IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
sembilan



"Kenapa kamu nggak ikut casting aja?"


Bang Odi, sutradara ftv yang dibintangi Steven dan Eva, mengambil tempat duduk di sebelah Aya tanpa permisi. Syuting sedang break selama beberapa menit. Steven masih sibuk membaca naskah di sudut sana bersama beberapa pemain figuran lainnya.


Aya menyunggingkan senyum tipis mendengar teguran Bang Odi. Rasa-rasanya Aya pernah mendapat tawaran yang sama beberapa waktu lalu, tapi gadis itu menolak. Ia merasa tak punya cukup kemampuan untuk berakting di depan kamera. Lagipula Steven bisa murka kalau Aya benar-benar menerima tawaran Bang Odi.


"Nggak, Bang." Untuk ke sekian kali Aya harus mengucapkan penolakan yang sama.


"Kenapa? Kamu masih belum percaya diri?"


Aya menelan ludah. Tawaran menjadi aktris memang menggiurkan. Ia bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah lebih banyak dari yang dilakukannya sekarang. Utang ayahnya juga bisa terbayarkan. Tapi, hati Aya belum tergerak sampai detik ini. Mungkin ia bisa berubah pikiran suatu hari nanti.


"Kamu bisa belajar, Aya." Bang Odi bersuara karena Aya masih menutup mulutnya. "Nggak ada yang tiba-tiba bisa berakting bagus. Contohnya Steven. Di awal-awal karirnya sebagai aktor, akting Steven sangat kaku. Tapi dia terus belajar dan nggak menyerah. Yang penting kamu harus banyak bertanya pada orang yang lebih mengerti soal akting."


"Iya, Bang," kekeh Aya.


"Aku pergi dulu, ya. Syutingnya mau mulai," pamit Bang Odi usai mendapat kode dari salah seorang krunya. Laki-laki bertubuh gempal itu menepuk pundak Aya sebelum meninggalkan tempat duduknya.


Sewaktu Aya masih kecil, ia sempat bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Menurutnya, menjadi seorang dokter itu keren karena dokter bisa mengobati para pasiennya. Selain itu, seorang dokter juga mengetahui berbagai macam jenis penyakit, cara pencegahannya, dan cara penanggulangannya. Cita-cita itu semakin terpatri kuat dalam benak Aya ketika ibunya divonis mengidap penyakit kanker payudara. Namun, sayangnya cita-cita itu harus memudar seiring berjalannya waktu. Kuliah di fakultas kedokteran membutuhkan biaya yang sangat mahal, lagipula Aya tak yakin otaknya mampu menerima pelajaran medis. Yang pasti, menjadi seorang aktris sama sekali tak pernah terpikirkan oleh gadis itu.


"Tadi Bang Odi merayu kamu?" tegur Steven setengah berbisik saat kegiatan syuting hari ini telah usai. Para kru sedang sibuk membereskan peralatan, jadi mustahil jika mereka akan menguping percakapan Steven dan Aya yang juga tengah berkemas. Setelah ini Steven harus datang ke stasiun televisi untuk syuting sebuah talk show.


"Lalu? Kenapa dia mendekati kamu?" Steven menyamakan langkahnya dengan Aya dan terus mengutarakan rasa ingin tahunya.


Aya mengembuskan napas kesal, namun gadis itu tak berusaha menghentikan langkah. Suasana hatinya sudah buruk sejak tadi pagi dan saat Bang Odi mengajaknya bicara, Aya telah berusaha mengesampingkan semua itu. Tapi, berkat Steven, suasana hatinya malah bertambah kian buruk. Seperti bencana sedang melanda pikirannya.


"Kamu tahu kan, Bang Odi sudah punya istri? Anaknya dua dan dia terlalu tua untukmu. Kamu nggak sadar?" Steven mengoceh seolah tahu segalanya. Padahal Aya masih membungkam bibir dan belum memberikan satu petunjuk pun.


"Aku sudah bilang kan, Bang Odi nggak merayuku," tandas Aya ketika mereka sampai di tempat parkir. Bahkan Pak Jo buru-buru membukakan pintu untuk majikannya.


"Lalu?"


"Bang Odi menawariku agar ikut casting, tapi aku menolak. Sekarang kamu puas?"


Steven terpaku untuk beberapa detik. Jadi, Bang Odi menawari Aya agar ikut casting? Memangnya apa yang bisa dilakukan Aya? batin Steven sambil cengar cengir sendirian. Alangkah lucunya jika Aya yang ceroboh itu main drama dan berperan sebagai office girl misalnya.


"Bagus. Memang seharusnya kamu menolak tawaran Bang Odi. Lagipula belum ada peran yang cocok buatmu, Aya," ucap Steven sambil menepuk pundak Aya berulang kali sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Ia mengulum senyum bahagia melihat ekspresi bodoh yang ditunjukkan gadis itu. Aya memang lebih pantas menjadi seorang manager artis ketimbang menjadi aktris. Selain aktingnya yang bisa dipastikan buruk, wajahnya juga kurang komersil. Gadis itu juga kurang tinggi dan tidak cantik. Penampilannya jauh dari kata modis dan jujur Steven enggan untuk mengganti managernya. "Apa kamu mau berdiri di sana seharian? Cepat masuk! Kita harus pergi ke stasiun televisi, kan?!"


Aya mencebik mendapat teriakan dari bibir Steven. Gadis itu bergegas masuk ke dalam mobil seperti yang Steven perintahkan.


***