IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
sepuluh



"Kak Arya, boleh minta foto bareng?"


Arya Sena, seorang penyanyi muda berbakat yang kerap menyanyikan lagu-lagu melankolis, terlihat sedang berjalan keluar dari studio usai melakukan syuting. Cowok berusia 27 tahun, tampan dan keren itu segera menghentikan gerakan tungkai kakinya begitu seorang gadis menghadang langkahnya demi meminta untuk foto bersama.


"Oh iya, boleh," balas Arya seraya menawarkan senyum hangat. Cowok itu tampak tak keberatan dan menurut Aya, ia jauh lebih baik ketimbang Steven.


Aya terlihat antusias dan segera melangkah ke sisi Arya lalu berpose seimut mungkin saat membidik wajahnya sendiri bersama sang idola.


"Thank's Kak Arya, semoga sukses terus, ya..." Aya berseru sambil melambaikan tangannya usai keinginannya terkabul. Gadis itu menatap penuh binar-binar bahagia ke arah punggung Arya yang bergerak menuju tempat parkir. Berkat Arya, suasana hati Aya berangsur membaik saat ini, namun mungkin akan berubah kembali saat Steven kembali nanti.


Arya memang seorang pendatang baru dalam blantika musik Indonesia, tapi karya-karyanya cukup dikenal di kalangan kaum milenial. Mayoritas lagu-lagunya mellow, tapi Aya hafal beberapa di antaranya. Dan kesempatan bertemu dengan artis bukanlah hal langka baginya karena ia seorang manager Steven, namun siapa sangka hari ini Aya bisa bertatap muka dengan Arya.


"Sudah selesai sesi foto-fotonya?"


Aya tak perlu menebak lagi siapa pemilik suara itu. Gadis itu menghela napas cukup dalam dan mempersiapkan mental sebelum membalik tubuh. Sudah waktunya Steven keluar dari studio karena ia dan Arya memang syuting untuk acara yang sama.


"Iya. Apa kita mau pulang sekarang?" Aya memaksakan seulas senyum di bibirnya.


"Nggak. Kita mampir beli nasi goreng dulu. Aku lapar," balas Steven. Ia mulai menggerakkan kaki-kakinya menuju ke pelataran parkir.


"Oke." Aya menyusul langkah-langkah majikannya tanpa bertanya lagi. Ia sangat tahu tukang nasi goreng langganan Steven. Cowok itu selalu meminta pesanannya dibawa pulang karena tak suka makan di dalam warung tenda meski makanan di sana tak kalah lezat dengan masakan restoran bintang lima. Alasan pertama adalah Steven merasa tidak nyaman berada di keramaian karena takut ada yang mengenali wajahnya lalu meminta foto atau tanda tangan. Steven paling tidak suka privasinya diganggu saat ia makan. Kedua, karena makan di tempat seperti itu bisa melukai harga dirinya.


"Apa kamu penggemar Arya?"


Aya yang baru saja masuk mobil dan belum sempat memasang sabuk pengamannya, terpaksa harus menoleh ke belakang begitu mendapat cecaran pertanyaan dari bibir Steven. Cowok itu duduk dengan kepala tegak dan tengah menatap tajam ke arah Aya. Seperti ingin menghakimi segenap kesalahan yang telah dilakukan gadis itu.


"Tapi kamu managerku, Aya. Bagaimana bisa kamu minta foto pada artis lain saat kamu bersamaku? Kamu ingin membuatku malu, hah?"


Aya mendelik mendengar kalimat Steven. Ia sama sekali tak menyangka jika perbuatannya akan menyakiti perasaan Steven. Selama ini Aya kerap melakukan hal itu pada artis-artis lain, tapi tanpa sepengetahuan Steven.


"Aku hanya minta foto, apa itu menjadi masalah besar buat kamu? Kurasa itu hal yang wajar," ucap Aya. Ekor matanya berusaha menjangkau wajah Steven diam-diam. "Iya kan, Pak Jo?"


"Pak Jo nggak ada sangkut pautnya dengan hal ini," tukas Steven cepat. Padahal Aya baru saja menutup mulut dan Pak Jo belum sempat menjawab.


Aya menahan napas kesal. Bagaimana bisa hal sepele seperti itu menjadi masalah besar untuknya? batin gadis itu tak habis pikir. Terkadang jalan pikiran Steven terlalu rumit.


"Aku nggak suka kamu melakukan hal seperti itu lagi."


Suara Steven memecah kesunyian di dalam kabin mobilnya yang tengah bergerak dengan kecepatan rata-rata di jalanan yang hanya diterangi lampu-lampu merkuri. Lalu lintas tak begitu padat karena orang-orang yang beraktifitas di luar rumah sudah berkurang. Jam menunjuk angka sembilan ketika Steven menyelesaikan syutingnya.


"Iya, Bos," Aya menyahut dengan suara pelan. Lebih baik menuruti perintah Steven atau gajinya akan dipangkas lagi, pikir gadis itu.


"Bagus." Steven terlihat puas dengan jawaban yang diberikan Aya. "Nanti mampir ke nasi goreng yang biasa ya, Pak," ucapnya pada Pak Jo sejurus kemudian. Gara-gara mengomeli Aya, ia nyaris lupa untuk memberitahu Pak Jo.


"Iya, Bos."


Steven mengerutkan alisnya mendengar jawaban Pak Jo. Bukannya Pak Jo selalu memanggilnya dengan sebutan 'Mas'? Tapi kenapa sekarang ia ikut-ikutan Aya memanggil dengan kata 'bos'?


***