
Steven pernah merasakan kehilangan. Ia juga pernah mengalami kekosongan yang berkepanjangan di dalam hatinya, seolah lubang besar sedang menganga di jantungnya. Cowok itu sadar, tak ada satupun orang yang bisa hidup selamanya. Satu per satu orang yang dicintainya akan pergi meninggalkan dirinya, namun jangan sekarang. Dan jangan Aya. Di saat ia dan gadis itu baru saja memulai segalanya, Steven tidak ingin semua berakhir begitu cepat. Meski takdir hanyalah kepunyaan Tuhan, namun Steven terus memanjatkan doa sejak Aya masuk ke ruang ICU beberapa menit lalu.
Steven terduduk lemas di atas kursi tunggu, wajahnya tertunduk ke lantai, dan batinnya terus menyebut nama Tuhan di sela-sela permohonannya. Semoga Aya baik-baik saja, lirihnya dalam doa.
Sementara Steven larut dalam kecemasan, beberapa meter dari tempat duduknya, tampak Thalia sedang berdiri dengan kedua kaki nyaris goyah. Tangan-tangannya gemetar dan seluruh energi yang dipunyai gadis itu terasa lenyap pergi entah ke mana. Perasaan berdosa semakin menyiksa dirinya. Pun penyesalan kian berkuasa di dalam hatinya.
Seandainya waktu bisa diputar ulang dan Thalia diberi satu kesempatan untuk memperbaki semuanya, ia hanya ingin kembali ke masa dua tahun yang lalu dan mengubah keputusannya saat Steven memintanya jangan pergi. Tapi, waktu yang berlalu tak akan pernah bisa kembali. Pun kejadian tadi, saat tangannya dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Aya hingga jatuh ke lantai. Jika saja ia bisa berpikir secara jernih, semua ini pasti bisa dihindari.
Pintu kaca ruang ICU terbuka setelah beberapa lama dan memaksa Thalia untuk mengakhiri segala pengandaian yang melintas di dalam kepalanya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Steven buru-buru bangun dari tempat duduknya dan mencecar sang dokter yang baru saja selesai melakukan tindakan pada Aya.
"Dia baik. Kami sudah menjahit lukanya dan tidak ada yang serius. Dia juga sudah sadar."
Steven menarik napas dalam-dalam demi mendengar penjelasan singkat sang dokter yang sangat melegakan hatinya. Begitu juga Thalia. Gadis itu mengucap syukur berkali-kali dalam hati.
"Apa saya boleh menemuinya?"
"Tentu saja, silakan."
Steven bergegas masuk ke dalam ruang ICU usai sang dokter mempersilakannya. Ia tak sabar untuk segera bertemu dengan Aya.
"Aya?"
Steven berjalan dengan sangat hati-hati ketika mendekat ke tempat tidur Aya. Gadis itu langsung menoleh dan mengurai senyum samar di bibirnya ketika melihat Steven.
"Apa itu sakit sekali?" desak Steven begitu sampai di dekat gadis itu. Ia tak tega melihat kepala Aya yang dibalut perban putih. Adegan dalam ftv juga kerap memakai properti semacam itu, tapi tetap saja bagi Steven ini berbeda. Karena ini adalah dunia nyata.
"Lumayan," sahut Aya pelan.
"Nggak, Stev. Ini nggak pantas untuk dipermasalahkan."
"Jangan memikirkan soal karirku, Aya. Ini hanya demi keadilan," tandas Steven seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Aya. Jika publik tahu hal ini, karir Steven adalah taruhannya. Juga nama baiknya. Meski ia akan berhadapan langsung dengan orang-orang di kepolisian dan kenangan itu akan muncul kembali di permukaan, Steven tidak peduli. Ia bisa menahan perasaannya selama beberapa waktu. Demi Aya.
"Jangan, Stev." Aya tetap pada keputusannya. Gadis itu menarik lengan Steven dan menahannya meski tak sekuat yang orang lain lakukan.
"Aya..."
"Kumohon, Stev." Aya menatap penuh dengan permohonan.
Steven terdiam dalam ketidakmengertiannya terhadap sikap Aya. Apa sebenarnya yang dipikirkan gadis itu? Kenapa ia selalu tidak melakukan apa-apa saat orang lain melukai dirinya?
"Apa aku bisa pulang?" sentak gadis itu membuyarkan serpihan lamunan di dalam kepala Steven.
"Kamu sedang terluka, Aya. Dokter pasti nggak akan mengizinkanmu pulang."
"Ayahku sendirian di rumah sakit, Stev."
"Ada perawat yang akan menjaga ayahmu, tenang aja."
"Tapi..."
"Kamu nggak tahu betapa cemasnya aku saat kamu pingsan tadi, Aya. Aku hampir mati, tahu nggak? Jadi, kumohon sekali ini turuti kata-kataku, bisa kan?"
"..."
***