In Love With My BFF {BL}

In Love With My BFF {BL}
Chap 23 - Two Faces



...Author's POV...


"Hah? Gua di rumah. Kenapa emangnya?" Tanya Kenzi.


"Ken.. lu jelasin. Kenapa si Kevin nangis? Dia nangis sampai terisak-isak loh! Lu apain dia hah?" Bentak Amanda.


"Hah?"


......***......


...Kenzi's POV...


Rasa bersalah menguasai tubuhku. Ah sial, kenapa aku bisa membuatnya menangis? Andai kemarin Kevin tidak bertanya, semuanya pasti akan baik-baik saja.


"Dah lah Man, gua pusing mau tidur!" Ucapku lalu mematikan telponnya.


Aku melempar handphoneku ke kasur. Ku rebahkan ku tubuhku di kasur sambil menutup mata ku dengan lenganku.


"Haahhh..." aku menghela nafasku kasar.


"Aku harap kamu baik-baik saja, Kevin." Batinku.


Tak lama kemudian, aku tertidur.


...***...


...Kevin's POV...


Amanda melempar handphonenya ke sofa. Padahal aku yang menangis, tapi dia yang marah dan frustasi.


"Udah-udah Amanda, gak apa-apa kok." Ucapku padanya.


Jujur, saat ini aku berpikir bahwa Amanda bukanlah Amanda yang aku pikirkan selama ini. Sekarang ini aku melihatnya sebagai orang yang perhatian, tapi dia juga orang mudah marah. Aku pikir selama ini dia adalah orang yang banyak bicara hal yang tidak penting, bawel dan tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Tapi, aku salah.


"Ck, sialan..." gumam Amanda tapi aku masih bisa mendengarnya.


"Man..." panggilku.


"Hm? Iya Kevin?" Jawabnya sambil tersenyun padaku.


"Emm, itu... emm... hubungan... kamu, Kenzi sama Kuro itu apa?" Tanya ku sedikit ragu.


"Ahhh, itu...." Amanda terlihat tidak yakin untuk menjawabnya.


"Hm?"


"Itu.... ahaha..." dia tertawa kecil.


"Apa?" Tanyaku lagi.


"SAWARASENAI! KIMI WA SHOUJO NA NO? BOKU WA YARICHIN BICCHI NO OSU DA YO!" Bukannya menjawab ia malah berteriak.


"Oyyy! Jawab!" Ucapku lagi.


"Ahhaahaa... oke-oke..." ucapnya.


Kemudian, Amanda duduk di sampingku.


"Jadi?" Tanyaku.


"Emmm, sebenernya aku juga gak tau hubungan Kenzi sama Kuro itu apa. Tapi, Kenzi cuma nyuruh aku buat ngejauhin kamu dari Kuro. Kurang lebih begitu." Jawab Amanda.


"Itu doang? Gak ada lagi?" Tanyaku yang di jawab anggukkan oleh Amanda.


"Tapi kenapa dia marah? Padahal aku cuma nanya satu pertanyaan doang." Kataku.


"Hiks..." aku kembali menangis.


"Haaahh, jangan dong. Jadi Uke harus kuat!" Kata Amanda menyemangatiku.


Aku mengangguk dan menghapus air mataku.


"Dah ya, aku mau pulang dulu. Jangan nangis! Bye~" ucap Amanda.


Ia segera pergi dan sekarang aku kembali sendirian di rumah.


"Haahhh..." aku menghela nafasku.


"Kenapa jadi begini?" Batinku.


...***...


2 hari telah berlalu. Sekarang adalah hari Senin. Aku bersiap-siap akan berangkat ke sekolah. Tapi aku yakin hari ini tidak ada upacara bendera. Kenapa aku tau? Hujanlah yang memberitahunya.


Aku memakai hoodie putih ku dan segera berangkat ke sekolah.


Sesampainya di sekolah, aku segera pergi ke kelas. Aku melihat Kenzi, ia terlihat begitu suram. Ingin sekali aku menyapanya, tapi aku takut jika dia hanya diam saat aku menyapanya.


"Pagi Man." Sapaku pada Amanda.


"Pagi Kev." Jawabnya.


"Tumben Bu Mira belum dateng." Ucapku.


"Mene ketehe, tapi gua bersyukur kalau dia gak dateng. Kalau dia gak dateng artinya kita dapet jamkos." Kata Amanda sambil tersenyum jahat.


Aku duduk di samping Amanda sambil membaca buku. Sedangkan Amanda, dia sedang fokus pada handphone yang ia taruh di dalam tasnya. Aku tau kenapa dia menyembunyikannya, dan aku tau apa yang sedang dia lihat.


Tak lama kemudian, Bu Mira datang ke kelas. Amanda menghela nafasnya. Dia kelihatan begitu kecewa.


"Yaah... kirain jamkos." Ucapnya sambil memasang wajah cemberutnya.


...***...


"Oke segitu dulu ya pelajaran hari ini, Ibu permisi." Ucap Bu Mira sambil meninggalkan kelas.


"Kev ke kantin yuk." Ajak Amanda.


Aku celingak celinguk mencari Kenzi, tapi sepertinya dia tidak ada.


"Gak ah." Ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Ohh gitu ya? Ya udah kamu mau kemana?" Tanya Amanda lagi.


"Ke taman belakang mau?" Ajakku.


"Boleh." Jawabnya lalu menarik tanganku.


"Ehh tunggu!" Kataku.


"Kenapa lagi?" Tanya Amanda.


"Kenzi kemana?" Tanyaku, jujur aku khawatir padanya.


