IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
tujuh belas



Steven telah menandaskan sarapannya sejak beberapa menit yang lalu dan Aya sudah menyelesaikan bagiannya mencuci peralatan makan. Gelas susu juga sudah kembali ke sarangnya di dalam rak, namun Steven masih berdiam diri di atas sofa ruang tamu, seperti sedang memikirkan begitu banyak hal. Sedang ponsel milik Aya tergeletak di atas meja. Tampaknya Steven tidak membutuhkan benda itu lagi setelah menggunakannya cukup lama.


Apa ia sudah menemukan sesuatu? Petunjuk misalnya?


Aya mengelap tangannya usai mencuci peralatan makan lalu melangkah ke dekat Steven. Gadis itu meletakkan pantatnya dengan gerakan hati-hati di sofa tunggal dekat tempat duduk Steven.


"Kurasa kita harus melaporkan masalah ini ke polisi," ujar Aya memecah suasana tenang yang sejak tadi menaungi atmosfer di dalam apartemen milik Steven.


"Nggak perlu." Nyatanya Steven masih bisa mendengarkan suara Aya dengan baik meski sejak tadi ia tampak melamun.


"Kenapa?" Aya tercekat mendengar keputusan Steven yang tak sependapat dengannya. "Bukankah ini kasus pencemaran nama baik?"


"Tapi aku nggak suka berhubungan dengan pihak berwajib, Aya. Lagipula jika media tahu aku melaporkan kasus ini, mereka akan mengejarku habis-habisan."


"Tanpa kamu melapor pun, media juga akan meminta klarifikasimu, Stev. Itu sama aja, kan? Mereka juga akan mengejar kamu," balas Aya agak kesal. Orang yang suka menyebar berita palsu seperti itu memang pantas dipenjara, batinnya. "Apa kamu tahu siapa pelakunya?"


Namun, Steven menggeleng.


"Mana aku tahu siapa pelakunya," jawabnya sewot. Sama sekali belum ada petunjuk yang didapatnya usai menelusuri layar ponsel milik Aya.


"Makanya kita harus melapor ke polisi," sahut Aya cepat. "dengan begitu mereka akan mencari tahu siapa pelakunya."


"Tapi aku nggak mau menjadi bulan-bulanan media, Aya," tandas Steven ngotot. Keningnya berlipat tajam ketika mengarahkan tatapan ke wajah Aya. Ia tidak mau dikejar-kejar wartawan infotainment selama 24 jam penuh hanya untuk mendengarkan klarifikasi atas kebenaran rumor itu. Gay? Bahkan Steven tak pernah berpikir untuk melirik sesama kaumnya, bagaimana mungkin mereka bisa menulis postingan ngawur seperti itu? Jika hanya karena Steven tak terlihat punya kekasih, bukan berarti ia menyukai sesama jenis, kan?


"Seenggaknya publik harus tahu dari mulut kamu sendiri kalau rumor itu nggak benar."


"Bagaimana kalau nggak? Bagaimana kalau rumor itu berpengaruh pada karirmu?" Aya tidak akan pernah tinggal diam jika hal itu benar-benar terjadi pada Steven. Karena secara tidak langsung karir Steven berhubungan erat dengan pekerjaan Aya. Bagaimanapun juga bekerja di bawah sepatu Steven jauh lebih menguntungkan secara finansial ketimbang menjadi seorang pelayan restoran atau babysitter.


"Itu hanya rumor yang nggak berlandas sama sekali. Orang nggak akan percaya begitu aja kalau nggak ada buktinya."


"Iya, seharusnya seperti itu."


"Kamu aja yang terlalu panik," seloroh Steven sembari melempar tatapan kesal ke arah Aya yang masih tampak tegang.


"Kamu yang terlalu santai," balas Aya cepat. Situasi seperti ini adalah hal yang baru bagi Aya selama bekerja untuk Steven. Wajar jika ia khawatir berlebihan. "Apa nggak sebaiknya kamu membuat video, postingan, atau apa lah untuk mengklarifikasi rumor itu?"


"Nggak. Itu malah akan membuatku tampak bersalah karena buru-buru menepis rumor." Steven bersilang pendapat dengan Aya kali ini. Sejak awal menjadi public figure, Steven sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi hal-hal tak terduga seperti ini. Bersikap tenang dan mengabaikan rumor miring tentang dirinya, adalah jalan yang diambil Steven. Biasanya, dengan berjalannya waktu hal-hal semacam itu akan mereda dengan sendirinya. Lagipula Steven tidak akan melajang selamanya dan ketika saat itu tiba, rumor buruk tentang dirinya akan terbantahkan. Ini hanya tentang waktu.


Aya terdiam untuk mencerna kalimat-kalimat yang diutarakan Steven. Banyak artis di negeri ini yang sepanjang karirnya dipenuhi dengan hal-hal kontroversial, tapi wajah mereka masih lalu lalang di layar televisi. Karir mereka masih lancar meski rumor-rumor negatif terus menerpa bak badai. Dan mereka seolah menjadi kebal dengan berita-berita miring semacam itu.


Aya menarik napas dalam-dalam dan mulai menenangkan perasaan. Jika Steven saja tampak begitu santai, kenapa ia mesti cemas? Semua pasti akan baik-baik saja, batinnya.


"Kalau begitu akan pulang dulu," pamit gadis itu sembari mengangkat tubuh dari atas sofa.


"Uhm."


Gumaman semacam itu berarti 'iya' dan Aya belum lupa. Gadis itu bergegas meninggalkan apartemen milik Steven sejurus kemudian.


***