IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
tiga belas



Mungkin seharusnya Aya tidak pernah ada di sana ketika gadis cantik itu datang menemui Steven. Tapi kejadian itu adalah bagian dari takdir dan sekarang menyisakan rasa canggung teramat dalam di hati Aya. Bagaimana ia akan bersikap di depan Steven nanti? Apakah wajar jika ia berpura-pura tidak pernah melihat apa-apa semalam? Namun, yang pasti Aya harus berpikir sepuluh kali jika ingin mengorek informasi mendalam tentang gadis cantik yang terlihat sangat berkelas itu dari mulut Steven. Kalau Aya melakukan kesalahan sedikit saja, dan bertanya tentang hal-hal pribadi Steven mungkin saja termasuk di dalamnya, bisa-bisa cowok itu akan memangkas sejumlah rupiah yang harusnya masuk ke dalam rekeningnya. Dan Aya tidak pernah mengharapkan itu terjadi dalam hidupnya. Jadi, lebih baik diam dan tutup mulut.


Meski Aya bisa menahan diri untuk tidak bertanya apapun pada Steven tentang gadis itu, namun ia tak bisa mengatasi rasa canggung yang mulai merambat pelan di dalam hatinya ketika memasuki ruang tamu di dalam apartemen milik Steven. Ia merasa berada di waktu dan tempat yang salah. Lalu bagaimana jika gadis cantik itu menginap di kamar Steven? Apa ia tidak akan dobel canggung?


Ruang tamu sepi. Tak ada orang di sana. Juga tak ada jejak sampah makanan atau minuman seperti yang biasa Aya temukan setiap pagi. Tidak ada satu pun barang yang mencurigakan, semisal sepatu, lipstik, atau tas milik seorang wanita. Tak ada koper, atau sesuatu yang melekat di tubuh gadis cantik yang dilihat Aya semalam tertinggal di area itu. Bisa jadi di tempat lain, pikir Aya seraya melanjutkan langkah ke ruang makan.


"Steven?!"


Gadis itu seketika terlonjak kaget begitu sampai di ruang makan dan melihat sosok Steven sedang duduk di sana. Ia sendirian dan hanya ditemani sebuah cangkir putih di atas meja. Aya menebak itu adalah kopi, namun ia tak yakin jika tebakannya tepat. Ia harus mendekat jika ingin memastikan kebenarannya.


"Kamu sudah datang?" Steven balas menegur, tapi nada suaranya terdengar dingin seolah tak terpengaruh dengan sikap Aya. Sama sekali tak ada kesan terkejut yang ditunjukkan cowok itu.


"Kamu sedang apa?" tanya Aya sembari melangkah dengan hati-hati ke dekat Steven. Tidak biasanya Steven sudah bangun sepagi ini, pikirnya. Atau jangan-jangan gadis itu sedang tidur di kamar Steven?


"Minum kopi."


Aya mengerutkan kening mendengar jawaban Steven. Ia segera mengambil tempat duduk dan menatap heran ke arah cowok itu.


"Bukannya kamu nggak minum kopi?"


"Memangnya kenapa? Bukannya kamu membeli kopi itu dengan uangku?"


Astaga, batin Aya kesal. Ia serius, tapi malah ditanggapi sebaliknya. Pasti ada sesuatu yang terjadi, pikir gadis itu curiga.


"Bukan itu masalahnya. Bagaimana kalau perutmu kembung setelah minum kopi, hah?"


Steven malah mengurai senyum tawar dan kembali menyesap kopinya sampai tak bersisa seolah ingin meremehkan Aya.


"Bukankah ada kamu yang akan membawaku ke dokter?"


"Iya, memang. Tapi aku akan melakukannya dengan sangat terpaksa." Aya bangun dari tempat duduknya lalu melangkah ke arah wastafel. Piring kotor bekas makan malam mereka berdua masih teronggok di sana dan belum tersentuh air sama sekali. Tapi lagi-lagi Aya tak menemukan jejak orang lain di tempat itu.


"Apa dia sudah pergi?" Aya mulai membasahi piring di depannya. "Maksudku cewek yang semalam..." Ia sengaja menggantung kalimat. Steven pasti sudah tahu maksud Aya.


"Iya. Kenapa?"


Apa boleh mengorek informasi tentang mereka berdua? batin Aya seraya melirik sekilas ke meja makan. Apa Steven tidak akan tersinggung kalau ia bertanya banyak hal tentang gadis itu?


"Kamu penasaran tentang Thalia?"


Aya membalikkan tubuh dengan gerakan cepat usai meletakkan piring di dalam rak. Jadi, nama gadis itu Thalia?


"Apa aku bertanya sesuatu tentangnya?" Steven sudah mengendus gelagat keingintahuan Aya, jadi gadis itu berusaha menutupi sikapnya.


"Nggak," tegas Steven. "Dan aku juga nggak akan bercerita apapun tentangnya."


"Lagipula apa untungnya kalau aku tahu tentang dia? Nggak ada, kan?"


Steven mengurai senyum tipis melihat ekspresi kesal yang tergambar jelas di wajah Aya.


"Kamu itu bukan siapa-siapa, Aya. Kenapa sikapmu seperti orang yang sedang cemburu pada kekasihnya? Apa kamu jatuh cinta padaku?" goda Steven masih memamerkan senyum terbaiknya.


"Apa?!" Gadis itu melotot sampai-sampai bola matanya ingin melompat keluar. "Bukannya waktu itu kamu yang marah-marah saat aku minta foto sama Arya Sena?" ungkit Aya demi membalas tuduhan tak beralasan yang ditujukan Steven pada dirinya.


"Hei, itu beda, Aya. Jelas aja aku marah karena kamu managerku, tapi kamu malah minta foto artis lain. Itu sudah melukai harga diriku, tahu nggak?"


Aya menarik napas dalam-dalam demi mengendalikan luapan emosi yang mulai merangkak naik ke kepalanya. Ia lupa jika harga diri Steven memang setinggi langit.


"Sebaiknya kamu mandi sekarang. Aku akan menunggumu di bawah, oke?" Aya memilih untuk mengalah. Ia masih butuh pekerjaan ini demi membayar utang ayahnya. Gadis itu mengeringkan tangannya dengan selembar tisu lalu melangkah pergi dari tempatnya berdiri.


"Kenapa kamu nggak menunggu di sini sambil membersihkan lantai, hah?"


Aya menggeleng tanpa menghentikan langkah. Itu bukan tugasnya, batin Aya.


"Aku akan lama, Aya!"


Seruan Steven sama sekali tak memengaruhi keinginan Aya untuk terus melangkah menuju pintu keluar.


"Apa dia benar-benar marah?" gumam Steven saat gadis itu telah menutup pintu apartemennya dengan kasar.


***