
Setelah pertemuan itu Zhie kini merasa lebih lega karena syaratnya disanggupi oleh Ceo Gavin.Ia akan tetap merasa aman setelah menikah dan bisa tetap melanjutkan kuliahnya sampai ia lulus.
Zhie sudah memarkirkan mobilnya dihalaman rumahnya.Dengan tenang ia berjalan ke dalam rumah.Matanya terus mencari keberadaan kedua orang tuanya dan ingin mengatakan bahwa dirinya sudah menerima kenyataan bahwa dirinya akan dinikahkan dengan seorang Ceo tampan dan dingin yang sama sekali tak dikenalnya.
"Mommy? Daddy?" panggil Zhie.
Olivia mendengar suara anaknya memanggil pun segera menuruni tangga dan dilihatnya putrinya sedang duduk di sofa.
"Zhie? Sayang? Kau tak apa kan? Mommy sangat khawatir sayang." dengan cepat Olivia memeluk putrinya. Sementara Zhie membalas pelukan Olivia dengan hangat. Lalu dilihatnya daddynya menuruni tangga dengan wajah merasa bersalah.
"Daddy?" panggil Zhie kepada Edouard.
"Sayang, maafkan daddy," sahutnya sembari memeluk putri tercintanya.
"Daddy seharusnya Zhie yang minta maaf.Maafkan Zhie karena sudah berkata kasar dengan daddy maafkan Zhie karena sudah membentak daddy." jawab Zhie dengan mata yang siap menumpahkan air mata.
Edouard merasa heran mengapa dengan cepat Zhie dapat luluh dan kembali bersikap manis seperti biasanya.
"Sayang sudahh, daddy yang salah, daddy yang mengambil keputusan tanpa meminta pendapatmu." jawab Edouard.
"Tak apa daddy. Aku sudah menerima kenyataan ini, aku sudah siap untuk dinikahkan dengan Ceo itu." jawab Zhie penuh kepercayaan.
"Kau serius sayang?Kau tak lagi menolaknya?" tanya Edouard dengan mata berbinar.
"Aku serius daddy." jawab Zhie sembari menggenggam tangan Edouard.
"Oh terimakasih sayang, terimakasih!" jawab Edouard dengan bahagia.
Olivia menatap mata putrinya. Terlihat jelas tak ada sorot kebahagiaan. Sudah bisa dipastikan bahwa putrinya menerima ini dengan terpaksa.
"Sayang apa kau yakin?" tanya Olivia khawatir.
"Tentu mommy, aku sangat yakin kali ini." jawab Zhie berusaha tersenyum.
"Baiklah sayang, daddy akan menghubungi Tuan Gavin." kata Edouard mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
"Oh tak perlu daddy, aku sudah menemuinya dan sudah mengatakan bahwa aku mau menikah dengannya." jawab Zhie.
"Benarkah? Kapan kau menemuinya?" tanya Edouard.
"Baru saja daddy" Zhie berkata dengan nada terpaksa namun tak ada seorang pun yang menyadarinya bahwa yang ia lakukan semua ini sungguh terpaksa.
***
Malam ini kakaknya, Ken yang baru saja pulang bekerja di perusahaan Albert membantu daddy nya langsung mencari keberadaan adiknya.
"Mommy?Dimana Zhie?" tanya Ken setelah melepas jas dan dasinya.
"Zhie di kamar, pergilah dan hibur adikmu sepertinya Zhie belum sepenuhnya menerima pernikahan ini." jawab Olivia.
Dengan cepat Ken menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar adiknya.
Cekrekkk.
Setelah pintu terbuka dilihatnya Zhie sedang melamun menatap laptop nya.Entah apa yang sedang ia lihat.
"Zhie?" panggil Ken.Namun tak ada jawaban dari sang adik.Dengan segera ia menghampiri adiknya dan mengelus kepalanya pelan yang membuat Zhie berjingkit terkejut.
"Ya Tuhan kau mengejutkanku Kak" jawab Zhie sembari duduk menyila.
Ken hanya terkekeh melihat tingkah adiknya yang memang gampang sekali terkejut.
"Sedang apa kau? Ayo turun kita makan malam bersama." ajak Ken kepada adiknya.
"Baiklah aku akan segera menyusul, aku ingin cuci muka dulu." kata Zhie lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Huftt!!Ya Tuhan..bagaimana ini mengapa sekarang aku sangat khawatir untuk kedepannya." runtuk Zhie.
Setelah ia selesai dari kamar mandi, ia segera turun menuju ruang makan. Terlihat kakaknya, Ken, yang sedang sibuk dengan laptopnya dan daddy nya yang sedang membaca berkas berkas.Tanpa pikir panjang Zhie langsung menuju dapur tempat dimana mommy nya sekarang berada.
