IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
dua puluh empat



"Kamu di mana? Kenapa belum datang ke sini?"


"Aku sedang ada di mal. Sebentar lagi aku ke sana," balas Aya seraya memilih-milih boneka beruang Teddy di dalam rak. Padahal semua boneka beruang yang menempati rak di depan mata Aya sama. Mereka berwarna pink dan ukuran mereka juga sama. Tapi gadis itu tampak kebingungan harus membeli yang mana.


Sebenarnya untuk siapa ia membeli boneka beruang itu? Apa untuk Steven?


"Di mal?!" Suara Steven terdengar panik dari ujung sambungan telepon.


"Iya, ada sesuatu yang harus kubeli. Apa kamu mau menitip sesuatu? Pizza? Ayam goreng?" tawar Aya dengan nada santai.


"Memangnya apa yang harus kamu beli di mal? Memangnya di tempat lain nggak ada?" cerocos Steven terdengar kesal. Tentu saja ia merasa kesal setelah mendengar pengakuan Aya. Bagaimana ia bisa jalan-jalan di mal sementara Steven terkurung di dalam apartemennya sendirian? Kelaparan pula. Steven merasa ini sangat tidak adil untuknya.


"Kamu ingat Naura, kan? Dia putrinya Pak Jo. Besok dia ulang tahun dan aku sedang mencari hadiah untuknya. Apa kamu mau menitip hadiah juga?" Kebetulan kartu kredit milik Steven masih ada dalam genggaman Aya, jadi gadis itu tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu Steven minta dibelikan sesuatu olehnya.


"Nggak!"


"Oh ya, kamu nggak memecat Pak Jo, kan?"


"Dia kerja di rumahku," jawab Steven malas. Di saat ia benar-benar membutuhkan gadis itu, Aya malah tak ada di sisinya.


"Oh, syukurlah." Aya benar-benar merasa lega setelah mendengar kabar Pak Jo yang menurut pengakuan Steven, bekerja di rumah cowok itu.


"Kalau hanya untuk membeli hadiah, kenapa kamu nggak membeli lewat internet biar sekalian dikirim ke alamatnya? Kamu nggak perlu capek-capek ke mal," ucap Steven mengubah topik perbincangan. Namun, ada modus di balik ucapannya tersebut.


"Oh iya, kamu benar," seru Aya sembari menepuk kepalanya sendiri. Steven memang benar. Selain praktis, belanja di internet juga tidak menguras energi. Ia tak perlu menjelajah setiap sudut mal hanya demi sebuah hadiah. Kenapa hal itu tidak terlintas di pikiran Aya sebelumnya?


"Cepat kamu ke sini, aku lapar."


"Nggak ada. Mi instannya juga sudah habis beberapa hari yang lalu, kan? Bagaimana aku tahu cara memasak nasi? Biasanya kan kamu yang memasak?"


Ya, ampun. Aya menggerutu dalam hati saat berjalan turun dari eskalator.


"Kamu mau dibelikan apa?" Rasa bersalah segera menyergap benak Aya dan gadis itu buru-buru mencari jalan keluar dari mal. Bahkan ia belum membeli apapun tadi. "Bagaimana kalau ayam geprek?"


"Bukannya ayam geprek itu kesukaanmu?"


"Iya, kamu nggak suka? Kupikir kamu suka..."


"Terserah kamu membelikan aku apa, pokoknya cepat ke sini. Aku tunggu lima belas menit."


Lima belas menit? batin Aya bertanya. Rasanya lima belas menit terlalu mustahil. Untuk sampai ke apartemen Steven jika dihitung dari mal membutuhkan waktu sekurang-kurangnya setengah jam. Itu pun jika Aya sudah memulai perjalanannya, tapi sekarang ia masih berdiri di luar gedung mal dan belum memesan ojek online.


"Mana bisa lika belas menit?" protes Aya akhirnya. Hitung-hitungannya tetap percuma. "Setengah jam lagi aku sampai di sana. Itu pun kalau nggak macet. Aku juga perlu mampir membelikanmu makanan."


"Terserah kamu. Pokoknya cepat kemari. Aku hampir pingsan karena kelaparan, tahu nggak?"


Sambungan telepon terputus.


Kapan dia akan berubah? batin Aya seraya memelototi layar ponselnya sebelum membuka aplikasi ojek online. Ia harus segera meluncur ke apartemen Steven secepatnya, tapi Aya harus mampir membeli makanan untuk cowok itu dalam perjalanan nanti.


***