
"Ini pesanannya," ujar Aya sembari menaruh sebuah kantung plastik yang mengeluarkan aroma gurih ayam goreng ke atas meja persis di depan tempat duduk Steven. "Aku mengantri selama sejam hanya untuk membeli itu," lapor gadis itu seraya meletakkan pantat di atas sofa tunggal tak jauh dari tubuh Steven.
"Kenapa? Nggak ikhlas?" Steven tampak bersungut-sungut saat menyahut kalimat Aya. Ia menatap kesal ke arah gadis itu, namun hanya sebentar. Steven tak mau konsentrasinya bermain game buyar gara-gara Aya.
"Bukannya begitu..."
"Lagipula kamu membeli itu dengan uangku, kan?"
Iya, memang. Aya menyahut dalam hati. Kartu kredit milik Steven masih ada dalam genggamannya dan jika mau, Aya bisa menggunakan benda itu untuk membeli apa saja. Dengan catatan, ia siap untuk dipecat karena telah menyalahgunakan kartu kredit majikannya.
"Apa di luar situasinya masih sama?" Steven membuka suara kembali, tapi ia berusaha untuk membagi konsentrasi antara permainan di ponsel dan berbincang dengan Aya.
Aya mengangguk seolah tak sadar jika Steven tak memperhatikan sikapnya.
"Ada lima wartawan yang sedang berjaga di luar gedung," beritahu Aya. Kelima wartawan itu sengaja stand by di luar gedung apartemen, namun sedikit agak jauh. Mereka tak bisa masuk begitu saja karena petugas keamanan tidak akan mengizinkan privasi penghuni apartemen diganggu. Tapi jika Steven tiba-tiba menampakkan diri, bisa dipastikan mereka akan segera menyerbu targetnya.
"Mereka belum menyerah juga," gumam Steven geram. Seandainya saja ia punya cara untuk mengusir wartawan-wartawan kurang kerjaan itu.
"Karena mereka tahu kamu masih ada di sini." Aya menyahut dengan santai. "Kalau saja kamu muncul dan memberi klarifikasi, mungkin mereka nggak akan melakukan ini. Lagipula kasihan mereka..."
"Kalau kamu kasihan pada mereka, kenapa kamu nggak menyuruh mereka masuk dan mewawancaraiku, hah?" Steven langsung menyahut dengan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun. "Sebenarnya kamu berada di pihak mana? Siapa yang membayarmu, hah? Mereka?"
Aya nyengir mendapat serentet omelan dari bibir Steven.
"Seenggaknya kalau kamu memberi klarifikasi, maka mereka akan berhenti mengejar kamu, kan? Lagipula kamu bisa membela diri dan bilang pada publik kalau rumor itu sama sekali nggak benar, bukannya bersembunyi seperti ini."
"Kenapa aku harus membela diri? Orang-orang yang mengenalku tahu kalau rumor itu nggak benar. Kenapa aku harus menjelaskan pada mereka? Kamu tahu kan, aku paling nggak suka membuka kehidupan pribadiku? Kalau aku tiba-tiba muncul dan memberi klarifikasi, mereka akan menggali semua informasi tentangku. Aku nggak suka kehidupan pribadi dan masa laluku menjadi konsumsi publik. Kamu mengerti?"
Aya menggeram, namun ia hanya bisa melakukannya dalam hati. Sepertinya Steven lebih percaya pada prinsip kebenaran akan terungkap dengan sendirinya suatu hari nanti, meski tanpa harus bersusah payah mengungkapkannya. Tapi butuh waktu berapa lama untuk mengembalikan semua pada tempatnya?
"Tapi paling nggak kamu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan karirmu, Stev," keluh gadis itu hampir putus asa. "Bagaimana dengan Thalia? Dia pacarmu, kan?" Tiba-tiba saja Aya teringat pada gadis cantik yang datang ke apartemen Steven malam itu. Sepertinya ia dan Steven memiliki hubungan istimewa.
"Kenapa?"
"Kalau kalian memutuskan untuk bertunangan atau menikah, rumor itu akan terbantahkan, bukan?"
Steven menghela napas panjang. Permainan di ponselnya sudah tamat sejak tadi karena Aya terus menerus mengajaknya bicara.
"Lupakan tentang dia." Steven meletakkan ponselnya di atas meja lalu mulai membuka kantung plastik berisi ayam goreng yang sudah dipesannya sejak semalam.
"Cuci tanganmu sebelum makan!" Aya menyambar kantung plastik itu dengan gerakan cepat sebelum Steven berhasil menyentuhnya.
Steven melongo melihat perbuatan Aya. Tapi gadis itu benar.
"Oke."
Steven menurut tanpa perlawanan sama sekali. Dengan perasaan enggan ia bangkit dan mulai berjalan ke arah dapur untuk mencuci tangan sesuai perintah Aya.
"Steven," Gadis itu berseru saat Steven mulai membasahi tangannya dengan air mengalir. "bagaimana kalau kita membuka restoran aja? Atau cafe?"
"Kita?" Steven memutar wajah dan menunjukkan kerutan tajam di keningnya.
"Oh... maksudku kamu," ralat Aya. "Kamu bisa membuka restoran atau cafe setelah ini dan aku akan membantumu, bagaimana?"
Steven menyunggingkan senyum mengejek di bibirnya. Jadi, selama ini Aya hanya memikirkan keuntungan pribadinya sendiri? Gadis itu takut kehilangan pekerjaannya?
"Uangku nggak cukup untuk membuka restoran. Lagipula aku lebih suka menjadi pemain ftv," balas Steven sambil meneruskan aktifitas mencuci tangannya.
"Tapi karirmu..."
"Aku yakin semua akan kembali normal suatu saat nanti. Atau kamu ingin kembali menjadi pelayan restoran? Kalau kamu ingin berhenti bekerja, silakan. Aku nggak akan melarang," tandas Steven usai membilas bersih tangannya.
"No!"
Steven tertawa penuh kemenangan dalam hati. Nyatanya Aya lebih suka bergantung pada dirinya ketimbang kembali pada pekerjaan lamanya.
"Kalau kamu masih suka menjadi managerku, sebaiknya kamu diam dan nggak banyak bicara, oke?" Steven menepuk pundak Aya saat berjalan melewati tubuh gadis itu.
"Iya, Bos."
***