IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
tiga puluh



"Maaf, nomor yang sedang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."


Steven terpaksa mengembuskan napas kesal ketika mencoba menghubungi nomor milik Aya, namun hanya suara mesin penjawab yang ditangkap telinga kanannya. Ia sudah mencoba hal itu lebih dari lima kali dan tidak membuahkan hasil sama sekali. Apa jangan-jangan Aya sudah mendengar berita terbaru tentang ia dan Steven, sehingga gadis itu marah dan mematikan ponselnya?


Steven merasa harus melakukan sesuatu. Ia harus bicara dengan Aya secepatnya.


Para wartawan itu kembali berjaga di luar gedung apartemen setelah beberapa hari tak menampakkan diri. Tapi Steven tak peduli. Cowok itu melajukan kendaraannya keluar dari lantai basement tanpa mengurangi kecepatan. Alhasil, ia hampir menabrak salah satu dari para pencari berita itu karena nekat menghadang laju mobil Steven.


Ia tak terlalu ingat di mana alamat rumah Aya. Tapi Pak Jo tahu. Dan Steven terpaksa melanggar peraturan lalu lintas kali ini agar bisa menelepon pria itu.


"Pak Jo tahu alamat Aya, kan? Tolong kirim alamatnya ke nomorku sekarang," ucap Steven memberi perintah. Cowok itu menutup teleponnya segera setelah selesai dengan kalimatnya.


Rumah Aya lumayan jauh dari apartemen Steven. Butuh setengah jam untuk sampai di sebuah gang sempit yang padat penduduk dan konon Aya tinggal di salah satu rumah di sana. Namun, Steven terpaksa meninggalkan mobilnya tak jauh dari mulut gang, persis di depan sebuah minimarket. Dan ia keluar setelah mengenakan selembar masker sekali pakai demi menyamarkan penampilan. Dikenali di tempat umum, terlebih lagi di pemukiman padat penduduk adalah hal yang harus dihindari seorang pesohor seperti Steven. Karena ia bisa terluka oleh tangan-tangan iseng ibu-ibu rumah tangga yang mengidolakan dirinya.


Steven langsung mengetuk daun pintu sebuah rumah petak kecil nan sederhana. Tempat itu terlihat sekecil kamar mandi di rumah maminya dan seseorang yang Steven temui tadi memberitahu jika rumah itu rumah Aya. Namun, sampai ketukan ketiga kalinya belum ada sahutan, Aya atau ayahnya. Dan saat Steven mendorong pintu tersebut, ia mendapati benda itu terkunci. Rumah itu kosong.


"Sebenarnya kamu di mana, Aya?" Steven mengusap tengkuknya gusar. Cowok itu berkali-kali mengembuskan napas kasar saat mencoba menghubungi nomor Aya, namun jawaban yang ia dapatkan masih sama seperti sebelumnya. Gadis itu belum mengaktifkan ponselnya.


Apa setelah mendengar berita itu, Aya memutuskan untuk pergi dan mematikan ponselnya? Tapi, ia bahkan belum bicara apapun dengan Steven. Paling tidak ia bisa bertanya atau merencanakan sesuatu seperti yang biasa dilakukannya, semisal jumpa pers atau memosting tanggapan untuk menyangkal rumor tersebut dan bukan menghilang tiba-tiba seperti ini.


Steven masih berdiri di teras rumah Aya sampai beberapa menit lamanya. Raut wajahnya terlihat tegang dan sesekali ekor matanya menatap ke arah ujung jalan. Dalam hatinya berharap Aya akan muncul dari sana.


Teguran seorang wanita paruh baya seketika mengalihkan pandangan Steven dari ujung jalan. Harapannya akan kemunculan Aya sepertinya sia-sia belaka.


"Iya," sahut Steven tanpa membuka masker penutup hidung dan mulutnya. Meski sikapnya termasuk dalam kategori tidak sopan, namun Steven tidak peduli. Lebih baik menyembunyikan identitas ketimbang memancing masalah baru. "Apa Ibu tahu di mana Aya?"


"Tadi dia pergi mengantar ayahnya ke rumah sakit," jawab wanita berdaster motif bunga sepatu itu. Ia menatap Steven dengan penuh tanda tanya dan sekelumit kecurigaan. "Pagi tadi ada orang datang dan memukuli ayah Aya karena dia nggak bisa bayar utang," paparnya dengan kalimat singkat, namun cukup bisa dipahami Steven.


"Oh ya?" Steven kaget dan seketika melipat kulit dahinya. Selama ini Aya tak pernah berkata apa-apa padanya. Steven menjadi mengerti sekarang, Aya sangat butuh uang untuk melunasi utang ayahnya dan ia telah salah sangka pada gadis itu.


"Apa kamu teman Aya?"


"Iya," sahut Steven tergagap. Lamunannya harus tercecer karena keingintahuan wanita itu. "Apa Ibu tahu di mana rumah sakit ayah Aya dirawat?"


Namun, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Tanpa jawaban.


"Makasih, Bu." Steven mengucapkan terima kasih sebelum beranjak dari tempatnya berdiri. Cowok itu buru-buru pergi dari teras rumah Aya sebelum wanita itu terlanjur mengenalinya.


***