IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
enam belas



"Steven! Steven! Bangun!" Aya mengguncang lengan Steven sekuat yang ia bisa agar cowok itu segera bangun dari tidur lelapnya. Aya bahkan tak berpikir jika Steven akan marah semarah-marahnya atau memangkas separuh gajinya bulan ini karena membangunkan cowok itu dengan cara ekstrim seperti ini.


Tak butuh waktu lama, Steven telah membuka mata. Rasanya gempa bumi telah menerjang tempat tidurnya pagi ini.


"Aya!" Steven balas berteriak. Suaranya lebih kencang dari Aya. "Kenapa pagi-pagi kamu sudah berteriak seperti ini, hah? Apa kamu nggak tahu aku nggak ada jadwal syuting hari ini?" Cowok itu melotot tajam ke arah Aya yang sedang berdiri tegang di samping tempat tidurnya.


"Aku tahu, tapi ada masalah penting yang harus kamu ketahui, Steven," ucap Aya tanpa memedulikan ekspresi garang yang ditunjukkan majikannya.


"Apa?"


Aya menahan napas begitu melihat selimut yang menutupi sebagian tubuh Steven tersingkap ketika cowok itu bangun dan memperlihatkan permukaan dadanya yang polos.


"Lihat ini." Aya buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan segera menyodorkan benda itu ke hadapan Steven. Lupakan sejenak pemandangan tak senonoh itu, batinnya.


Steven bergegas menyambar ponsel milik Aya dan membaca sebuah postingan di sebuah akun media sosial seperti yang diperintahkan gadis itu. Sepasang matanya terbelalak manakala ia mengeja kata per kata yang tertera di atas layar gawai managernya.


"Sebaiknya jangan membaca komentar-komentar netizen," ucap Aya sambil menyambar kembali ponselnya dari tangan Steven, entah ia telah selesai membaca atau belum. Tapi kenyataannya Steven telah membaca beberapa komentar teratas dan isinya pedas semua.


Steven tertegun tanpa berusaha merebut kembali benda itu. Pikirannya masih tertuju pada postingan yang yang diunggah lima jam lalu dan sekarang telah menjadi perbincangan di dunia maya.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Stev?" Aya menatap lurus ke wajah Steven yang berubah menjadi pucat pasi. Ia sendiri tidak berani untuk menanyakan kebenaran berita itu pada Steven. Benarkah ia gay seperti yang dikatakan postingan itu?


"Ada seseorang yang ingin menghancurkan aku," tandas Steven setengah bergumam.


"Siapa?"


"Aku nggak tahu." Steven tidak dapat berpikir jernih untuk saat ini. Jika disuruh untuk menduga-duga siapa dalang dibalik postingan itu, ia tidak bisa menebak. "Berikan ponselmu," paksa Steven sejurus kemudian. Untuk menggali informasi, ia harus menelusuri si pemilik akun tersebut.


"Rumor itu nggak benar, kan?" tanya Aya dengan nada hati-hati. Sesungguhnya ia takut Steven akan tersinggung dengan pertanyaan itu, tapi Aya merasa harus tahu yang sebenarnya. Aya juga ingin hidup dengan nyaman di samping Steven sebagai managernya.


"Memangnya kamu anggap aku apa?" Steven menukas tanpa mengalihkan tatapan dari atas layar ponsel milik Aya yang terus ia gulirkan halamannya. Ia sedikit heran pada gadis itu, bagaimana bisa Aya berpikiran negatif seperti itu? Lalu bagaimana dengan para penggemar yang membaca postingan itu? Jika Aya saja mulai meragukan kenormalannya, lantas bagaimana dengan para gadis dan ibu-ibu rumah tangga yang selalu setia menonton ftv yang dbintangi Steven?


Ini benar-benar parah! Bahkan Steven tidak pernah bermimpi hal buruk seperti ini akan menimpa dirinya. Terpaan rumor yang tidak benar akan menghempas karirnya perlahan. Setidaknya hal semacam itu akan sedikit berpengaruh pada penilaian orang terhadap Steven meski ia tidak seperti yang dikatakan postingan itu.


"Tapi selama ini kamu nggak punya pacar, jadi mungkin saja orang mengira kamu..."


"Apa karena aku nggak punya pacar, lalu mereka bisa menyimpulkan seenaknya seperti itu?" Kedua alis Steven terangkat saat menoleh ke arah Aya. Ia mulai berpikir jika Aya juga sama dengan orang yang menyebar fitnah itu.


Aya terenyak melihat reaksi Steven. Meski ia sudah sering melihat amarah menyelubungi wajah tampan Steven, tetap saja bagi Aya ini menyebalkan.


"Kamu juga meragukanku, kan?"


"Apa?!" Aya tergagap mendengar tuduhan Steven. "Apa aku pernah bilang kalau aku meragukanmu?"


"Matamu yang bicara seperti itu, Aya."


Aya membenarkan dalam hati, namun bibirnya memilih untuk tetap diam. Melihat sikap Steven seperti ini, rasanya apa yang mereka tuduhkan sama sekali tidak benar. Aya mulai menaruh keyakinan pada Steven.


"Buatkan aku sarapan dan susu hangat."


Aya mengangguk tanpa suara usai mendengar perintah Steven. Gadis itu segera beranjak dari tempatnya mematung untuk segera melaksanakan perintah majikannya. Sementara itu biarkan Steven mencari siapa pelaku dibalik postingan tersebut.


***