
"Jadi ini alasan yang sebenarnya kamu mencampakkanku?"
Steven kaget saat membuka pintu apartemen dan mendapati Thalia sudah berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kebencian. Sorot matanya tajam dan seolah ada percikan api tengah terbakar di sana. Steven merasa menyesal karena telah membuka pintu. Kalau saja ia tahu jika Thalia yang datang malam ini, Steven tidak akan pernah menguak pintunya lebar-lebar untuk gadis itu. Rupanya rumor itu sudah sampai ke telinga Thalia.
"Apa lagi yang kamu inginkan?" tanya Steven dengan sikap tenang. Thalia memang merusak suasana gembira di dalam hati Steven, namun ia tak akan pernah bisa mengusik kebahagiaan cowok itu. "Di antara kita sudah berakhir, Lia. Dan kamu yang memutuskan untuk pergi, kamu masih ingat, kan? Sebaiknya kamu pergi karena aku nggak mau lagi berdebat denganmu."
"Nggak, Stev." Gadis itu segera menahan daun pintu sebelum tangan Steven berhasil menutupnya. "Aku masih mencintaimu dan aku kembali karena aku ingin menikah denganmu. Kamu nggak bisa melakukan ini padaku. Kumohon, rubahlah keputusanmu. Kita masih bisa memperbaiki semuanya. Kita bisa memulai dari awal lagi, seperti dulu. Kita saling mencintai..." Nada suara gadis itu mulai melemah. Ratapan sedih jelas terdengar dari setiap kata yang terucap dari bibir Thalia yang terpoles lipstik merah bata.
"Jangan bicara cinta lagi di hadapanku, Lia. Nggak semua hubungan yang sudah berakhir bisa diperbaiki. Kita nggak bisa memulai dari awal lagi. Aku sudah berubah sekarang. Aku mencintai orang lain, sadarlah. Aku bukan milikmu lagi." Steven berusaha untuk memberi pengertian pada gadis itu.
"Aku yakin kita bisa memulainya, Stev. Kita saling mencintai..."
"Itu sudah berakhir, Lia. Keadaan sudah berbeda sekarang." Steven menepis tangan-tangan Thalia yang berusaha untuk menyentuh kedua bahunya. "Hentikan!"
Thalia terenyak mendengar teriakan Steven dan di saat bersamaan muncullah Aya yang baru saja selesai mencuci peralatan makan malam mereka berdua. Ia tadi sempat mendengar suara bel pintu, namun Steven telah lebih dulu beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mencampakkanku hanya demi orang seperti dia?" Thalia menyunggingkan senyum nyinyir yang jelas-jelas ditujukan untuk Aya. "Selera kamu sangat rendah, Stev."
Steven menahan napas geram. Thalia sedang marah dan rasa cemburu telah membuatnya bicara sembarangan. Gadis itu harus segera pergi atau ia akan menyakiti Aya lebih dalam lagi.
"Pergilah dari sini, Lia..."
"Hentikan, Thalia!"
Steven berhasil menarik tubuh Thalia menjauh, namun Aya telah lebih dulu jatuh tersungkur. Kepalanya mendarat cukup keras saat membentur lantai dan menyebabkan gadis itu seketika kehilangan kesadaran. Sesaat kemudian, cairan berwarna merah kental merembes keluar dari kepalanya.
"Apa yang kamu lakukan padanya, hah?!"
Steven segera menghambur ke arah Aya dan berusaha membangunkan gadis itu dengan menepuk pipinya pelan. Namun, usahanya sia-sia. Aya tetap tak membuka mata meski Steven memanggil namanya berkali-kali.
Thalia bergeming di tempatnya berdiri. Tubuhnya gemetar, tangan dan kakinya seolah tak bisa digerakkan. Apa yang baru saja dilakukannya? Apa ia ingin menjadi pembunuh?
Perasaan berdosa dan penyesalan datang menyergap Thalia dengan bertubi-tubi. Semuanya terjadi begitu cepat dan seperti mimpi. Lalu rasa sesal datang tak kalah cepat setelahnya. Gadis itu masih tetap berdiri di tempatnya tanpa melakukan apa-apa bahkan saat Steven membopong tubuh Aya keluar dari apartemen, Thalia belum bergerak seinchi pun.
Tubuh gadis itu lemas dan merosot ke atas lantai ketika Steven telah pergi demi melarikan Aya ke rumah sakit terdekat. Ceceran darah milik Aya masih menggenang di atas lantai dan menjadi saksi kebengisan hati Thalia.
Bagaimana jika Aya meninggal?
Bukan, bukan ini yang diinginkan Thalia. Ia hanya ingin Steven kembali padanya. Tapi, setan telah merasuki pikirannya dan membuat Thalia gelap mata. Gadis itu mendesah lirih dan air mata jatuh bersamaan di saat ia menyebut nama Tuhan.
***