
Matahari sudah merangkak naik dan suara dering ponsel Steven yang lupa disetel dalam mode getar, membuat cowok itu terbangun dengan paksa. Beberapa minggu belakangan, benda itu jarang menerima pesan atau panggilan apapun, seolah dunia telah membuang jauh-jauh si pemiliknya. Namun, hari ini seseorang sudah menyempatkan waktunya untuk menghubungi Steven. Jika bukan Aya, pasti mami, batin cowok itu seraya menggapai ponselnya di atas meja.
"Apa kamu benar pacaran dengan managermu? Jadi, rumor itu nggak benar?"
Steven membuka kedua matanya lebar-lebar saat mendengar suara parau dari ujung sana dan ia mengenali pemiliknya adalah produser ftv. Cowok itu langsung menjauhkan ponselnya dan membaca sebaris tulisan di layar, memang produser yang meneleponnya jam sembilan pagi ini. Rasa kantuk bahkan lenyap dari matanya.
"Apa maksudnya?" Steven bangun dan menegakkan punggung. Ia harus mengumpulkan segenap kesadaran sebelum menjawab pertanyaan sang produser yang beberapa waktu lalu membatalkan kontrak secara sepihak.
"Kamu belum melihat media sosial? Semua orang membicarakanmu, Steven."
Media sosial? Kepala Steven menggeleng samar. Ia bahkan tak menonton televisi dan menutup semua akun media sosialnya. Namun, Steven bisa mengunduhnya kembali dan memasukkan kata kunci yang telah tersimpan di dalam memori otaknya.
"Datanglah ke kantor besok pagi atau kapanpun kamu mau. Kita akan membuat kontrak yang baru. Aku tunggu, Stev."
Oh. Steven ternganga begitu sambungan telepon terputus mendadak. Ia belum sempat menjawab atau berpikir jawaban apa yang harus diberikannya pada sang produser, tapi pria itu sudah mengakhiri panggilan. Ia bicara seperti robot saja, keluh Steven dalam hati.
Tapi, apa sebenarnya yang dibicarakan orang-orang di media sosial tentang dirinya?
Demi segera mengobati rasa penasarannya, Steven buru-buru membuka situs pencarian di dalam ponselnya. Ia segera mengetik namanya pada kolom cari dan dalam hitungan detik sejumlah judul berita muncul memenuhi halaman layar gawainya.
Bagaimana ini bisa terjadi? batin Steven sambil terus menggulir layar ponselnya. Sebuah foto dirinya dan Aya sedang duduk berhadapan di restoran pizza terpampang jelas di sana. Bukan satu, tapi beberapa foto juga dipajang demi menguatkan bukti kalau Steven dan Aya memang benar menjalin hubungan istimewa. Para wartawan itu memang pantas dijuluki penguntit sejati. Bahkan Steven sendiri tak menyadari jika gerak geriknya saat bersama Aya di mal kemarin menjadi sasaran empuk paparazi.
Namun, harus Steven akui jika bidikan para wartawan itu lumayan bagus. Ia tampak setampan biasanya dan ekspresi yang diperlihatkan Aya juga sangat alami. Gadis itu memiliki kecantikan natural meski ia tak berdandan setebal Thalia.
Apa Aya sudah melihat ini? Bagaimana reaksi gadis itu jika ia tahu dirinya masuk ke berita infotainment? Kecewakah ia? Jelas hal semacam ini akan berpengaruh pada hidupnya. Orang-orang akan menyoroti Aya dan Steven yakin jika gadis itu tidak akan merasa nyaman dengan keadaan yang terjadi.
Ponsel di tangan Steven kembali berdering. Sebuah stasiun televisi menghubungi dan menawarkan untuk sebuah program talk show. Dan Steven sudah bisa menebak jika mereka ingin memintanya untuk memberikan klarifikasi tentang berita yang tiba-tiba mencuat di dunia maya kurang dari 24 jam saja. Ia dan Aya.
Menit berikutnya, sebuah stasiun televisi lain juga menghubungi cowok itu. Lagi-lagi sebuah penawaran, reality show. Namun, untuk kedua stasiun televisi itu, Steven belum berani memberi keputusan. Selain ia tidak suka jika kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik, Steven juga harus memerhatikan dan menjaga perasaan Aya. Steven mendesah kasar setelah selesai dengan gawainya. Apakah orang-orang itu sedang berlomba mengejar Steven demi sebuah acara yang penuh sensasional hanya untuk menaikkan rating belaka? Namun, jauh di dalam hati Steven merasa lega. Akhirnya rumor negatif yang mengatakan jika ia seorang gay, terbantahkan dengan sendirinya. Setidaknya ini merupakan sebuah keuntungan bagi Steven. Tanpa perlu melapor atau memberi klarifikasi apapun pada publik, pada akhirnya kebenaran akan terungkap juga. Yeah, Steven memang normal.
Lalu bagaimana dengan Aya? Bagaimana perasaannya jika tahu hal ini? Haruskah ia menelepon gadis itu sekarang?
Steven bergeming di atas tempat tidur sambil menimang ponselnya.
***