IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
delapan



"Ayah sudah pulang?" tegur Aya setelah membuka pintu dan mendapati Ayahnya sedang duduk di kursi ruang tamu. Saat Aya keluar beberapa menit yang lalu, Ayahnya belum datang.


"Iya," sahut laki-laki itu pelan. Wajahnya terlihat kusut seperti biasa. Kedua matanya merah akibat terlalu banyak mengonsumsi alkohol. Laki-laki itu lantas merebahkan tubuhnya di atas kursi usai menguap panjang.


"Apa Ayah mau sarapan?" tawar Aya seraya berjalan ke arah dapur lalu meletakkan telur yang baru saja dibelinya di dekat kompor. Ia sudah memasak nasi tadi pagi dan Aya berencana menggoreng telur sebagai teman sarapannya.


"Nanti saja," sahut Ayah Aya tak begitu jelas. Laki-laki itu bersiap tidur saat Aya bertanya.


Aya tak menyambung pembicaraan. Gadis itu mengambil sebuah mangkuk lalu memecahkan beberapa buah telur ke dalamnya.


Dulu, saat ibunya masih ada, mereka bisa menikmati berbagai macam masakan. Tak seperti sekarang. Aya hanya bisa menggoreng atau merebus telur untuk lauk makan. Sesekali ia membeli makanan ke warung jika tak sempat memasak atau persediaan bahan makanan mereka habis.


Usai menggoreng telur dan sarapan, Aya pergi membersihkan diri lalu bersiap berangkat. Ia tak butuh waktu lama untuk memilih pakaian dan berdandan. Aya adalah tipe orang yang praktis. Ia lebih suka bergaya kasual untuk urusan fashion dan riasan natural untuk wajahnya.


"Aku sudah menyiapkan makanan Ayah di meja makan," beritahu Aya sebelum melangkah ke arah pintu. "Aku berangkat dulu, Ayah."


"Tunggu!"


Tangan Aya seketika berhenti di udara padahal gagang pintu nyaris teraih olehnya. Gadis itu berbalik dan mendapati ayahnya telah bangun dari atas kursi.


Aya bergeming di tempatnya tanpa bertanya. Ia hanya menunggu karena yakin sebentar lagi ayahnya akan angkat bicara.


"Apa kamu punya uang?" tanya Ayah Aya hati-hati. Tatapannya mengarah lurus dan penuh dengan pengharapan besar.


"Uang? Untuk apa?" Kening Aya berkerut heran. Ia selalu memberi jatah uang pada ayahnya meski tak banyak. Dengan uang itu ayahnya bisa membeli makan atau apapun yang diinginkannya.


"Ayah... " Laki-laki itu terlihat bingung. Padanan kata yang telah ia susun di dalam kepalanya terasa berat untuk disampaikan. "Ayah... punya utang, Ay," lanjut ayah Aya kemudian. Ia perlu waktu untuk mengumpulkan sedikit keberanian mengatakan hal itu di depan Aya.


"Maafkan Ayah, Ay," ucap laki-laki itu. Raut wajahnya dipenuhi dengan penyesalan yang tak terhitung banyaknya dan ia terlihat sangat canggung berhadapan dengan putrinya sendiri.


"Sebenarnya Ayah berutang untuk apa?" cecar Aya. Gadis itu butuh penjelasan sebelum ia mengambil keputusan.


Ayah Aya terdiam. Kepalanya setengah tertunduk demi menghindari tatapan Aya yang mengintimidasi dirinya.


"Ayah..."


"Ayah... kalah judi, Ay," ungkap Ayah Aya sejurus kemudian.


"Judi?!" Aya benar-benar tak bisa mengendalikan suaranya seolah tak peduli akan ada orang di luar sana yang mendengar jeritan itu. "Bagaimana bisa Ayah melakukan ini, hah?!"


"Ayah minta maaf, Ay."


Aya mengembuskan napas kasar. Sejak kecil ia selalu mengidolakan ayahnya yang seorang pekerja keras, bekerja dari pagi sampai malam dan kerap membawakannya makanan di tiap akhir pekan. Bahkan Aya pernah memimpikan memiliki pasangan sekeren ayahnya, tapi rasanya mimpi itu telah mengkhianati dirinya. Ayahnya yang dulu telah lenyap sejak ibu Aya meninggal. Dan sosok yang berdiri di hadapan Aya sekarang adalah orang asing yang tak dikenalnya.


"Kenapa Ayah melakukan ini padaku?" keluh Aya mengungkapkan kekecewaannya. "Aku tahu Ayah belum menerima kepergian Ibu dan aku diam saja saat Ayah mabuk-mabukan setiap malam. Aku ingin mengingatkan ayah, tapi aku nggak tahu harus menggunakan kalimat apa karena aku tahu ayah nggak akan pernah mendengarkanku. Kupikir seiring berjalannya waktu, Ayah akan sadar dengan sendirinya. Tapi, nyatanya aku sudah salah. Ayah malah terjerumus lebih jauh dari yang kukira."


"Ayah berjanji nggak akan mengulanginya lagi, Ay." Laki-laki itu berusaha meraih lengan putrinya, namun Aya segera menepisnya.


"Sulit untuk mengubah hati seseorang, Ayah," tandas gadis itu dengan suara pilu. Ia membalikkan tubuh lalu membuka pintu dan melangkah pergi tanpa menghiraukan orang yang pernah sangat diidolakannya.


Separuh hati Aya hancur pagi ini. Meski tampak sulit untuk mengubah seseorang, bukan berarti itu mustahil, kan?


***