
Ketika masuk SMP, Amanda kurang bersemangat karna ia tau bahwa nanti akan ada yang namanya MOS, pidato dengan isi bac'tan kakak kelas yang tidak berfaedah, dan lain-lain. Itu membuat Amanda pusing dan memutuskan untuk pura-pura pingsan agar ia bisa beristirahat di UKS.
Ketika ia hendak menjatuhkan diri, ia melihat Kenzi yang menabrak seseorang. Amanda mengurungkan niatnya dan terus melihat Kenzi.
"Jadi itu ya orang yang namanya Kevin?" Batin Amanda.
Lalu, Amanda melihat Kenzi yang pergi meninggalkan Kevin.
"Ckck, punya temen b€g* bener..." Batin Amanda.
Lalu, Amanda menyusul Kenzi yang kelihatannya pergi perpustakaan.
"Ken.." kata Amanda sambil menepuk bahu Kenzi.
"Ha? Oh Amanda..." kata Kenzi sedikit kaget.
"Itu.... itu tadi Kevin?" Tanya Amanda.
"Iya, dia Kevin. Cantik kan?" Tanya Kenzi pada Amanda.
"Cantik, jadi... lu semenya kan?" Tanya Amanda.
"Hah?" Kenzi menatap Amanda dengan mimik wajah yang kebingungan.
"Emmm, itu loh... seme itu nusuk terus uke itu yang... di tusuk. Paham gak?" Kata Amanda menjelaskan.
"M... maksudnya?" Tanya Kenzi.
"Maksudnya... yang nusuk ke hole, lu apa dia?" Kata Amanda balik nanya.
"Eehhh? Ngapain lu nanya begituan?" Tanya Kenzi.
"Yaa, aku cuma penasaran. Gak boleh gitu penasaran?" Tanya Amanda.
"Ck, bukannya gitu cuma... ahh udahlah banyak nanya lu!" Kata Kenzi lalu pergi meninggalkan Amanda.
...***...
Pulang sekolah tidak terlalu sianh, karna ini masih hari pertama masuk ke sekolah. Amanda melihat Kenzi dan Kevin yang terlihat lumayan dekat. Ia tersenyum melihat Kevin dan Kenzi bersama.
Sepanjang perjalanan pulang, ia hanya melamun. Sejujurnya, Amanda sedikit menyukai Kenzi. Tapi ia tidak tau itu rasa cinta atau rasa kagum. Tapi setelah mendengar bahwa ia menyukai seseorang dan itu adalah laki-laki, membuat Amanda ingin move on dan melupakan perasaannya untuk Kenzi.
"Untung gua Fujo, yaahhh mungkin ini cuma kagum sama dia..." batin Amanda.
Amanda merasakan air yang membasahi tubuhnya, hujan turun dengan deras begitu juga dengan air mata Amanda. Ia menangis bukan karna sakit hati, tapi karna bahagia. Bahagia? Iya, ia bahagia orang yang di sukainya menyukai laki-laki. Amanda akan mendukungnya dan melindungi keduanya.
"Mungkin ukenya Kevin, aku akan selalu melindungimu... Kevin." Batin Amanda.
...***...
Sesampainya di rumah, Amanda tidak melihat ibunya di manapun. Jadi ia langsung masuk ke rumah dalam keadaan rambut dan bajunya yang basah.
Amanda pergi untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Ia melihat langit di luar, sangat gelap.
"Mungkin mamah lembur lagi..." gumam Amanda.
Beginilah hidup Amanda, selalu kesepian. Ibu selalu lembur, ayahnya tak peduli padanya, dan ayah tirinya adalah satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya harus bekerja dan berada sangat jauh darinya.
"Andai hidupku seperti kehidupan orang lain..." wajah Amanda terlihat sangat murung.
Amanda mengambil handphonenya yang berada di atas nakas. Sekarang ini ia membutuhkan hiburan.
"Andai diriku yang berada di luar tetap sama dengan diriku yang berada di sini..." gumam Amanda.
Jam 22.17
Amanda melihat jam di handphonenya, sekarang menunjukkan pukul 22.17. Amanda masih belum mengantuk. Kemudian, ia mendengar ada seseorang yang masuk ke rumahnya.
"Pasti mamah." Batin Amanda.
Amanda menaruh handphonenya di meja nakasnya lalu pergi tidur.
"Selamat malam... aku."
-T.B.C