"Haii Mom!! Zhie bantuin ya" kata Zhie berusaha terlihat baik baik saja.
Sedangkan mommy nya, Olivia, memandang putrinya heran. Olivia tak yakin bahwa putrinya 100% menerima semua ini, ia yakin pasti putrinya sengaja untuk terlihat baik baik saja agar semua orang tak khawatir.
"Sayang, kau duduklah! biar mommy yang menyelesaikan ini" jawab Olivia tersenyum ramah.
"Ishh..mommy! Aku kan sedang belajar, bukankah sebentar lagi aku akan melakukan hal ini setelah aku menikah?" jawab Zhie yakin.
Entah mengapa mendengar kalimat putrinya itu membuat dada Olivia sakit.
(Sayang mengapa kau terus berpura-pura? jika saja kau tak mau menerima pernikahan ini pasti mommy akan membantumu sayang..mommy tak akan tega melihat putri mommy sedih dan terpukul.) gumam Olivia dalam hati.Hampir saja kalau dirinya tak kuasa menahan air matanya, ia pasti sudah menangis di depan putrinya.Namun ia harus tetap terlihat kuat di depan putrinya untuk menguatkan hati buah hatinya.
"Emm..sayang kau siapkan piringnya saja, biar mommy yang menyiapkan makanan." kata Olivia sambil menunjuk piring yang masih tertata rapih di rak.
"Tidak tidak..Zhie mau menyiapkan makanannya biar mommy yang menyiapkannya piringnya.Zhie mau belajar memasak mom" jawab Zhie antusias.
"Baiklah sebentar lagi sop nya matang, kau hanya perlu menunggunya 5 menit lagi lalu masukkan bawang gorengnya, mengerti?" kata Olivia menjelaskan.
"Siapp mommy, lalu apa mommy sudah memasak tumis?" tanya Zhie.
"belum sayang" jawab Olivia.
"Baiklah kalau begitu Zhie saja yang memasak" kata Zhie menuju kulkas dan mengambil beberapa sayuran untuk di tumis.
Olivia hanya memandang putrinya dengan tatapan sayu.Sementara dirinya masih terus mengambil piring piring di rak.Tatapannya tak beralih yang terus memandang putrinya.
Prakkk!!
Suara benda jatuh dan pecah itu mengejutkan Zhie.Lantas dengan cepat ia berlari ke arah mommy nya.
"Mommy? mommy tak apa kan? apa ada yang terluka?" tanya Zhie tanpa melihat ke bawah hingga satu pecahan kaca itu menancap di kakinya.
"Shhttt auww!" pekik Zhie kesakitan.
"Zhie?! Sayang?! Astaga mengapa kau tak hati hati?" tanya Olivia khawatir sambil melihat ke arah kaki Zhie yang terluka.Terlihat jelas ada kaca yang menancap dalam di sana.
"Mommy ada apa?" tanya Ken yang baru saja datang karena terkejut mendengar benda jatuh dan pecah.Seketika matanya terbelalak melihat adiknya berjalan terpincang-pincang yang dibantu mommy nya sementara kaki Zhie meneteskan banyak darah di lantai.
"Ken tolong bawa adikmu ini, Zhie tak sengaja menginjak pecahan piring biar mommy membersihkan pecahan piring kau bawalah Zhie dan bersihkan lukanya" jawab Olivia.
Dengan sigap Ken membopong tubuh mungil adiknya dan menuju ruang makan.Edouard yang melihat Zhie di bopong oleh Ken langsung berdiri dan terpasang wajah khawatir saat melihat pecahan kaca menancap di kaki putrinya.
"Zhie?Apa yang terjadi?bagaimana bisa kau menginjak pecahan kaca itu?mari daddy bantu." kata Edouard menghampiri putrinya yang sudah duduk di meja makan.
"Ken, cepat ambilkan kotak P3K " sambung Edouard.Dengan hati hati Edouard mencabut pecahan kaca itu dan Zhie dengan cepat mencengkram pundak daddy nya dengan kuat menahan perih.
"Shhttt" pekik Zhie.
"Ini dad kotaknya" Ken menyerahkan kotak P3K kepada daddy nya.
"pelan pelan dad, Zhie sangat kesakitan." kata Ken yang tak kuasa melihat adiknya meringis kesakitan.
"Tak apa kak, ini hanya luka kecil. Aku bisa menahannya." jawab Zhie tersenyum sangat manis.Banyak sekali luka yang ia sembunyikan di hatinya.
Haiii Guys Terimakasih sudah mampir๐๐๐
Jangan Lupa di Like dan di Vote ya๐๐