IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
tiga puluh satu



Steven menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur begitu tiba di apartemennya. Di luar, gelap telah meremang, namun pencariannya seharian ini sama sekali tak membuahkan hasil. Aya belum diketemukan meski Steven sudah menjelajah beberapa rumah sakit paling dekat dari rumah gadis itu. Ia juga sudah mengecek ke rumah Aya dan kembali bertanya pada tetangga sekitar tempat itu, dan hasilnya sangat mengecewakan. Aya belum pulang. Steven juga melakukan panggilan ke nomor ponselnya entah untuk ke berapa, namun masih saja mesin penjawab yang didengarnya.


Kamu di mana, Aya?


Tubuh dan pikiran Steven terasa begitu lelah. Perutnya kosong sejak pagi dan entah kenapa ia tak merasa lapar. Ternyata mencemaskan seseorang bisa membuatnya segila ini. Lupa makan dan menghabiskan waktu dengan hal-hal konyol. Padahal ia bisa menunggu sampai Aya menghubunginya. Tidak mungkin Aya akan melarikan diri dan mengabaikan setengah gaji yang masih bisa didapatnya dari Steven. Bukankah ia masih membutuhkan uang untuk membayar utang dan biaya pengobatan ayahnya. Tapi, sepertinya Steven tidak bisa lebih bersabar dari biasanya. Ia juga tidak segusar ini sebelumnya, bahkan terhadap Thalia sekalipun. Apa perasaannya pada Aya sebesar itu?


Karena terlalu lelah dan pikirannya terus mengembara tanpa tujuan, kedua mata Steven terlelap beberapa saat kemudian. Tubuhnya lelah, namun hatinya lebih lelah lagi.


"Steven?"


Rasanya Steven berhalusinasi. Atau Aya benar-benar datang dalam mimpinya? Suara gadis itu terdengar sangat nyata, bahkan tubuh Steven ikut terguncang saat suara itu kembali memanggil.


"Stev!"


Steven terbangun demi mendengar suara Aya yang tiba-tiba meninggi dan membuatnya kaget. Cowok itu menegakkan punggung dan mendapati sosok Aya yang nyata sedang berdiri di samping tempat tidur Steven. Penampilannya tak begitu bagus. Rautnya juga. Rambut Aya juga terlihat diikat sekadarnya.


"Kamu ke mana aja, Aya? Aku mencarimu ke mana-mana, tahu nggak?"


Aya terperangah mendapat cecaran dari Steven. Saat dalam perjalanan tadi ia sudah bersiap dengan segala risikonya, termasuk dipecat oleh Steven sekalipun. Seharian tanpa kabar dan tak masuk kerja.


"Sorry." Aya bersungguh-sungguh meminta maaf. "Aku bisa menjelaskan semua ini," ucapnya, tapi Steven buru-buru berdiri dan langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Aku mencemaskanmu, tahu nggak?" ucap Steven setelah melepaskan tubuh Aya dan gadis itu diam di tempat bak patung yang baru saja diukir. "Kenapa kamu nggak pernah jujur kalau ayahmu punya utang, hah?"


Aya bingung. Bagaimana Steven bisa tahu? batinnya.


"Apa seseorang memberitahumu?" tanya gadis itu terbata. Ia masih tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Tiba-tiba Steven memeluknya dan mengatakan kalau ia mencemaskan Aya. Meski jauh di dalam hatinya merasa senang, tetap saja ini mengherankan untuk Aya. Seperti mimpi di siang bolong. Walaupun ini nyata, namun seperti khayalan.


"Iya, aku ke rumahmu tadi pagi dan seseorang memberitahuku. Lalu kenapa ponselmu mati?"


"Itu... ponselku terjatuh saat orang-orang itu memukuli ayahku," papar Aya sembari tertunduk. Meski tak ingin mengingatnya kembali, kejadian itu melintas cepat di dalam pikirannya.


"Ya, ampun, Aya. Kalau aja kamu bilang dari awal, mungkin kejadiannya nggak seperti ini. Memangnya berapa utang ayahmu?"


"Kamu nggak percaya padaku?" Steven sudah bisa membaca secercah keraguan yang tersirat di wajah gadis itu. "Apa kamu tahu, berita tentang kita di internet? Mereka bilang kita pacaran, Aya. Mereka mencuri foto kita diam-diam saat di mal."


"Apa?!" Jelas saja Aya kaget setengah mati. Seharian ini ia menunggu ayahnya di rumah sakit dan tidak tahu menahu tentang kabar di internet. "Tapi kita nggak pacaran..."


"Bagaimana kalau aku ingin kita pacaran?"


Aya bergeming.


"Denganku?" tanya gadis itu sejurus kemudian dengan menunjuk hidung. "Jangan bercanda, Stev. Aku nggak pernah layak buatmu. Aku berbeda dari Thalia. Aku nggak secantik dia..."


"Aku sudah menurunkan standarku, Aya. Aku tahu gadis cantik memang menarik, tapi merasa nyaman di samping seseorang rasanya jauh lebih menyenangkan. Cinta nggak selalu diawali dari ketertarikan fisik, kan?" Steven merekahkan senyum termanisnya. "Aku menyukaimu, Aya."


Wow! Aya berdecak dalam hati. Steven baru saja menembaknya.


"Kamu boleh nggak menyukaiku, tapi aku bisa membuatmu menyukaiku," ucap Steven percaya diri. Dan pernyataannya membuat Aya tersenyum geli. Cowok itu masih seangkuh dulu.


"Sepertinya kamu harus berjuang untuk meyakinkanku, Stev."


"Iya, aku akan melakukannya. Tapi sekarang aku sangat lapar. Dari pagi aku belum makan karena terus mencarimu dan sekarang kamu yang harus bertanggung jawab. Buatkan aku makanan yang enak, tapi bukan mi instan."


"Kenapa kamu nggak makan hanya karena mencariku, hah?" Gadis itu mengomel sambil berjalan ke arah dapur. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa butir telur dari dalam sana. Juga sayuran.


"Apa kamu juga mencemaskanku?" Steven muncul di belakang punggung Aya tiba-tiba dan membuat gadis itu terkejut.


"Menurutmu?"


Bahu Steven mengedik. "Aku nggak tahu."


"Aku harus masak sesuatu sekarang, jadi duduklah dan tunggu di ruang tamu. Aku nggak akan lama."


***