
Plapp!
Zhie membuka matanya. Pandangannya yang kabur kini kian jelas. Tubuhnya bangkit mencoba bangun dari tempatnya meskipun kepalanya terasa pening dan berat. Disampingnya seorang pria tertidur sembari duduk didekat tempat tidur. Menggenggam erat tangan milik gadis itu dengan erat.
Merasa ada gerakan yang mengusik tidurnya membuat pria itu membuka matanya dan mendongakkan kepalanya.
"Zhie? Kau sudah bangun? Apa ada bagian yang terasa sakit? Katakan!"
Gadis itu hanya mengerjap bingung.
"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?"
Gavin terdiam sejenak. Menatap mata coklat indah milik gadis di depannya.
"Hm."
Zhie menghela napas berat.
"Jujur saja aku tidak peduli apa hubunganmu dengan wanita itu."
Zhie menghentikan kalimatnya sejenak setelah melihat reaksi pria di depannya. Tampak pria itu menatapnya lurus.
"Tapi sadarlah om, Kau tidak bisa mempermainkan dua hati sekaligus. Aku tau kau masih mencintai mantanmu itu. Jadi aku mohon dengan sangat, biarkan aku saja yang kau lepas. Biarkan diri kita bahagia dengan pilihannya masing-masing dan jangan memaksakan. Aku akan mendoakan kebahagiaanmu begitupun aku juga akan mendoakan kebahagiaanku. Biarkan aku pergi tanpa harus terluka karena terlanjur mencintaimu. Kejarlah wanita yang kau cintai, hatimu berhak bahagia."
Ucap Zhie dengan wajah nanar. Matanya berkaca kaca dan memerah. Tangan dan tubuhnya terasa gemetar sekaligus dingin.
Sementara Gavin tergelak dengan kalimat yang dilontarkan Zhie. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Ia tak menyangka Zhie akan mengatakan semua itu. Jelas namun menohok.
"Zhie, aku...aku bisa jelaskan."
Kalimat Gavin terpotong dan disambar oleh Zhie.
"Kau tidak perlu menjelaskan apa apa padaku. Kau cukup lepaskan aku. Ceraikan aku maka semua akan selesai dan aku juga akan hidup damai dengan wanitamu. Mengerti?"
Gavin semakin dibuat tertegun saat Zhie mengatakan 'cerai'. Kalimat yang sangat ia benci justru terlontar dengan sangat mudah di mulut Zhie. Tengkuknya berdenyut.
Sekejap Gavin meraih tengkuk Zhie dan ******* habis bibir merah itu. Merasai setiap inci ruang dimulut itu. Sangat manis.
Tubuh mungil Zhie meronta ronta. Memukul dada bidang Gavin sekuat tenaga yang ia punya. Namun sia sia. Pria itu mendekapnya erat. Air matanya turun membasahi pipi. Dan membuat pria yang sedang brutal menghajarnya itu tersadar.
"Maaf."
Hanya kalimat itu yang dapat Gavin katakan sebelum melangkah pergi meninggalkan Zhie. Gavin masuk ke dalam mobilnya dan membanting kemudi. Mengacak rambutnya frustasi. Tujuannya kini hanya mendatangi tempat dimana dia bisa melupakan sejenak masalahnya.
****
"Sudah lah kau sudah cukup mabuk sekarang."
Seorang pria tergolek dimeja bar. Matanya terpejam dan mulutnya tak berhenti menggumam tidak jelas.
"Apa? Aku ingin satu gelas lagiii."
Pinta pria itu. Namun teman disampingnya hanya diam dan tidak menggubris ocehan tidak jelas itu.
"Lex aku antar Gavin pulang dulu. Dia sudah mabuk berat sekarang."
Kata pria itu kepada pemilik bar yang biasa disapa Alex. Kemudian pria itu mulai membopong tubuh tegap Gavin yang lemas tak berdaya. Untuk berdiri saja tidak sanggup.
Pria itu merasa heran karena tidak seperti biasanya Gavin mabuk berat seperti ini. Bahkan temannya itu enggan menceritakan permasalahan yang dihadapinya.
Sampai didepan rumah megah Gavin, seorang penjaga membukakan gerbang. Pria itu mulai memapah masuk.
Zhie yang hendak minum didapur terkejut mendengar suara bel rumah berbunyi dengan nyaring. Ini sudah malam dan masih ada yang bertamu. pikirnya.
Cekrekk.
