IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
dua puluh



"Jangan nyalakan televisinya!"


Aya terperanjat mendengar teriakan Steven dan mengakibatkan remote kontrol dalam genggamannya terlepas dan jatuh ke atas lantai.


"Kenapa?" tanya Aya bingung. Ia sampai melongo menatap ke arah Steven yang tampak buru-buru menyambar remote kontrol dari atas lantai lalu meletakkan benda itu tepat di belakang punggungnya.


"Pokoknya jangan menyalakan televisi, oke?" Steven yang sedang duduk di atas sofa panjang, kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.


Aya mendengus cukup keras mendengar larangan Steven. Ia baru saja membereskan meja, mencuci peralatan makan, dan membuang sampah bekas ayam goreng yang dimakan Steven tadi. Dan sekarang tak ada yang dikerjakan gadis itu.


"Aku hanya ingin nonton, Stev. Jam segini pasti nggak ada acara gosip di televisi," ucap Aya mencoba untuk merajuk.


"Pokoknya nggak boleh." Steven bertahan pada pendiriannya. "Kenapa kamu nggak membersihkan kamar dan mencuci pakaian kotorku?" Steven berpikir harus membuat gadis itu sibuk atau ia akan merusak konsentrasinya bermain game.


"Bukannya kamu sudah menggaji orang untuk melakukan semua itu?"


"Aku sudah memecatnya. Lagipula kamu nggak ada kerjaan, kan? Apa kamu mau makan gaji buta?"


"Tapi aku bukan pembantu," keluh Aya dengan suara rendah. Namun tetap saja Steven masih bisa menangkap suaranya dengan jelas.


"Aku sudah bukan artis lagi, kan? Jadi kamu bukan manager lagi," tandas Steven.


Aya mencebik tanpa sepengetahuan Steven yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Kenapa masih di situ? Ayo bersihkan kamarku sana," suruh Steven begitu menatap ke arah tempat duduk Aya dan mendapati gadis itu masih tertegun.


"Iya, Bos."


"Apa kamu akan mengurangi gajiku?" Beberapa menit kemudian, Aya tiba-tiba muncul lagi di hadapan Steven dengan setumpuk pakaian kotor di tangannya.


Steven mengangkat dagu dan menghentikan permainannya sejenak. Bukankah mesin cuci berada di dekat dapur? Kenapa Aya membawa pakaian-pakaian kotor itu ke hadapannya dan bertanya soal gaji?


"Apa di pikiranmu hanya ada uang dan uang, hah?" geram Steven ketika melihat wajah polos Aya. Gadis itu hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri seolah tidak peduli dengan perasaan Steven. "Kalau kamu nggak suka bekerja untukku, sebaiknya kamu pergi dari sini."


Aya terenyak. Ia tidak menduga jika pertanyaan sederhananya akan berujung pada kemarahan pada diri Steven. Aya tahu keadaan yang menimpa Steven, tapi ia juga butuh uang itu untuk membayar utang ayahnya. Dan ia hanya ingin kepastian soal gajinya, tak lebih dari itu.


"Sorry." Wajah Aya tertunduk ketika bibirnya meluncurkan sebuah kata maaf untuk Steven. Ia sangat menyesal telah membuat cowok itu marah. "Aku akan mencuci ini," ucap gadis itu sembari menunjuk ke arah pakaian-pakaian kotor di tangannya. Ia melangkah dengan gontai ke arah mesin cuci yang berada di dekat dapur.


Kenapa tiba-tiba Steven merasa kasihan begitu melihat Aya memutar tubuh dan berjalan dengan wajah tertunduk ke lantai? Apa ia sudah keterlaluan padanya sehingga Aya memasang sikap seperti itu? Tapi salah Aya juga yang terlalu banyak bertanya seolah-olah tak mengerti situasi yang sedang menimpa Steven.


Di sela-sela kesibukannya mencuci pakaian, sesekali Aya mencuri tatap ke arah ruang tamu sembari bertanya-tanya dalam hati. Apa Steven masih marah padanya? Apa yang harus dilakukannya untuk meredam kemarahan cowok itu?


Sementara itu, Steven juga sama. Sesekali ia melirik ke arah Aya yang sedang berkutat di depan mesin cuci. Sikap Aya tampak canggung dan ia tak berani mengajak Steven bicara lagi. Suasana di dalam apartemen menjadi sepi dan atmosfer di sana berubah aneh entah karena apa. Namun, ketika Steven menoleh kembali setelah beberapa lama, sosok Aya sudah tak tampak lagi di sana. Mesin cuci masih menyala, tapi ke mana gadis itu?


Steven bangun dari tempat duduknya dan mulai mencari keberadaan Aya. Di ruangan sekecil itu, sangat mudah mencari seseorang. Dan apa yang dilihat Steven benar-benar di luar dugaan. Aya tampak terlelap di atas tempat tidur milik Steven! Bukankah ini sangat keterlaluan?


Namun tiba-tiba saja Steven urung untuk meneriaki gadis itu. Demi melihat Aya yang tertidur begitu pulas membuatnya tidak tega untuk membangunkannya.


Sebenarnya jika dilihat dengan teliti, Aya cukup cantik. Hanya saja penampilannya yang sederhana dan terkesan asal-asalan membuat kecantikan yang dimiliki Aya tersamarkan. Andai saja Aya didandani seperti Thalia, mereka akan tampak sama cantiknya. Tapi tetap saja mereka adalah dua pribadi yang berbeda.


Steven memutuskan untuk membiarkan gadis itu meminjam tempat tidurnya barang sebentar dan ia mengambil alih tugas Aya mencuci pakaian.


***