
"Bagaimana kabar ayahmu?"
Aya urung memasukkan ujung sendok ke dalam mulutnya. Gadis itu mendesah pelan seolah ingin meluapkan segenap keresahannya. "Dua tulang rusuknya patah," ungkapnya.
"Kita harus lapor polisi, Aya."
Namun, Aya menggeleng.
"Kenapa?" cecar Steven tak mengerti dengan sikap Aya. Dulu, saat Steven difitnah, ia yang antusias menyarankan agar melaporkan kasus itu ke pihak kepolisian, tapi kini?
"Urusannya akan panjang," jawab gadis itu setelah menyuap. Bagi rakyat kecil sepertinya, berurusan dengan hukum adalah sesuatu yang rumit. Tapi, jika Steven yang melapor, akan berbeda keadaannya. Ia bisa membayar seorang pengacara andal dan tinggal menunggu proses hukum tanpa perlu ke sana kemari. "Sudahlah, lupakan. Ayahku baik-baik aja. Habiskan makananmu," suruh Aya demi menutup perbincangan tentang ayahnya.
"Besok ajak aku menemui orang itu. Aku akan melunasi utang ayahmu."
Aya sudah mendengar kalimat itu beberapa saat yang lalu, tapi entah kenapa ia merasa tidak rela jika Steven berkorban untuk dirinya.
"Aku nggak mau merepotkanmu, Stev."
"Aku juga nggak membantumu dengan cuma-cuma tanpa imbalan, Aya." Steven menyudahi acara makannya. Cowok itu mengurai seulas senyum penuh modus.
"Maksudnya?" Aya mengerti jika di dunia ini hampir tidak ada yang gratis. Udara bersih saja sudah jarang didapat di perkotaan seperti sekarang ini.
"Aku akan menganggap pelunasan utang itu sebagai sesuatu yang harus kamu bayar padaku," tandas Steven.
Bukannya tadi Steven bilang menyukai Aya? Gadis itu menatap dengan pandangan tak mengerti. Apakah tadi itu hanya pura-pura? Padahal Aya sudah senang setengah mati saat tahu perasaan Steven yang sesungguhnya.
"Aku tahu kamu pelit, Stev," gumam Aya sebal. Sepertinya perasaan Steven perlu dikaji ulang. "Lalu apa yang kamu inginkan dariku? Kamu ingin aku bekerja selama 24 jam penuh sebagai pembantumu?"
Steven tertawa geli mendengar tebakan Aya.
"Bukan itu."
"Lalu?" tanya Aya cepat karena tak sabar ingin segera mendengar syarat yang diajukan Steven.
"Aku ingin seumur hidupmu, kamu ada di sampingku. Aku ingin menikah denganmu, Aya," tandas Steven tanpa keraguan sama sekali. Kalimatnya mantap dan tegas.
"Kamu nggak sedang berakting kan, Stev?" gumam Aya terbata.
"Ayolah, Aya. Ini bukan syuting ftv. Kamu tahu nggak ada kamera di sini, kan? Aku serius. Sangat serius," ucap Steven seserius yang diucapkannya.
Napas Aya tertahan. Rasa haru mendadak membuncah di dalam dadanya dan membuat kelenjar air matanya penuh. Pipinya memanas dan atmosfer di atas kepalanya menjadi hangat.
"Aku nggak tahu kenapa aku ingin menangis sekarang," ujar gadis itu dengan mengibas-ibaskan telapak tangan di depan wajahnya. "Makanannya terlalu pedas," imbuhnya sembari mengusap kedua ujung matanya.
"Dasar pembohong," maki Steven sambil tersenyum saat menatap tingkah lucu Aya. "Jadi, apa kamu mau menikah denganku dalam waktu dekat ini?"
"Dalam waktu dekat ini?" ulang Aya gugup. Bagaimana bisa tiba-tiba ia menikah tanpa persiapan sama sekali?
"Umurmu sudah 25 kan? Sudah waktunya untuk menikah, Aya. Dan mami pasti senang jika satu atau dua tahun ke depan dia menimang cucu," ucap Steven membujuk. Aya perlu diyakinkan.
"Tapi kamu baru 23..."
"Kamu malu punya pasangan yang lebih muda?"
Aya menggeleng samar. "Tapi kamu seorang artis, Stev. Kamu tahu, hubungan kita pasti akan menjadi sorotan publik."
"Bahkan hubungan kita diawali dari rumor yang mereka ciptakan, Aya. Jadi, kenapa kita nggak mewujudkan rumor itu menjadi kenyataan? Mestinya mereka bersyukur karena mereka mendapatkan berita yang sensasional, kan? Seorang artis menikahi managernya, bukankah itu berita bagus? Oh, kalau perlu cerita itu bisa diadaptasi menjadi ftv," urai Steven penuh semangat. Sedang Aya tak lepas tersenyum mendengarnya.
"Tapi aku nggak mau menjadi sorotan publik. Cukup kamu aja," balas Aya.
"Apa itu artinya kita batal membuka restoran? Kamu mau aku menjadi artis lagi? Kamu nggak akan cemburu kalau aku beradu akting dengan artis lain?"
Aya menarik napas panjang lalu tersenyum. "Aku percaya padamu, Stev. Aku sudah tahu bagaimana kamu memperlakukan lawan mainmu di ftv. Jadi, aku nggak akan cemburu karena aku akan menjadi managermu lagi. Nggak pa pa, kan?"
"Itu ide brilian, Aya," decak Steven sambil menjentikkan jarinya. "Aku suka dengan wanita overprotektif seperti itu."
"Dasar aneh."
***