
Waktu tempuh dari kota C ke kota G cukup lama. Butuh waktu 3 jam untuk sampai ke sana. Sesampainya di sana Amanda masuk duluan ke suatu rumah kosong. Tapi, ia kaget karena tak melihat siapapun di sana.
"What the hell?!" Ucap Amanda.
Amanda celingak-celinguk.
"Apa Kuro mengerjai kami?" Batin Amanda, kesal.
Lalu Amanda menelusuri rumah tersebut, tapi hasilnya nihil. Tak ada siapapun di sana. Ia menghentakkan kakinya sekeras mungkin karena kesal.
"B"ngs"t!" Umpat Amanda.
Lalu, Amanda memilih keluar dari rumah tersebut. Ia masuk ke dalam mobil memelototi Alvin.
"Kenapa?" Tanya Alvin.
"Apa kau berbohong kepada ku?" Kata Amanda balik nanya.
"Tidak, kenapa? Apa dia tak ada di sana?" Tanya Alvin.
"Gak ada! Kau cari aja sendiri! Rumahnya kosong gak ada orang!" Seru Amanda.
"Licik..." gumam Alvin pelan.
"Lalu sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Amanda entah pada siapa.
"Hanya ada 1 cara, tapi itu sangat rumit." Jawab Alvin.
"Hah?"
"Kenzi... iya, dia harus berpacaran dengan Kuro." Kata Alvin.
"Hah?! Lu gila ya?! Sadar wooyyy sadar!!!" Kata Amanda sambil menggoyang-goyangkan tubuh Alvin.
"Dengerin dulu makanya!" Kata Alvin.
"Oh? Masih ada lanjutannya?" Ucap Amanda.
"Ya masihlah!" Jawab Alvin.
"Jadi, Kenzi harus pacaran sama Kuro selama beberapa hari." Kata Alvin sedangkan Amanda sedang menyimak dengan sangat serius.
"Kenzi harus memohon pada Kuro agar ia melepaskan Kevin. Dan saat Kuro sudah melepaskan Kevin, aku akan mendekatinya." Lanjut Alvin di sertai senyuman jahat.
"Bucin." Kata Amanda dengan suara yang sangat pelan.
"Jadi, gimana?" Tanya Alvin.
"Ahh~ iya iya boleh juga..." jawab Amanda sambil tersenyum.
"Ayok kita pulang aja." Kata Amanda.
"Hope you are fine, Uke Boy." Batin Amanda.
...***...
Akhirnya Kuro melepaskan penyumbal di mulutnya. Tapi tangan dan kakinya terikat, itu membuat Kevin tak bisa bergerak.
"Sial, sampai kapan aku begini terus?" Batin Kevin.
"Aku mau pulang..." Gumamnya.
Ceklek...
Seseorang membuka pintu dan itu adalah bawahan Kuro, panggil saja dia Rian. Rian membawakan Kevin bubur dan segelas air. Jujur, saat ini Rian merasa sangat iba dan kasihan dengan kondisi Kevin.
Kevin hanya membuang muka ketika Rian mendekatinya dan duduk di sampingnya. Wajah Rian memang cukup tampan, sehingga siapa pun yang melihatnya pasti langsung jatuh hati padanya.
"Makanlah..." Kata Rian sambil menyodorkan sendok di depan bibir Kevin.
"Gak! Gak mau! Nanti kalau buburnya di kasih racun gimana?" Tanya Kevin membuat Rian terkekeh pelan.
"Nggak, nggak di kasih racun kok. Tenang aja." Kata Rian sambil tersenyum manis.
"Beneran kan?" Tanya Kevin polos.
"Iya, beneran." Jawab Rian.
"Gak! Aku tetep gak mau!" Kata Kevin.
"Haaahh... susah banget sih kek ngasih makan bocah." Gumam Rian pelan.
"Hah?! Apa-apaan?! Gue bukan bocah tau gak?!!" Kata Kevin tak terima.
"Manisnya...." Batin Rian. Rian tersenyum melihat tingkah laku Kevin yang seperti anak TK.
"Jadi mau makan gak nih?" Tanya Rian.
"Cih, iya-iya mau!" Jawab Kevin.
Lalu, Rian menyuapi Kevin. Rian merasakan perasaan aneh, jantungnya berdebar dengan sangat cepat, ia merasa nyaman saat berada di Kevin.
"Aku.... sepertinya aku menyukainya." Batin Rian.
...***...
Praang!
Piring yang sedang di cuci oleh Amanda pecah. Perasaannya tak enak.
"Apa rencananya akan berhasil?" Batin Amanda.
Lalu, Amanda membersihkan serpihan-serpihan piring yang sudah hancur.
"Aku harap, semuanya baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana..."
-T.B.C