saya gagal mencegahnya tadi. " kata Sekretaris Marc lalu membungkukkan badannya sopan.
Gavin hanya diam tak menjawab. Matanya menatap wanita didepannya dengan sedih. Hatinya seperti terpanah oleh ribuan panah. Sungguh sakit.
"Diam kau Sekretaris Marc! Aku hanya ingin bertemu dengan kekasihku! " kata wanita itu dengan lantang sampai suaranya menggema di ruangan.
"Kau bukan kekasihku! " jawab Gavin tanpa berani menatap langsung wajah wanita itu.
"Gavin. Sayang aku disini untukmu. Aku menyesal. Aku ingin kita kembali seperti dulu. " kata wanita itu sambil menggenggam tangan Gavin dengan berani.
"Nona jaga sikap anda! " kata Sekretaris Marc.
"Li Xiaoi! Jaga sikapmu! Kau bukan lagi wanitaku! " tolak Gavin mengibaskan tangannya kasar.
"Sayang lihatlah aku. Lihat mataku. Aku masih disini untukmu. Hanya untukmu. " bujuk Li Xiaoi.
Gavin menatap Sekretaris Marc tajam. Seolah menginstruksikan untuk membawa wanita itu pergi jauh jauh. Sekretaris Marc yang paham akan tatapan mata itu langsung mengangguk paham dan segera menarik tangan Li Xiaoi keluar dari ruangan Gavin.
"Sayang dengarkan aku! Hei Sekretaris bodoh lepaskan tanganku! " teriak Li Xiaoi yang semakin lama semakin terdengar melirih.
Bagaimana bisa wanita itu kini muncul lagi setelah sekian lama menghilang!
****
Jarum jam menunjukkan pukul 11 siang. Sebentar lagi jam makan siang tiba. Zhie sudah sangat bosan dengan mapel hari ini. Entah mengapa rasanya hari ini moodnya sangat buruk. Ia sama sekali tak bersemangat.
Bahkan moodnya belum membaik setelah mendengar bel berbunyi. Biasanya ia paling bersemangat ketika bel istirahat berbunyi. Matanya menatap layar ponselnya kosong. Tidak ada pesan masuk dari om itu.
Apa yang aku pikirkan! Mengapa aku memikirkan om itu kan aku sudah punya kekasih. Ah ngomong ngomong kemana Daniel. Sudah lama ia tak memberiku kabar. Sepertinya aku perlu menghubunginya sekarang.
Saat jarinya hendak menekan tombol panggil ia dibuat terkejut Ziva yang baru saja pulang dari kamar mandi.
"Zhie gue laper nih ke kantin yuk. " ajak Ziva.
"Kayaknya engga dulu deh Va. Gue ada urusan bentar. Lo ke kantin aja gapapa. "
Ziva mengernyitkan dahinya. "Ceo itu? "
Zhie terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ziva. Spontan Zhie menggelengkan kepalanya.
"Apaan sih kok jadi om om itu. Ini tuh tentang Daniel. Udah lumayan lama dia gak ngasih kabar ke gue. "
Belum sempat Ziva menjawab ada seseorang yang merangkul pundaknya dari belakang. Ia berjingkit kaget.
"Astaga sayang, "
"Yuk ke kantin bareng. Zhie lo nggak mau ikut? " kata Reyhan menawarkan.
"Enggak dulu deh kayaknya Kak Rey. " jawab Zhie sopan. Karena Reyhan memang seniornya disini. Satu semester lagi Reyhan akan lulus.
"Oh ya udah kita duluan ya. " kata Ziva melambaikan tangannya semangat.
Zhie terkekeh melihat tingkah Ziva yang cara berpacarannya seperti bocah. Dimana ia akan merajuk jika Reyhan lupa mengucapkan i love you sehari saja. Benar benar seperti bocah.