It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
SENSITIF PART 2



Setelah beberapa menit Zhie tak lagi merasakan sakit diwajahnya. Perlahan ia membuka mata dan melihat tangan Gavin yang sudah turun dari wajahnya namun matanya masih terus memandangi Zhie.


Zhie melotot kesal dan terkejut. "Apa yang kau lakukan?! Alihkan tatapanmu itu! Tidak sopan tahu om! "


Gavin tersenyum menyeringai mendengar ocehan Zhie yang begitu heboh. Tangannya kembali membereskan kotak P3K namun tatapannya tidak beralih yang membuat Zhie menutupi wajahnya dengan tas.


"Marc kita pergi ke restoran dulu karena Zhie pasti sudah sangat kelaparan bahkan aku bisa mendengar teriakan perutnya. " kata Gavin menggoda Zhie.


Mendengar perkataan Gavin membuat wajah Zhie memerah malu. Yang Gavin katakan memang benar adanya. Perutnya sudah berteriak sedari tadi sebab Ia belum makan siang.


"Baik tuan, " jawab Sekretaris Marc.


****


Zhie terperangah melihat restoran yang sedang ia kunjungi sekarang. Astaga apa aku sedang bermimpi?! Huh! Kalau bukan orang kaya pasti akan sulit untuk makan disini dan hari ini aku mendapatkan keberuntungan itu benar-benar tidak kuduga. gumam Zhie.


"Om kau yakin kita akan makan disini? " tanya Zhie tak percaya.


"Tentu memangnya kenapa? Apa kau tak suka? Apa tempat ini kurang mahal? "


Zhie segera menyambar kalimat Gavin dengan cepat. "Ah bukan begitu! Maksudku apakah kau tidak merasa rugi membawaku makan disini? Kau tahu kan om makanku sangat banyak? "


Gavin mengangkat alisnya sebelah. "Lalu apa masalahnya? Ini hanya perihal makan. Bahkan setelah menikah jika kau mau meminta kekayaanku separuh pun akan aku beri, " jawab Gavin enteng.


Lagi lagi Zhie dibuat terperangah tak percaya. Dengan entengnya Gavin menyikapi soal kekayaan yang bahkan baru dikenalnya.


"Om apa maksudmu? Aku menikahimu karena keluargaku bukan karena gila hartamu. Tenang saja aku tidak akan meminta hartamu bahkan sepeserpun. "


"Kalau bagitu aku yang akan memaksanya. " jawab Gavin serius. Lalu memberikan sebuah kartu kredit berwarna silver. Zhie melihat kartu itu tak percaya.


"A...apa ini? " tanya Zhie kebingungan.


"Ini untukmu. Beli semua kebutuhanmu dengan kartu ini. Aku mau kau memakainya setiap hari. " kata Gavin menjelaskan.


"Tidak, aku tidak mau. " jawab Zhie kekeh.


"Tidak mau? Hei aku memintamu menggunakan kartu ini untuk memperbaiki dirimu. Belilah gaun dan alat rias, aku tidak ingin mengotori mataku dengan melihat tampilan kuno mu itu. "


Zhie melotot kesal dan memilih diam tidak mau menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Gavin.


"Kau mau makan apa? " tanya Gavin setelah memilih tempat duduk. Namun pertanyaannya diabaikan tanpa ada jawaban dari mulut Zhie. Terlihat wajah murung Zhie yang terpampang dengan jelasnya.


Astaga apa dia sedang marah lagi denganku?


Pandangan Gavin kini tertuju pada sekretarisnya dengan tatapan seolah olah bertanya tentang apa yang terjadi. Sekretarisnya pun sudah sangat paham sehingga sedetik kemudian Sekretaris Marc membungkukkan badannya dan membisikkan sesuatu.


"Tuan sepertinya Nona Zhie sedang marah. Wajahnya ditekuk dan terlihat sangat murung. Anda ingat bukan perkataan sahabat Nona Zhie? Bukankah Nona Zhie sedang datang bulan? " kata Gavin lirih.


"Lalu apa masalahnya jika ia sedang datang bulan? " tanya Gavin polos.


"Tuan, saya dengar jika wanita sedang datang bulan maka emosinya sedang sulit terkendali sehingga menyebabkan hal sepele pun bisa menyinggungnya dan merasa sakit hati. " jelas Marc setengah berbisik.


Gavin mengangguk paham lalu kembali menatap Zhie yang masih menekuk wajahnya dan terlihat murung.


