IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
dua puluh dua



Seperti permintaan Steven, Aya urung menelepon Soraya atau ambulan sekalipun. Gadis itu hanya mengompres kening Steven dengan menggunakan air hangat, membuatkan bubur instan, dan memberi obat penurun panas yang beberapa saat lalu dibeli Aya di apotek terdekat dari apartemen. Setidaknya ia sudah berupaya melakukan sesuatu untuk mengobati Steven dan Aya hanya perlu menunggu hasilnya.


Menit ke menit berjalan dengan lambat. Sementara Aya menunggu kesembuhan Steven dengan melakukan pekerjaan rumah tangga. Apa saja yang ia bisa, maka Aya akan melakukannya dengan senang hati. Gadis itu bahkan telah membersihkan seluruh lantai di dalam ruangan apartemen milik Steven. Ia juga mengelap meja, kursi, dan perabotan lain. Jendela kaca juga tak luput dari lap dan semprotan pembersih. Pakaian kotor, peralatan makan, serta kamar mandi juga tak lupa Aya bersihkan. Alhasil, gadis itu kelelahan dan jatuh tertidur di sebelah tempat tidur Steven.


"Apa demammu sudah turun?" Aya terjaga setelah dua jam tertidur dengan menumpukan kepalanya di samping lengan Steven. Ia segera memeriksa suhu tubuh cowok itu dengan menggunakan sebuah termometer yang ditemukannya di dalam kotak obat. Tapi, hasilnya masih sama. Suhu tubuh Steven belum juga turun sampai detik ini.


Aya bergegas mengganti air kompresan dengan yang baru setelah meletakkan kembali alat pengukur suhu itu di atas meja. Mungkin ia harus berjaga sepanjang malam di samping Steven karena belum ada tanda-tanda suhu tubuh cowok itu berangsur menurun.


"Stev, bangunlah." Aya mencoba membangunkan cowok itu sembari menunggu air rebusan di atas kompor mendidih. Jam sudah menunjuk angka enam petang dan saatnya bagi Steven meminum obat.


Steven mengigau pelan ketika lengannya terguncang. Cowok itu berusaha membuka separuh matanya karena Aya terus memanggil-manggil. Andai saja ia tidak sedang demam, Steven akan memarahinya habis-habisan. Tapi kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.


"Aku nggak mau minum obat," ucap Steven lirih.


"Tapi kamu harus minum obat, Stev. Kamu nggak mau kan, aku menelepon Nyonya? Oh, atau aku menghubungi ambulan aja? Bagaimana kalau aku memanggil para wartawan itu dan bilang pada mereka kalau kamu sedang sakit?" cerocos gadis itu seakan-akan sedang bicara dengan Steven yang sehat dan bugar.


"Kamu mengancamku?" Di saat seperti ini pun Aya masih terlihat menyebalkan, bahkan ia terlihat dua kali lebih menyebalkan ketimbang biasanya. Namun, untuk mengeluarkan suara pun Steven tak bisa sekeras biasanya, jadi apalah dayanya saat ini. Aya yang memegang kendali sekarang.


"Iya, aku memang mengancam. Karena kamu nggak mau minum obat," balas Aya merasa di atas angin. Steven tidak akan bisa melakukan perlawanan di tengah kondisinya sekarang ini. Jika Aya benar-benar menjadi dokter seperti yang pernah ia cita-citakan dulu, apa dirinya akan mengancam setiap pasien yang berobat padanya?


"Kamu licik," maki Steven lirih.


"Karena kamu nggak mau diajak kerja sama, Stev."


"Iya, baiklah. Aku akan minum obatnya." Akhirnya Steven mengalah tanpa perlawanan seperti yang diharapkan Aya.


"Tapi kamu harus makan buburnya dulu."


"Bukannya tadi kamu menyuruh untuk minum obatnya?" protes Steven.


"Iya, tapi obat harus diminum setelah makan. Sekarang kamu harus makan meski cuma dua sendok aja," ucap gadis itu sembari mengambil mangkuk bubur dari atas meja.


"Iya, kenapa? Ini nggak basi, kok. Lagipula sayang kalau nggak dimakan, kan?"


"Tapi rasanya nggak enak, Aya. Mulutku pahit, tahu nggak?"


"Kamu itu sedang sakit, nggak usah banyak protes."


"Dasar." Steven hanya bisa menggerutu kali ini, tapi setelah ia sehat nanti, cowok itu berjanji akan membalas perbuatan Aya. "Aku minta mi instan atau apa aja, tapi jangan bubur itu." Steven berubah pikiran. Daripada harus makan bubur dingin, lebih baik ia makan sesuatu yang lain.


"Lalu buburnya?"


"Kamu aja yang makan."


"Apa kamu mau aku pergi keluar dan membelikanmu makanan? Ayam geprek sepertinya enak," usul Aya sejurus kemudian.


"Enak buat perutmu," gerutu Steven bertambah kesal. "Buatkan aku mi instan aja."


"Tapi sepertinya mi instan persediaan kita habis. Bagaimana?"


Steven mendengus kasar mendengar pengakuan yang sangat mengecewakan dari bibir Aya.


"Kalau begitu belikan aku mi ayam di luar dan cepatlah kembali, oke?"


"Kenapa kita nggak pesan antar aja?"


"Aya! Aku sedang sakit, jangan membuatku marah," geram Steven sambil melempar sebuah bantal ke tubuh Aya.


"Baiklah, aku akan pergi membeli mi ayam!" Gadis itu tergopoh-gopoh pergi dari hadapan Steven untuk segera membeli mi ayam sesuai perintah majikannya. Sebelum pergi ia terlebih dulu mematikan kompor.


***