"Haaaa? Kamu masih khawatir sama dia? Ya ampun uke satu ini setia banget." Kata Amanda sambil mencubit pipiku.


"Ahhh, udahlah~ kita ke kantin dulu yuk habis itu baru ke taman." Ajak Amanda sambil menarik tanganku. Aku hanya bisa pasrah dan mengikutinya.


Sesampainya di kantin, Amanda menyuruhku duduk dan tidak pergi ke mana-mana. Aku menuruti perkataannya.


Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Aku kira itu Amanda, ternyata itu Kuro.


"Ku... Kuro?"


"Halo Kevin!" Ucapnya sambil tersenyum.


"Boleh gak aku duduk di sini? Boleh ya? Ya?" Tanya nya.


"Yeyyy makasih!" Katanya.


"Oh iya, omong-omong Kenzi kemana? Tumben gak sama kalian berdua." Tanya Kuro.


"Uhm... itu... aku gak tau." Jawabku.


Aku menundukkan kepalaku. Aku sekuat mungkin menahan tangisanku.


"Uh.. uhmm... oh iya, aku boleh nanya sesuatu gak?" Tanyaku.


"Boleh! Tanya aja." Jawabnya sambil tersenyum manis.


Aku heran kenapa Amanda dan Kenzi melarangku untuk dekat dengannya. Padahal dia adalah orang yang cukup baik dan ramah.


"Uhm... hubungan kamu, Kenzi sama Amanda itu apa ya?" Tanyaku.


"Ehh? Hubungan kita bertiga ya? Bukannya hubungan kita berempat?" Ucapnya.


"Berempat?" Tanyaku kaget.


"Iya, berempat." Ucapnya.


Rasa penasaran ku semakin menjadi-jadi. Berempat? Apa maksudnya Aku, Kenzi, Amanda dan Kuro?


"Maksudnya kita berempat apa?" Tanyaku.


"Sebenernya itu--" ucapan Kuro terpotong karna kedatangan Amanda.


"Oy! Kev, yuk kita pergi!" Ajak Amanda.


"Ah i..iya!" Jawab ku.


"Dasar kembaran Yachaan!" Kata Amanda sambil menatap tajam Kuro.


"Dah yuk kita pergi aja!" Kata Amanda.


Kemudian, ia menarik tanganku dan pergi meninggalkan Kuro.


...***...


"Hey! Amanda!" Panggilku.


"Apa?" Jawabnya.


"Tangan aku sakit!" Ringis ku.


"Oh iya! Haha... lupa, maaf." Katanya.


"Man seb-" ucapanku di potong olehnya.


"Kenapa? Mau nanya? Entar aja kita ke taman dulu!" Kata Amanda.


JEDEERRR!


Terdengar suara petir dari langit.


"Mau hujan deh kayaknya, balik ke kelas aja yuk?" Ajak ku. Amanda mengangguk dan kami pun kembali ke kelas.


Sesampainya di kelas kami duduk di bangku kami. Dan Amanda menyodorkan roti kepadaku.


"Aman-" lagi-lagi ucapanku di potong olehnya.


"Rotinya enak ya?" Ucapnya.


"Amandaaa!"


"Iya kenapa?" Jawabnya santai.


"Haahhh, aku kan--"


"Liat tuh ujan deres banget! Keknya habis ini mati lampu deh!" Ucapnya.


"Ck.. dahlah gak jadi!" Kataku.


...***...


Pulang sekolah, hujan masih saja turun. Aku terpaksa harus menunggu di lobby sekolah. Sedangkan Amanda sudah pulang dengan alasan ayahnya sudah menjemputnya.


"Tumben banget Amanda di jemput sama bapaknya." Batinku.


Aku melamun sambil melihat satu per satu air turun dari langit. Sekelebat ingatan muncul di pikiranku.


...***...


Saat itu hujan sedang turun deras-derasnya. Sama seperti hari ini, aku sedang menunggu di lobby. Bisa saja sih aku pulang-pergi sekolah menaiki mobil, tapi kan aku tidak bisa mengendarai mobil. Dan aku juga malas menyewa supir.


Aku merasa ada telapak tangan menutup mataku.


"Si- siapa?" Tanyaku.


"Ini aku." Kata Kenzi, berbisik tepat di telingaku.


Kenzi melepaskan kedua telapak tangannya dari mataku.


"Ihhh ngagetin aja." Ucapku.


"Hahaha..." Kenzi tersenyum manis kepadaku.


Blush, wajahku memerah melihat senyumannya.


Ia membuka payungnya.


"Balik bareng yuk?" Ajaknya sambil menggandeng tanganku, aku mengangguk dan pulang bersamanya.


...***...


Aku tersenyum mengingat hal itu.


"Keeeeviiin." Panggil seseorang.


"AAAHHHH" aku berteriak karna kaget.


"Ku- Kuro?"


"Dih, kok kaget banget sih? Biasanya aja kali." Ucapnya.


"Ehm... kenapa Ro?" Tanyaku.


"Minta nomor WA kamu boleh gak?" Tanyanya.


"Ha? Emhh, boleh." Jawabku.


Kami bertukar nomor telpon. Ia tersenyum senang.


"Ahhh~ makasih ya! Bye aku pulang duluan!" Pamitnya dan pergi meninggalkan ku.


"Ah, hujan nya udah berhenti." Gumamku.


...Author's POV...


"Heheh, kalian semua akan masuk ke dalan jebakkan ku. Sungguh sangat mudah untuk di tebak." Gumam Kuro, ia tersenyum jahat.


"Hihi..."


-T.B.C