IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
enam



Aya sering berpikir tentang banyak hal ketika ia sedang sendiri atau saat tak ada yang dikerjakannya. Terkadang ia berandai-andai jika ibunya masih ada di dunia ini dan tak mengidap penyakit apapun, mungkin hidup Aya berbeda dari yang dijalaninya sekarang. Tapi, pengandaian tak lebih dari sebuah khayalan tanpa batas dan kemustahilan belaka. Kematian adalah takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya.


Namun, untuk saat ini Aya tidak berpikir tentang ibu atau ayahnya. Gadis itu sedang memperhatikan tingkah polah Steven di depan sana yang tengah sibuk beradu akting dengan lawan mainnya. Jika Aya meneliti ke belakang, selama setahun ia 'mengabdikan diri' pada Steven, gadis itu sama sekali belum pernah melihat artisnya punya kekasih, minimal gebetan atau seseorang yang dekat dengan Steven. Padahal ia tampan, kaya, memiliki fisik yang memenuhi kriteria untuk dijadikan pendamping hidup, dan Steven adalah artis yang terkenal meski Aya selalu merasa sebaliknya. Di mata Aya, Steven tidak sepopuler itu meski ia memiliki segalanya. Baginya Steven hanyalah seseorang yang selalu merasa bangga dengan apa yang ada pada dirinya sendiri, merasa terkenal, dan selalu bersikap seenaknya sendiri. Yeah, faktanya itulah yang dirasakan Aya.


Tapi, kenapa Steven yang merupakan idola para gadis dan ibu-ibu rumah tangga itu belum memiliki kekasih? Apakah ia memiliki kelainan? Penyuka sesama jenis?


Tidak!


"Mbak Aya!"


Aya nyaris melompat dari tempat duduknya ketika tiba-tiba Pak Jo datang dan mengguncang bahu gadis itu.


"Pak Jo!" Aya merasakan jantungnya berdegup begitu kencang akibat teguran Pak Jo yang membuatnya kaget setengah mati. Gadis itu melenguh, melampiaskan kekesalannya.


"Maaf, Mbak Aya. Tadi saya panggil-panggil Mbak Aya diam saja," ucap Pak Jo mengutarakan penyesalannya. Laki-laki berusia 40 tahun itu terlihat salah tingkah melihat ekspresi wajah Aya.


Aya mendeham, berusaha menetralkan kembali suasana hatinya yang sempat memburuk selama beberapa saat. Sebenarnya Pak Jo tidak bersalah, Aya saja yang terlalu mendalami lamunannya tentang Steven. Mungkin juga Steven juga terlibat dalam masalah ini karena belum memiliki kekasih sampai sekarang.


"Apa Pak Jo sudah selesai belanja?" tanya Aya kemudian.


"Iya, ini kartu kreditnya," ucap Pak Jo seraya mengulurkan kartu kredit milik Steven ke tangan Aya. "Belanjaannya sudah saya taruh di mobil."


"Terima kasih, Pak."


"Kalau begitu saya kembali ke mobil dulu, Mbak," pamit Pak Jo setelah menyelesaikan urusannya.


"Iya, Pak."


Gara-gara kopi dan mi instan, Aya sudah membuat Steven tidak percaya lagi kepadanya dan menyerahkan urusan berbelanja ke tangan Pak Jo. Padahal Aya butuh pemandangan yang menyenangkan selain melihat wajah Steven, sutradara, dan para kru film. Aya perlu mencuci matanya dengan melihat jajaran barang-barang diskon yang dipajang di rak supermarket. Ia juga ingin melihat sosok manusia yang lebih beragam lagi, menikmati waktu santai sembari memilih-milih barang yang akan dibeli, dan untuk sejenak ia bisa berpura-pura menjadi orang kaya yang sedang mendorong troli belanja. Mungkin ia harus bisa memenangkan kepercayaan Steven lagi agar bisa mewujudkan sebagian kecil dari cita-citanya itu.


"Boleh duduk di sini?"


"Iya, silakan," sahut Aya cepat. Kursi panjang itu bukan miliknya seorang, jadi siapapun boleh berbagi tempat duduk di sana.


"Thanks." Sebelum meneguk isi botol minuman yang berada dalam genggamannya, Eva mengucapkan terima kasih. "Kamu managernya Steven, kan?" tanya Eva sejurus kemudian.


Aya mengangguk enggan. Rasanya semua orang yang berkecimpung di dunia ftv tahu kalau ia adalah 'pengabdi' Steven. Ah iya, Eva adalah aktris pendatang baru yang belum mengenal Aya.


"Kak Steven baik, ya."


Apa?!


Aya terperanjat bukan kepalang mendengar pujian yang mengalir dengan tiba-tiba dari bibir Eva. Gadis itu melirik sebal ke samping dan menemukan seulas senyum tergambar jelas di bibir merah muda milik Eva.


Ini adalah pertama kalinya seorang gadis memuji Steven di depan Aya padahal mereka baru saja kenal. Yup, Eva adalah lawan main Steven di drama terbarunya dan umur perkenalan mereka belum genap sehari. Bagaimana mungkin Eva langsung memuji Steven? Cowok itu pasti akan besar kepala jika mendengar ini.


"Bagaimana kamu tahu kalau dia baik?" pancing Aya. Ia mengendus ada modus tersembunyi di balik pujian Eva.


"Ya... Kak Steven tadi mengajari aku berakting yang baik," urai Eva setengah tergagap. Gadis yang menguarkan aroma wangi lembut dari tubuhnya itu terlihat bingung memadumadankan kata untuk menggambarkan kebaikan hati yang justru disangsikan oleh Aya.


"Rasa-rasanya dia melakukan hal itu pada semua aktris pendatang baru, deh," gumam Aya sembari menerawang ke depan. Ia bukan sengaja ingin mematahkan perasaan Eva jika gadis itu benar-benar jatuh cinta pada Steven. Aya hanya ingin Eva tidak terkecoh dengan sikap manis Steven.


"Benarkah?" Rasa kagum yang tadi sempat membuncah di mata Eva seketika berubah jadi keraguan yang penuh dengan tanda tanya.


"Eva!"


"Ah, aku pergi dulu, ya," pamit Eva tergesa. Gadis itu segera mengangkat tubuhnya dari atas kursi ketika salah seorang kru film memanggil namanya.


Aya hanya melenguh pelan melihat punggung Eva yang bergerak mendekat ke lokasi syuting lalu gadis itu berinisiatif menyibukkan diri dengan ponselnya.


***