IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
dua puluh tujuh



"Nggak ada yang mengenaliku, kan?" Steven berbisik di dekat telinga Aya dengan sepasang bola mata bergulir ke kanan dan kiri. Suasana di dalam mal siang ini tak begitu ramai dan keduanya sedang mengarahkan kaki mereka ke supermarket. Harusnya Steven tak perlu khawatir akan ada orang yang mengenalinya karena hampir seluruh wajah cowok itu tertutup masker penutup mulut dan hidung.


"Tenang aja, penyamaranmu sempurna, kok." Aya bersikap sangat tenang, berkebalikan dengan yang dirasakan Steven sekarang. Gadis itu tampak cukup menikmati pengalamannya kali ini setelah beberapa lama hanya berkutat di dalam apartemen Steven.


Namun, kalimat Aya tak bisa menenangkan hati Steven. Tetap saja ia merasa sedikit waswas meskipun sudah menutupi wajahnya dengan selembar masker sekali pakai. Para wartawan bisa saja menguntit atau mengawasi pergerakan mereka dari jauh. Siapa yang tahu?


"Apa yang ingin kamu beli?" tanya Aya begitu mereka tiba di supermarket. Gadis itu mendorong sebuah troli belanja dan mulai kegiatan favoritnya, yaitu berbelanja. Steven yang berjalan di sampingnya masih fokus pada orang-orang di sekitar. Ia masih saja khawatir jika ada wartawan atau orang akan mengenali dirinya.


"Terserah kamu," balas Steven yang sesungguhnya tak terlalu memerhatikan pertanyaan Aya.


"Benar terserah aku?" Aya urung mengambil sebungkus tisu wajah dari dalam rak dan mengalihkan tatapan penuh tanda tanya ke arah Steven.


"Ambil seperlunya," ralat Steven. "Kamu tahu kan, apa aja yang habis di rumah?"


Aya mengerti. Ia hafal apa saja yang dibutuhkan Steven, barang-barang kebutuhan cowok itu beserta merk yang dipakainya.


"Apa benar kamu mau membuka restoran?" Aya teringat kembali akan perbincangan mereka saat berada dalam mobil tadi. Ia belum merasa yakin dengan ucapan Steven. Yang jelas, Aya butuh kepastian.


"Iya," sahut Steven pendek. Cowok itu terus mendampingi Aya dan trolinya. Kedua tangannya disembunyikan dalam saku jaket seolah enggan untuk mengambil sesuatu dari dalam rak dan kesempatan ini dimanfaatkan Aya dengan sebaik-baiknya. Saat Steven tampak lengah maka ia akan mengambil barang lain yang tak terlalu diperlukan. "Kamu sangat berpengalaman bekerja di restoran, kan?"


Aya berdeham pelan. Memang, batinnya membenarkan. Tapi bekerja di restoran cukup melelahkan meski ia dapat jatah makan siang setiap harinya.


"Kamu suka bekerja di restoran, kan?" tegur Steven menyentak kebisuan Aya.


"Nggak juga."


"Lalu kenapa kamu menyuruhku untuk membuka restoran?"


"Daripada kamu nggak ada kerjaan," sahut Aya asal.


"Jadi kamu lebih suka aku menjadi artis atau pengusaha restoran?" Steven mulai mengabaikan orang-orang di sekitar dan fokus pada perbincangan mereka.


"Menurutmu?"


"Kenapa bertanya padaku? Aku meminta pendapatmu, Aya," ucap Steven sambil mengeluarkan tangan kanannya untuk mengambil cemilan tinggi kandungan garam dari dalam troli. Padahal Aya baru mengambilnya beberapa detik lalu. Tapi, gadis itu tak bisa marah. Karena ia memang tak berhak untuk marah.


"Ya, ampun," desis Steven kesal. "Apa kamu semiskin itu, hah? Apa di pikiranmu hanya ada uang dan uang? Kebahagiaan dan hati yang tenang lebih berharga dari uang, mengerti?"


"Karena kamu nggak tahu aku sangat butuh uang, Stev," lirih Aya.


"Apa?" Steven setengah berseru agar Aya mengulangi ucapannya. Suara pengumuman promosi dan potongan harga yang disiarkan di segenap penjuru supermarket sedikit mengganggu pendengaran Steven.


"Nggak pa pa." Aya enggan untuk mengulangi ucapannya dan memilih untuk mendorong kembali trolinya.


Steven tertegun sejenak di tempatnya berdiri demi memikirkan kira-kira apa yang tadi diucapkan oleh Aya. Namun, setelah tak berhasil menebak, ia kembali menyusul langkah-langkah Aya.


"Kamu nggak membeli ini sekalian?"


Aya menoleh mendengar teguran Steven yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Sesaat yang lalu Aya meninggalkannya dan ia tak terlalu memerhatikan tingkah cowok itu.


"Apa?"


"Ini. Kamu butuh ini setiap bulan, kan?" balas Steven seraya menunjuk ke arah rak yang menampilkan beraneka macam pembalut wanita.


Aya menggeram sebal. Ia dan semua wanita di dunia memang butuh benda itu, tapi Aya lebih suka membelinya sendiri.


"Aku bisa beli sendiri nanti," cetus Aya sewot.


"Oh ya? Dan aku sangat berterima kasih karena kamu pernah membelikan aku juga." Steven terlihat puas melihat perubahan ekspresi di wajah polos Aya. Ia berhasil membuat gadis itu malu setengah mati dengan sindiran pedasnya. "Tapi, kamu tahu kan, aku nggak butuh itu? Jadi, aku masih menyimpannya di dalam lemari. Apa kamu mau mengambilnya kembali?"


Astaga! Aya ingat sekarang. Saat itu ia disuruh berbelanja oleh Steven dan memasukkan sebungkus pembalut wanita ke dalam daftar belanjaan. Aya lupa tak menyisihkan benda itu ketika menyerahkan belanjaannya kepada Steven. Kebiasaan buruknya membuat Aya harus menelan rasa malu setengah mati.


"Kamu mau meminta maaf sekarang?" Steven menyondongkan tubuhnya ke arah Aya. Inilah saat yang tepat untuk mengintimidasi gadis itu. "Aku akan memberimu maaf kalau kamu membayar ganti rugi." Steven menyeringai tajam di balik masker penutup wajahnya.


"Sorry."


Sungguh, ini adalah momen paling memalukan baginya. Berkat kecerobohan Aya, ia harus terkena akibatnya.


***