IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
dua puluh satu



Aya datang ke apartemen Steven sedikit lebih awal ketimbang kemarin. Ia juga sengaja membawakan cowok itu nasi Padang, tapi Aya menggunakan uangnya dan ia mengantre hanya beberapa menit saja. Aya ingin menebus perasaan bersalahnya pada Steven atas kejadian kemarin. Pertama, ia ketiduran di tempat tidur Steven. Dan yang kedua, Aya melalaikan tugasnya mencuci pakaian milik majikannya. Alhasil Steven yang akhirnya mencuci dan menjemur pakaiannya sendiri. Semoga saja dengan sogokan nasi Padang yang dibelinya tak jauh dari rumah membuat hati Steven sedikit melunak.


Ketika Aya tiba di luar gedung apartemen Steven, para pemburu berita yang sejak berhari-hari lalu setia menunggu cowok itu keluar dari tempat persembunyiannya, masih tampak stand by beberapa meter dari pintu masuk gedung. Mereka terlihat lelah dan terkadang Aya merasa kasihan. Kenapa mereka mau menjalani rutinitas membosankan seperti itu?


Seandainya Aya menjadi Steven, ia akan mengklarifikasi hal yang sebenarnya pada para wartawan itu. Aya juga akan melaporkan pelaku penyebar fitnah itu ke polisi. Setidaknya ia ingin penyebar berita hoaks semacam itu diberi sedikit pelajaran akan perbuatannya. Apalagi dampak yang ditimbulkan oleh berita bohong seperti itu tidak main-main. Nama baik seseorang turut dipertaruhkan di sini. Dalam kasus Steven, berita bohong itu selain berimbas pada nama baiknya, juga karirnya. Aya juga turut terkena dampaknya. Tapi kenapa Steven malah terlihat bersikap santai dan tenang menghadapi semua ini? Memang, waktu akan mematahkan rumor negatif itu, tapi sampai kapan ia dan Aya akan menunggu? Sedang Aya butuh lumayan banyak uang saat ini.


Haruskah Aya membujuk Steven sekali lagi?


"Steven!"


Aya berteriak seperti biasa setelah menutup pintu apartemen cowok itu. Kalau kemarin Aya mendapati Steven sedang duduk-duduk santai di ruang tamu sambil bermain ponsel, tapi hari ini ia tak menemukan siapa-siapa di sana. Meja ruang tamu terlihat bersih tanpa satupun sampah yang tercecer. Meja yang berada di ruang makan juga tampak sama, namun di atas wastafel ada beberapa bekas peralatan makan kotor, mungkin digunakan Steven semalam.


Usai meletakkan bungkusan nasi Padang di atas meja makan, Aya bergegas melangkah menuju ke kamar Steven. Cowok itu tidak akan kabur ke mana-mana mengingat ada beberapa wartawan yang sedang berjaga di luar, jadi bisa dipastikan Steven masih terlelap di balik selimutnya.


"Kamu masih tidur?" tegur Aya setelah berhasil menguak daun pintu kamar majikannya. Steven masih terbaring di atas tempat tidur dengan sebagian tubuh tertutupi selembar selimut tebal bermotif zebra. Cowok itu sama sekali tak terusik suara Aya yang lebih pelan dari biasanya.


Sinar matahari telah menghangat di luar sana, harusnya Steven juga sudah meninggalkan peraduannya. Setidaknya ia bisa jogging atau angkat barbel demi menjaga kesehatan tubuhnya. Beberapa hari terakhir Steven hanya makan, tidur, dan bermain game. Sama sekali tidak ada aktifitas fisik yang ia lakukan demi membakar kalori tubuhnya. Bagaimana jika nanti ia bertambah gemuk dan menjadi jelek? Oh, Aya tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada Steven. Cowok itu bisa kehilangan otot-otot yang selama ini dibanggakannya, juga perut rata hasil tempaan alat fitnes.


"Bangun, Stev. Sudah siang..." Aya mengguncang lengan Steven dengan gerakan pelan agar cowok itu segera terbangun dari tidurnya. Tapi gadis itu segera menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri Steven. "Astaga! Badan kamu panas!" Aya menjerit panik usai meraba kening Steven dan mendapati suhu tubuhnya di atas normal. Seharusnya suhu tubuh orang normal tidak sepanas itu.


Ya, ampun! Aya terperanjat ketika tiba-tiba Steven membuka mata dan mengeluarkan suara. Gadis itu baru saja ingin menelepon seseorang untuk meminta bantuan dan ia belum memikirkan siapa yang hendak ia hubungi. Namun, yang pasti ia tidak akan menelepon rumah sakit agar segera mengirimkan ambulan ke apartemen Steven karena hal itu bisa mengundang perhatian para wartawan yang sedang berjaga di luar. Bisa-bisa mereka menulis berita yang simpang siur tentang Steven. Siapa tahu mereka akan berspekulasi kalau Steven mencoba bunuh diri atau overdosis obat-obatan? Itu tidak boleh terjadi.


"Kamu demam," beritahu Aya dengan wajah tegang. Melihat Steven sudah bangun, barulah Aya menemukan ide untuk menghubungi maminya.


"Jangan menelepon siapa-siapa," cegah Steven seolah tahu kalau Aya hendak menelepon maminya.


"Tapi kamu sedang sakit, Stev. Nyonya harus tahu..."


"Jangan. Mami nggak boleh tahu kalau aku sakit," cegah Steven seraya berusaha merebut ponsel milik Aya yang sudah digenggam gadis itu.


"Tapi..."


"Kumohon..." Tatapan mata Steven yang terlihat redup sarat dengan permohonan yang teramat sangat. Tangannya hanya mampu meraih lengan Aya, tapi itu sudah cukup untuk menghentikan niat Aya menelepon Soraya. "Aku hanya demam biasa, Aya. Dikompres sebentar juga sembuh."


Aya menghela napas dalam-dalam. Permohonan Steven terlalu sulit untuk diluluskan. Ia juga tak mau mengambil risiko. Penyakit seberat apapun diawali dengan gejala-gejala ringan, bukan? Bahkan penyakit tertentu hampir tak menunjukkan gejala sama sekali di awal perkembangannya. Dan itu pernah menimpa pada ibunya.


***