In Love With My BFF {BL}

In Love With My BFF {BL}
Chap 31 - Plan B



Aku melihat pemandangan luar dari dalam ruangan ini. Jendelanya cukup besar, aku yakin aku bisa keluar lewat sana. Tapi masalahnya, aku tak tau ini di lantai berapa. Dan juga, tangan dan kakiku terikat.


Ceklek


Rian masuk ke dalam. Ia berjalan ke arah kasur tempatku duduk.


"Rian..." panggilku pelan.


"Hmm?" Balasnya, berdehem. Aku menarik panjang nafasku.


"Bisakah kau bantu aku keluar dari sini?" Tanyaku ragu. Rian tampak berpikir sejenak.


"Maaf aku tak bisa Kev. Ini tugas yang Kuro berikan padaku untuk menjagamu agar tidak keluar dari tempat ini." Jawabnya. Wajahku yang tadinya semangat berubah menjadi muram.


"Maaf ya, tapi aku tidak bisa." Ujarnya, lagi.


...***...


^^^Kenzi's POV^^^


Kuro mengirimiku pesan setiap hari. Sudah 2 minggu ini dia menelponku dan mengirimiku pesan. Ia bilang jika ingin Kevin lepas, aku harus menjadi pacarnya terlebih dahulu.


"Sialan!" Aku melemparkan handphoneku keatas kasur. Amanda yang sedang duduk di kursi meja belajarku pun melirikku.


"Kenapa lagi? Dia ngancam lagi kah? Kalau dia macem-macem bilang aja, biar gua yang bogem ampe mati." Tanya Amanda.


Aku mengangguk. "Iya, dia ngancam gue, dia bilang kalau gua gak mau pacarnya, Kevin gak akan pernah dia lepasin. Tapi kalau misalnya gua mau jadi pacarnya, dia bakalan ngelepasin Kevin."


"Bentar-bentar... gua dapet ide anj!" Seru Amanda kegirangan.


"Ide? Ide apaan?" Tanyaku.


"Coba deh, lu bilang ke Kuro kalau lu mau jadi pacarnya!" Kata Amanda.


"Hah?! Apa-apaan lu?! Udah gila ya?!" Tanyaku.


"Gua belum selesai ngomong, kampret!" Ujarnya.


"Jadi gini, lu pura-pura mau jadi pacarnya si Kuro. Terus lu tanya lokasi dia tinggal dimana, pura-puranya lu mau ngasih surprise, padahal lu mau nyelamatin si Kevin? Gimana?" Jelas Amanda.


Aku mangut-mangut, mencerna ucapan Amanda. Kemudian berpikir sejenak.


"Nahh! Tumben lu pinter!" Ujarku.


"Jelaslah, Amanda gitu loooh!" Katanya membanggakan dirinya.


Baiklah, misi penyelamatan Kevin dimulai!


.


.


.


"Udah di bales belum?" Tanya Amanda.


"Belum..." jawabku.


BRAAAK


Amanda menonjok tembok kamarku hingga sedikit retak. Sial, sepertinya dia terlalu banyak nonton Anime.


"Bangsul..." gumamnya. Aku bergidik ngeri melihat Amanda, bukan karena takut, tapi karena merasa aneh.


"Man... temboknya retak." Ucapku. Amanda melirikku lalu melirik tembok yang sudah ia retakkan.


"Eh? Hehe... maap terlalu terbawa suasana gua." Katanya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Dasar wibu, udah gitu fujoshi lagi." Ledekku.


"Mau gua tendang ala Mikey hah?!" Tanya Amanda.


"Gak maka-" ucapanku terhenti oleh notifikasi di handphoneku.


"Man..." aku memanggil Amanda. Amanda mendekatiku lalu merebut handphone yang sedang kupegang.


"Wih, dia bales!" Serunya.


"Benarkah? Apa kau sedang tidak merencanakan apapun?" Itulah isi pesannya.


"Gak kok..." Amanda mengetik dengan cepat lalu mengirimkannya.


"Semoga berjalan sesuai rencana, kalau gak berhasil, kita pakai Plan B." Kata Amanda.


"Plan B?" Tanyaku.


"Iya, Plan B." Jawab Amanda, sok misterius.


"Man..." panggilku.


"Apaan?"


"Lu jangan mikirin rencana yang aneh-aneh dah, please! Soalnya kita ini mau nyelamatin Kevin, bukan mau balas dendam atau apapun!" Seruku. Amanda terdiam.


"Iya, aku tau. Dan rencana ini tak akan berdampak buruk pada Kevin, melainkan diriku sendiri." Katanya.


"Hah? Maksud lu apa?" Tanyaku.


"Plan B, I will save him no matter what the cost, gua bakalan nyari tau dimana rumah Kuro terus ngancem dia. Kalau dia ngeroyok gua pake bodyguardnya, gua gak peduli. Karena, gua bakalan nyelamatin Kevin, apapun yang terjadi gua bakalan tetep nyelamatin dia."


Fix sih, Amanda terlalu banyak nonton Anime. Tapi, ucapannya itu ada benarnya juga. Aku juga akan menyelamatkan Kevin, apapun rintangannya.


...***...


T.B.C