IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
dua puluh enam



"Serius kamu ingin keluar hari ini?" Aya mendelik tajam ke arah Steven yang sedang sibuk memilih jaket kulit. Ada begitu banyak jaket dengan bahan, warna, dan model yang berbeda menggantung di dalam lemari pakaiannya. Dan Steven terlihat kebingungan untuk menentukan pilihan.


"Aku sudah terkurung di dalam sini selama tiga minggu, Aya." Steven menegaskan kalimatnya.


Aya tahu. Tanpa Steven beritahu pun ia sudah tahu. Tapi tidak ada seorang pun yang meminta Steven untuk tetap tinggal di dalam apartemennya. Semua itu adalah keinginan Steven sendiri.


"Iya," sahut Aya membenarkan. Ia tak ingin menyalahkan Steven karena enggan melaporkan kasusnya ke pihak kepolisian atau paling tidak memberi klarifikasi pada para wartawan. "Sepertinya para wartawan itu juga sudah pergi, tapi aku nggak menjamin kalau ternyata mereka bersembunyi di suatu tempat. Kamu tahu kan, terkadang mereka bersikap seperti penguntit," urai Aya sambil menerawang ke arah tembok kamar Steven.


"Mulai sekarang aku nggak akan peduli pada mereka," ujar Steven seraya mengeluarkan selembar jaket denim dari dalam lemari pakaiannya. "Aku bukan artis lagi sekarang."


Aya cukup terkejut mendengar ucapan majikannya. Apa Steven benar-benar ingin mengundurkan diri dari dunia entertainment?


"Apa ini bagus?" sentak Steven membuyarkan pikiran gadis itu. Jaket denim itu sudah membalut tubuh Steven ketika ia meminta pendapat Aya.


"Oh," Aya tergagap. "lumayan."


Steven tersenyum miring. "Apapun yang kupakai akan selalu tampak bagus, kan?" tanya cowok itu terkesan sombong.


"Terserah," timpal Aya sambil memutar tubuh lalu berjalan keluar kamar Steven. Cowok itu bisa besar kepala kalau mendapat pujian dan Aya tidak akan pernah memberikan pujian apapun padanya. "Apa kamu ingin Pak Jo mengantar kita?"


"Nggak!" seru Steven. Cowok itu sekali lagi menatap ke cermin, mematut diri, lalu menyambar sebuah masker penutup wajah dari atas meja. "Aku akan menyetir sendiri."


"Oke!" Aya menyahut dengan suara cukup keras. Pasalnya gadis itu sudah duduk manis di depan televisi sementara Steven masih ada di kamarnya untuk bersiap-siap.


Tak lama kemudian...


"Sudah kubilang kan, jangan nonton televisi," hardik Steven ketika melihat Aya sedang duduk santai di ruang tamu. Dengan gerakan cekatan ia segera menyambar remote kontrol dan mematikan televisi.


"Tenang aja, di televisi nggak ada berita tentang kamu kok," ucap Aya sambil mengangkat tubuh dari atas sofa. "Lagipula kenapa kamu nggak jual aja televisinya kalau nggak ditonton?"


"Dasar berisik."


"Kita berangkat sekarang?"


Steven tak menjawab, tapi Aya buru-buru mengekor langkah cowok itu keluar dari apartemen.


Rasanya sudah lama Aya tak menikmati perjalanan menggunakan mobil seperti ini. Kalau biasanya Pak Jo yang menyetir, namun kali ini berbeda. Sensasi rasanya juga tak sama. Aya berada di sebelah Steven sekarang dan ia merasa nyaman duduk di joknya. Bagaimana dengan Steven?


"Kenapa?"


"Apa salahnya bertanya? Aku kan managermu."


"Bukan lagi. Kamu cuma asistenku sekarang," sahut Steven terlihat tenang dan tanpa penyesalan. Statusnya sebagai artis telah siap ia tanggalkan. Mungkin juga kesempatan untuk berkarir di dunia hiburan akan terbuka lagi suatu hari nanti.


Sesungguhnya Aya sedikit kecewa saat mendengar Steven menyebutnya sebagai asisten, tapi ia memang berhak untuk mencabut status gadis itu.


"Kamu nggak suka?" Steven menoleh sejenak untuk melihat bagaimana reaksi Aya.


Aya mengedik pelan. "Pada dasarnya asisten dan manager artis nggak jauh beda, kan?"


"Iya, tapi gajinya berbeda."


Aya menelan saliva begitu telinganya menangkap kata 'gaji'. Baginya, kata itu terdengar sensitif. Toh, Steven yang berhak menggajinya, kan? Tapi, Aya sudah tidak terlalu peduli soal itu sekarang.


"Kalau kamu nggak terima, kamu bisa mengundurkan diri sekarang juga," imbuh Steven hampir membuat gadis itu menjerit karena kaget.


"Nggak," sahut Aya setengah panik.


"Kenapa? Kamu nggak rela jauh dariku?" goda Steven sambil memasang senyum manis di bibirnya.


"Apa?!"


Tawa Steven berderai mendengar jeritan Aya. Ia berhasil memporakporandakan perasaan gadis itu dan membuat pipinya memanas.


"Kamu menyukaiku, kan?"


"Berhenti menggodaku, Stev. Itu nggak lucu, tahu nggak?" Aya membuang tatapan ke jendela demi menyembunyikan ekspresi wajahnya yang kacau. Gara-gara Steven.


Steven tertawa puas melihat reaksi Aya. Namun, tawa itu tak bertahan lama menghias bibirnya.


"Mungkin aku akan membuka sebuah restoran suatu hari nanti," tandas Steven usai suasana di dalam mobil yang mereka tumpangi kembali tenang. "Seperti saranmu," sambungnya kembali.


***