
"Kamu nggak ingin menyuruhku masuk?"
Jika saja Aya tidak buru-buru pamit, mungkin Steven akan membuat sebuah skenario. Ia bisa mengakui kalau Aya adalah kekasih barunya meski Thalia, gadis cantik yang kini berdiri di hadapannya, tidak akan memercayai pengakuan Steven. Aya jelas bukan tandingan Thalia yang cantiknya selangit dan juga tidak selevel dengannya. Sayangnya Aya sudah kabur setelah kesadarannya genap. Aya merasa tiba-tiba tidak nyaman dengan situasi yang ada dan ia seperti menjadi orang ketiga antara Steven dan gadis cantik itu.
"Nggak," jawab Steven tegas. Ia sempat terkejut dengan kehadiran Thalia yang sangat tiba-tiba dan Steven tidak pernah berharap waktu seperti ini akan datang dalam hidupnya. Sejak Thalia memutuskan pergi ke Perancis dua tahun lalu, Steven telah menganggapnya mati.
"Apa kamu masih marah padaku?" Thalia mencoba merajuk dengan berusaha mengalungkan tangannya ke leher Steven. Namun cowok itu segera menepisnya.
"Ini bukan tentang marah atau nggak marah," ucap Steven seraya mengembalikan tangan gadis itu ke tempatnya semula. "Tapi ini tentang sebuah kepercayaan yang sudah kamu sia-siakan."
"Ayolah, Sayang. Aku hanya pergi selama dua tahun..."
"Kita sudah putus, Lia." Steven mengingatkan. Dulu panggilan 'sayang' itu begitu sakral di telinganya, tapi sekarang kata itu terdengar menjijikkan untuknya.
"Kamu yang memutuskanku sepihak, Steven." Thalia membalas dengan nada yang meningkat.
"Aku sudah memberimu pilihan, apa kamu lupa itu?"
"Itu bukan pilihan, Steven. Itu sebuah paksaan," debat Thalia. Gadis itu mengembuskan napas kasar ketika harus mengingat kejadian dua tahun lalu. Saat itu Steven memberinya pilihan, tetap pergi ke Perancis dan mereka putus, atau tetap tinggal dan mereka akan menikah. Tapi keinginan Thalia untuk belajar desain tak bisa dibendung lagi. Lagipula saat itu ia masih berusia 20 tahun, masih terlalu dini untuk membina rumah tangga baginya. Setidaknya ia baru bisa menikah setelah impiannya menjadi desainer pakaian terwujud. Dan Thalia merasa sekarang lah saatnya ia mengikat janji suci pernikahan dengan Steven.
"Aku nggak pernah memaksa, Lia. Kamu yang menentukan pilihanmu sendiri."
"Kamu membuatku nggak bisa memilih, Steven." Thalia melepaskan tatapan kesal ke arah mantan kekasihnya. "Apa kamu sama sekali nggak merindukanku?"
"Nggak." Tak seperti dugaan Thalia, Steven malah menjawab dengan ketus dan jawabannya 'tidak'. Bagaimana itu bisa terjadi? batin gadis itu heran.
"Silakan meyakini keyakinanmu itu," Steven menarik sudut bibirnya ke atas. Senyum itu jelas ingin meruntuhkan segenap kepercayaan diri Thalia. "Tapi, jangan menyesal kalau kamu nggak pernah memperoleh apa-apa dari keyakinan itu."
"Apa kamu semarah itu padaku?" Thalia menyilangkan kedua lengan dan menatap lurus ke wajah dingin yang terpampang di hadapannya. Dulu wajah itu selalu dihiasi senyum dan tawa saat bersama Thalia, tapi sayangnya waktu telah merenggut semua. Steven menjadi orang yang sangat menyebalkan sekarang.
"Apa marah ada gunanya?" Steven bicara dengan nada santai. Sama sekali tak tersirat emosi membuncah dalam tatapan matanya. "Kurasa dua tahun sudah cukup untuk menyembuhkan luka dan mematikan perasaanku padamu."
"Steven!" Gadis itu berteriak demi mendengar kalimat yang meluncur deras dari bibir Steven.
"Apa? Kenapa? Kamu nggak terima aku sudah nggak punya perasaan lagi padamu?"
Plak!
Akibat perkataannya Steven mendapat hukuman setimpal kali ini. Tangan Thalia melayang dengan cepat ke arah pipi Steven dan menyisakan rasa sakit di sana. Namun, Steven bergeming di tempatnya berdiri. Tamparan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit hati yang dipendamnya diam-diam dua tahun ini.
"Apa kamu ingin membalas semuanya padaku?" Sepasang mata Thalia terlihat berkaca-kaca. Gadis itu terlihat berusaha keras untuk tidak menitikkan air mata. "Aku hanya pergi untuk mengejar impianku dan aku sudah menepati janjiku untuk kembali. Tapi kamu memperlakukanku sejahat ini, Stev! Aku membencimu!"
Thalia membalikkan tubuh usai melampiaskan segenap kemarahan yang meledak-ledak di dalam dadanya. Gadis itu melangkah pergi dari hadapan Steven dengan membawa serta koper, harapan, dan cintanya. Tangisnya pecah ketika ia masuk ke dalam lift.
Thalia pikir, kedatangannya setelah dua tahun berselang akan menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan bagi mereka berdua. Ia mengira Steven akan memakluminya dan memberi maaf atas nama cinta. Tapi, kenyataan yang didapat Thalia malah sebaliknya. Gadis itu merasa dicampakkan.
Sementara itu, Steven masih tertegun di depan pintu meski Thalia telah lenyap dari hadapannya dan hanya menyisakan aroma parfum keluaran Paris yang mengontaminasi hampir seluruh atmosfer di dalam apartemen. Memaksa benak Steven menggali kembali ingatannya sebelum dua tahun lalu. Momen-momen indah bersama Thalia yang masih membekas di dalam memori otaknya dan seolah tak ingin pergi begitu saja.
***