
Aya mengembuskan napas sebal ketika melihat ke arah Steven yang tampak sibuk melayani beberapa penggemar yang sengaja datang ke lokasi syuting hanya untuk bisa meminta foto bersama artis idola mereka. Cowok itu terlihat tak henti memamerkan senyum termanisnya di depan kamera dan lagaknya sangat ramah. Sudah jelas ia sedang berakting sekarang. Di hadapan Aya, Steven tidak pernah sebaik dan semanis itu. Tapi saat di depan penggemar, sikap Steven akan berbalik 180 derajat.
"Hai, Aya!"
Sapaan Bang Odi yang kebetulan lewat beberapa meter di depan Aya, hanya disambut gadis itu dengan anggukan sopan. Untung saja laki-laki itu tidak menghampiri dan menawarkan pada Aya agar bersedia ikut casting lagi. Mungkin ia sudah bosan atau memang tidak ada peran yang cocok untuk karakter Aya yang terkesan suka tampil apa adanya. Gadis itu tidak pernah mengutamakan penampilan yang sempurna, cukup pakaian kasual dan riasan natural. Namun, Bang Odi sebenarnya tahu jika Aya didandani bak putri kerajaan, gadis itu akan terlihat cantik jelita.
"Sepertinya Bang Odi serius menyukaimu."
Aya terjingkat mendengar bisikan halus di telinganya. Siapa lagi kalau bukan Steven pelakunya. Cowok itu terlihat menyunggingkan senyum nyinyir di bibirnya. Padahal beberapa saat lalu ia tampak manis di depan para penggemarnya, tapi dalam sekejap ia berubah menjadi orang yang menyebalkan di depan Aya. Dan gadis itu tidak akan terkejut dengan perubahan mendadak ini.
Aya memilih tak menyahut ledekan Steven kali ini. Ia malah menyodorkan sebuah botol air mineral ke tangan Steven setelah cowok itu mengambil tempat duduk di sebelahnya. Syuting sedang istirahat selama beberapa saat.
"Aku ngantuk," keluh Steven setelah meneguk air dari dalam botol yang disodorkan Aya.
"Semalam kamu nggak bisa tidur?"
Steven tak menyahut. Secara tidak langsung ia sudah memberi petunjuk pada Aya perihal yang terjadi padanya semalam. Aya juga bertemu dengan Thalia dan seharusnya ia bisa menyimpulkan sendiri kenapa Steven mengalami gangguan tidur.
Memikirkan Thalia dan masa lalu membuat Steven nyaris terjaga sepanjang malam. Ada kalanya ia merindukan masa-masa kebersamaan mereka berdua, tapi demi mengingat keegoisan Thalia, keinginan untuk bisa memperbaiki segalanya perlahan memudar dari dalam hati Steven. Mungkin dalam beberapa hal mereka sama-sama keras kepala, namun ada saatnya untuk menekan ego masing-masing dan Steven merasa Thalia tidak pernah berupaya untuk mengalah. Setidaknya mereka bisa mencari jalan tengah. Tapi semua sudah berbeda sekarang. Waktu tidak pernah bisa mundur ke belakang. Toh, jika mereka ingin mengulang semuanya dari awal, butuh usaha keras untuk melakukannya. Juga butuh waktu dan proses.
Rasa kantuk kian menghipnotis sepasang mata Steven manakala pikirannya terus menerawang ke masa lalu dan bayangan Thalia sesekali singgah di kepalanya. Cowok itu perlahan menjatuhkan kepalanya ke atas pundak Aya yang sedang duduk bengong di sampingnya.
Aya nyaris menjerit karena kaget atas perbuatan Steven yang tanpa permisi menitipkan kepalanya ke atas pundak gadis itu. Namun, ia tak bisa disalahkan. Rasa kantuk lah yang membuatnya tak sengaja menyandarkan kepalanya ke pundak Aya. Sementara Aya tak bisa berbuat apa-apa kecuali diam di tempat dan menjadi tempat bersandar yang baik bagi kepala Steven.
Kasihan Steven.
Aya mulai mengasihani cowok itu dalam hati ketika ia menatap ke atas permukaan wajah Steven yang terlihat tenang. Tak ada amarah, senyum sinis, atau tatapan mengintimidasi tergambar di sana. Hanya ada seraut wajah polos dan ia lebih mirip seorang bayi tanpa dosa.
Ah, kenapa tiba-tiba Aya merasakan jantungnya bergetar hebat saat ia menatap wajah Steven lebih lama dari biasanya? Gadis itu tak pernah menampik jika Steven memang memiliki wajah tampan, namun karena sikapnya yang menyebalkan, Aya selalu membuang kekagumannya pada Steven dalam masalah fisik. Tapi kali ini, begitu melihat kepolosan wajah Steven saat ia terlelap, segenap penilaian buruk Aya pada cowok itu seolah telah runtuh. Namun, Aya masih belum bisa menemukan alasan kenapa ia bisa merasakan getar aneh dalam dadanya saat ini.
"Sorry, aku ketiduran."
Tiba-tiba saja Steven mengangkat kepalanya dari atas pundak Aya dan membuat gadis itu tergagap. Tapi ia merasa degup jantungnya masih sekencang tadi.
"Syutingnya mau mulai," beritahu Aya tanpa menoleh karena ia sibuk menyembunyikan wajahnya yang mulai menghangat dari pandangan Steven. Jangan sampai Steven tahu betapa gugupnya Aya saat ini.
***