Zhie mendongakkan kepalanya dan menatap Gavin. Namun bukannya merasa takut dan berhenti murung kini justru Zhie terlihat berkaca kaca. Matanya meneteskan buliran air mata.


Gavin merasa bingung mengapa justru Zhie menjadi menangis. Ia kembali menatap sekretarisnya dengan tatapan bingung dan bertanya tanya.


"Bukan begitu Tuan, maksud saya, seharusnya anda memberikan kesukaan Nona Zhie atau menghiburnya bukan malah mengancamnya. " jawab Marc. Ia tak habis pikir ternyata sepandai pandainya Tuannya akan merasa bodoh juga jika dihadapkan dengan urusan seorang wanita.


Cih tidak kusangka ternyata anda benar benar bodoh dalam perihal wanita, Tuan. gumam Marc.


Setelah beberapa lama pesanan sudah sampai. Zhie menatap makanan diatas meja itu dengan tatapan lapar seolah olah tak sabar menyantap habis makanan itu.


"Zhie makanlah dan berhentilah marah. Aku tidak pandai membujuk wanita. "


"Apa? Memang siapa yang minta dibujuk olehmu? Lagi pula jika kau memang tak pandai membujuk setidaknya jangan lah membuat marah, hatiku sedang tidak bersahabat sekarang. " jawab Zhie datar.


"Haha. Belum ada yang berani mengatakan ini kepadaku dan kau sudah mendahuluinya. Hebat sekali kau Nona Zhie, " jawab Gavin tersenyum licik.


Zhie tidak memperdulikan perkataan Gavin dan dengan cepat Zhie menyantap habis makanan didepannya itu.


Ini sangat enak! Seketika laparku langsung lenyap!


Zhie beralih menatap Gavin yang tak makan sama sekali. Justru hanya memandangi Zhie yang sedang asik makan dan menikmati makanan didepannya.


"Apa aku terlihat sangat rakus sekarang? " tanya Zhie mendongakkan kepalanya menatap manik mata Gavin.


"Tentu saja tidak, kau harus banyak makan sebelum hari pernikahan kita. Bukankah sudah ku katakan bahwa aku tidak ingin mereka melihat kau terlalu kurus dan rata begitu? "


"Kau! Beraninya! " kata Zhie sembari menuding wajah Gavin dengan garpu ditangannya.


"Apa? " tanya Gavin sok polos.


Melihat keadaan sudah membuat Zhie kembali mengalah. Ia tahu bahwa akhirnya pun ia akan dikalahkan oleh perkataa Gavin. Akan lebih baik memutuskan untuk diam dan mengalah daripada harus malu nantinya.


Tenanglah Zhie lebih baik sekarang kau fokus pada makananmu dan isilah perutmu sekenyang mungkin!


Setelah selesai dengan urusan perutnya Zhie menyandarkan tubuhnya dikursi restoran dan mengelus perutnya yang kekenyangan dan terisi penuh.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja bagi Zhie untuk menghabiskan makanan dihadapannya itu. Bahkan masih terasa muat jika dijejalkan beberapa dessert lagi.


Matanya beralih melihat Gavin yang sudah disibukkan dengan laptopnya. Memandangi laptopnya dengan wajah serius. Om ini terlihat sangat tampan sekarang dengan wajah seriusnya. Astaga Zhie! sadarlah dia bahkan 10 tahun tua darimu dan kau menikah dengannya pun karena daddymu menjualmu jadi jangan berharap lebih kumohon diriku tenanglah! gumam Zhie.


Suasana heningnya terpecahkan saat dilihatnya sosok pria dengan tatapan marah dan penuh kebencian memandangi Zhie dan Gavin yang tengah duduk berhadapan.


Dengan penuh amarah pria itu mendekati meja dimana Zhie dan Gavin sedang duduk. Dan lantas menggebrak meja itu yang membuat seisi cafe terkejut. Dan wajah Zhie kini terlihat pucat dan kaku bagai tak teraliri darah lagi.


"be...beby?! " pekik Zhie terkejut.


"Apa kau senang dengan kejutanku beby? " tanya Daniel dengan senyum licik yang membunuh.


Gavin menatap Daniel dengan marah dan penuh kebencian. Segera ia menutup laptopnya dan berdiri sejajar dengan Daniel. Diikuti Zhie yang kini ikut berdiri dan bersiap melerai mereka jika terjadi baku hantam meskipun takut akan terkena pukulan meleset lagi.