Pintu terbuka tapi tidak terlalu lebar. Hanya itu jaga jaga siapa tahu seseorang dengan niat jahat yang datang. Zhie menatap heran seorang pria yang memapah Gavin yang tengah mabuk.
Segera Zhie mempersilahkan masuk. Dibawanya tubuh Gavin ke arah sofa ruang tamu dan diletakkan dengan hati hati.
"A..apa yang terjadi? Dan si..siapa kau? Kenapa suamiku?"
"Namaku Andreas, aku hanya mengantarkan temanku yang sedang mabuk di bar yang biasa aku kunjungi. Sepertinya dia sedang banyak masalah, mungkin masalah pekerjaan."
"Ah baiklah terimakasih tuan."
Pria itu mengangguk dan tersenyum. Mulai melangkah meninggalkan ruang tamu dan keluar. Zhie mulai kebingungan bagaimana cara ia membawa tubuh pria itu menaiki tangga.
Bagaimana ini masa iya aku tarik. Cih aku tidak setega itu.
"Argggh! Kau berat sekali si om!"
Zhie mengerang karena tubuh Gavin yang terlalu berat baginya.
Dengan susah payah Zhie membawa Gavin menaiki tangga yang jumlahnya lumayan banyak.
Ayolah Zhie ini anak tangga terakhir!
"Fuhh!"
Zhie membuang napas lega setelah sampai didepan pintu kamar. Kakinya bergerak menendang pintu itu agar terbuka. Dan meletakkan tubuh Gavin di tempat tidur.
"Aduhh bahuku sakit sekali. Tanganku serasa mau copot."
Zhie memutar tangannya. Melepaskan rasa pegal yang menyerang. Rasanya terasa seperti kram. Kakinya melangkah keluar menuju dapur. Ia melupakan tujuannya tadi. Aku kan mau minum. gumamnya.
Setelah minum Zhie sengaja membawa satu gelas berisi air dan berniat memberikannya kepada Gavin. Karena pria itu tidak sepenuhnya tertidur.
Pintu terbuka lebar. Tangannya kembali meraih knop pintu dan menutupnya hingga rapat tanpa menciptakan suara. Gelas itu ia letakan dimeja dekat lampu tidur.
Matanya kembali menatap Gavin. Tangannya tergerak membantu melepaskan sepatu Gavin dan jaketnya tanpa aba aba. Sampai dirinya terhenyak sendiri. Namun memutuskan untuk tetap membantu pria itu melepas sepatu dan jaket. Hatinya merasa iba melihat kondisi Gavin.
Tringg.
Dering ponsel yang terdengar nyaring mengejutkannya. Dilihatnya ponsel yang tergeletak di meja rias dan berkedip beberapa kali. Langkahnya mendekati keberadaan ponselnya dan meraih benda tua itu. Karena ponselnya memang tergolong jadul.
Zivana.
Zhie lo kemana aja si? Kemaren hape gue ilang terus ini ganti yang baru. Sorry banget ya gue nggak bisa jenguk lo katanya denger dengar lo lagi sakit. Tapi gue nggak tau alamat rumah suami lo itu.
Zhie terdiam sebentar.
Pantas saja nomornya tidak bisa dihubungi.
Kenzhie.
Iya nggak papa lagian gue udah sehat kok paling bentar lagi gue bisa masuk kuliah lagi.
Zivana.
Kemaren Pak Frans nanyain lo.
Kenzhie.
Terus lo jawab apa?
Zivana.
Ya gue jawab nggak tau lah orang emang gue nggak tau katanya lo nggak bales chat dari dia.
Kenzhie.
Ya gue sengaja aja nggak bales chat Pak Frans lagian gue nggak enak lah lo kan tau gue udah punya suami, om itu juga nggak suka pas tau Pak Frans nelpon gue. Oh iya kok Pak Frans punya nomor gue ya? Jangan bilang lo yang kasih?!
Zivana.
Aduh sorry banget ya, iya emang gue yang ngasih tapi bilangnya cuma buat nanyain tugas kok.
Zhie berdecak kesal dengan tingkah sahabatnya itu. Memijat kepalanya yang terasa sedikit pening. Ia menoleh saat terdengar gumaman tidak jelas dari tempat tidur.
Gavin mengguman pelan dan terdengar tidak jelas. Tubuhnya tergerak dan mulai bangkit. Zhie yang sedari tadi hanya memperhatikan kini mulai menghampiri.