IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
tujuh



"Sepertinya Eva menyukaimu," beritahu Aya. Gadis itu sedang sibuk mengeluarkan barang-barang belanjaan dari dalam kantung kresek dan ia bicara tanpa memperhatikan Steven karena Aya harus memilah barang apa saja yang mesti masuk ke dalam kulkas atau diletakkan di tempat-tempat khusus.


Begitu sadar tak ada sahutan dari bibir Steven, barulah Aya memalingkan wajah ke ruang tamu. Di apartemen Steven yang lumayan sempit, tidak ada ruang tengah yang biasa difungsikan sebagai ruang keluarga. Dapur dan ruang makan menyatu tanpa sekat. Sementara ruang tamu dan ruang makan hanya dibatasi sebuah lemari berukuran besar. Jadi, seharusnya Steven yang sedang duduk di ruang tamu dan bermain ponsel, bisa mendengar suara Aya. Tapi, sepertinya kesibukan Steven mengutak-atik gawainya membuat sepasang telinganya kurang berfungsi dengan baik.


Aya menahan kalimatnya di tenggorokan. Untuk saat ini, percuma bicara dengan orang yang tenggelam dalam kesibukan bermain ponsel. Bisa jadi Steven sedang chatting dengan Eva, pikir Aya seraya beralih kegiatan.


"Sepertinya Eva menyukaimu," ucap Aya beberapa menit kemudian. Gadis itu berjalan ke ruang tamu lalu meletakkan sebuah piring berisi buah apel yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian ke atas meja. "Apa kamu mendengarku?" tanya Aya seraya menjatuhkan pantat di atas sofa tak jauh dari tempat duduk Steven. Ia mengambil remot kontrol dari atas meja lalu menyalakan televisi layaknya sedang berada di rumah sendiri. Di rumah Aya memang belum ada televisi sampai sekarang. Entahlah, Aya belum berniat untuk membeli sebuah televisi, bekas sekalipun.


"Iya, aku dengar," balas Steven datar. Namun, sepasang matanya masih fokus ke layar ponsel.


"Lalu? Menurutmu?" Diam-diam Aya mencomot irisan buah apel lalu memasukkannya ke dalam mulut. Perutnya masih terasa lapar meski sudah diisi waktu perjalanan pulang syuting beberapa saat lalu.


Steven mengangkat wajah dan tampaklah kerutan tajam di keningnya. Ia mengambil irisan apel dari atas piring seperti yang Aya lakukan sebelum gadis itu menghabiskan jatahnya.


"Wajar jika dia menyukaiku," ucap Steven terlihat bangga. "Ada banyak gadis di negeri ini yang menyukaiku. Bahkan ibu-ibu juga. Kamu lihat sendiri kan, saat kita pergi ke mal. Mereka berebut ingin foto bersamaku."


"Astaga," desis Aya kesal melihat reaksi Steven yang menurutnya sangat berlebihan. Ia juga terlalu sombong. Tapi Aya mesti menyabarkan diri. "Bukan itu maksudnya," ujar Aya usai menetralkan letupan emosi yang mulai menguasai dadanya.


"Lalu?"


Aya menarik napas panjang. Steven pasti tahu apa yang dimaksud gadis itu, tapi ia hanya berpura-pura bodoh.


"Sepertinya dia punya harapan lebih terhadapmu. Maksudnya, Eva ingin menjadi pacarmu. Apa kamu paham sekarang?" Aya berusaha hati-hati menjelaskan.


"Oh." Steven menanggapi kalimat Aya dengan satu kata 'oh' lalu melanjutkan kembali kegiatan mengutak-atik ponsel. Apa penjelasan Aya tidak membuat cowok itu bereaksi sama sekali? Bahkan sikapnya terkesan cuek, tidak ada ketertarikan sama sekali terhadap Eva yang cantik bak bidadari.


"Kamu nggak merespon?" Aya menatap cowok itu dengan pandangan heran. Ia melupakan irisan apel di atas meja karena sikap cuek Steven perlu diselidiki lebih lanjut.


"Kenapa aku harus merespon?" balas Steven dengan nada dingin.


"Bukannya dia sangat cantik?"


"Iya, dia cantik." Steven masih menyahut meski pandangannya tertuju ke atas layar ponsel.


"Kamu nggak menyukainya?" Aya sangat berhati-hati menanyakan pertanyaan ini.


"Apa aku harus menyukainya karena dia cantik?"


Aya terenyak. Perasaan tak enak langsung menyergap diri gadis itu.


"Nggak juga." Aya merasa sikapnya kaku kali ini.


"Apa Eva yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?" Steven menegakkan kepala dan menatap ke arah Aya. Rautnya tegas dan sorot matanya mengatakan jika ia tidak sedang bercanda.


"Nggak," sahut Aya dengan terbata. "Aku cuma ingin tahu perasaanmu. Itu aja."


"Sekarang kamu sudah tahu perasaanku, kan?"


"Iya, iya," balas Aya tergagap. "Ah, sudah malam. Aku harus pulang sekarang," pamit gadis itu tiba-tiba. Ia bergegas bangun dari tempat duduknya lalu berlari ke arah ruang makan. Usai menyambar tasnya yang diletakkan di atas meja makan, Aya tampak tergopoh-gopoh keluar dari apartemen Steven.


Steven hanya menahan napas melihat tingkah polah managernya. Aya yang selalu kabur di saat Steven sedang bicara serius atau sedang memarahi gadis itu.


Dasar, maki Steven dalam hati.


***