
Aya menatap ragu ke atas layar ponselnya. Ayah memanggil? Tapi sekarang bukan situasi yang tepat untuk berbincang di telepon karena gadis itu masih duduk di atas jok mobil milik Steven dan mereka masih berada dalam perjalanan ke lokasi syuting. Namun, bagaimana jika ini mendesak?
"Halo, Ayah?" Aya memutuskan untuk mengangkat panggilan ayahnya setelah hitungan ketiga. "Ada apa?" Lebih baik segera menuju ke inti pembicaraan ketimbang berbasa-basi terlalu lama, pikir Aya. Lagipula Steven pasti tidak akan merasa nyaman karena harus mendengarnya bicara dengan seseorang melalui telepon.
"Orang itu datang menagih utang ayah, Aya."
Seketika Aya menahan napas mendengar pengakuan ayah. Suara laki-laki itu terdengar berat.
"Lalu?" Meski Steven dan Pak Jo yang duduk di dekatnya tidak mendengar percakapan itu, tetap saja Aya harus mengantisipasi agar tidak menimbulkan kecurigaan. Gadis itu memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. Perkara utang piutang bagi Aya adalah hal yang sangat memalukan.
"Dia minta ayah agar segera membayar utang..."
Aya menggigit bibir bawahnya demi melampiaskan segala rasa kecewa dan penyesalan. Apa yang dipikirkan ayahnya saat itu? Berjudi tidak akan pernah menguntungkan apalagi mendatangkan kekayaan.
"Tapi nggak bisa dalam waktu dekat ini, Ayah," desah Aya.
"Ayah akan meminjam pada kerabat ibumu, Aya. Kamu nggak perlu cemas. Ini adalah kesalahan ayah, dan ayah yang harus menanggungnya."
Aya belum sempat membuka mulut ketika sambungan telepon dengan ayahnya mendadak terputus. Bagaimana bisa ayah akan meminjam uang pada kerabat ibu Aya setelah gadis itu bersusah payah membayar lunas utang-utang mereka sebelumnya?
"Apa ada masalah dengan ayahmu?"
Mungkin ini karena Aya tak pernah menerima telepon dari ayahnya selama bekerja, makanya Steven bertanya. Namun gelengan pelan yang diberikan Aya tak cukup mengobati rasa ingin tahu cowok itu. Sikap ogah-ogahan yang ditunjukkan Aya malah membuat Steven semakin menaruh curiga.
"Apa kamu disuruh ayahmu untuk segera menikah?"
Hah?
Aya memutar kepalanya ke belakang dengan gerakan cepat. Bagaimana bisa Steven berpikir senorak itu? batin Aya geram. Ia pikir Steven tidak terusik suara pelannya saat menelepon tadi, tapi siapa yang menduga jika cowok itu memasang telinganya dengan sangat baik. Hanya saja tebakannya salah total.
"Ayahku bukan orang seperti itu," geram Aya. Ia buru-buru menatap kembali ke depan. Beruntung Pak Jo tak mengeluarkan komentar apapun. Ada kalanya seorang pendiam seribu kali jauh lebih baik dari orang yang terlalu banyak bertanya, apalagi salah tebak.
"Lalu?"
"Aku tahu."
Ponsel Steven bergetar, menghentikan segenap percakapan tidak berguna yang terjadi di antara mereka berdua.
"Halo?"
Aya menarik napas lega karena ia tidak perlu memperpanjang perdebatan itu. Lagipula ia tidak suka harus bermain-main dengan emosi. Jantungnya tidak akan cukup kuat menahan serangan akibat tensi darah yang melonjak naik dengan tiba-tiba.
"Mami dengar Thalia sudah kembali. Apa kamu sudah bertemu dengannya?" Mami Steven yang berbicara dari ujung telepon. Kedua orang tua Steven dan Thalia saling mengenal dengan sangat baik, jadi wajar jika ia sudah mendengar kabar kepulangan gadis cantik itu.
"Iya." Steven sedikit canggung untuk membahas soal Thalia sekarang ini. Pertengkaran semalam masih membekas kuat di benaknya, membuat tidur Steven tidak nyenyak. Baginya ini seperti sebuah pembalasan atas ejekan yang ia tujukan pada Aya. Mami Steven juga tak pernah menelepon di saat-saat seperti ini. Biasanya wanita itu akan berkunjung ke apartemen putranya jika sedang longgar. Kesibukannya di kantor milik pemerintah membuatnya tak memiliki banyak waktu luang.
"Syukurlah. Mami senang kalau kalian sudah bertemu. Mami hanya berharap yang terbaik untuk kalian berdua."
Jelas mami Steven mengharapkan putranya dan Thalia segera menikah. Namun, Steven tidak pernah berharap hal yang sama. Hubungannya dengan Thalia terlanjur retak sejak dua tahun lalu. Lantas apa yang bisa diharapkan? Meski sesungguhnya Steven masih menyimpan sisa-sisa cinta untuk gadis itu, tapi rasa kecewa yang bersarang di dalam hatinya terlalu sulit untuk dilepas begitu saja.
"Jangan terlalu berharap, Mi." Steven mendesah malas. Ia tak ingin memberi harapan secuilpun pada maminya, namun Steven tidak akan tega mengecewakan perasaan wanita itu. "Aku dalam perjalanan, Mi. Nanti kita bicara lagi."
"Apa ada masalah di rumah?" Aya langsung memutar wajah dan mencecar Steven dengan pertanyaan sesaat setelah cowok itu menutup sambungan telepon dengan maminya.
"Bukan urusanmu," balas Steven ketus.
"Iya, baik, Bos." Aya melirik ke arah Steven sekilas lalu menutup mulutnya rapat-rapat sampai di lokasi syuting. Ada kalanya ia harus bersikap tenang seperti yang dilakukan Pak Jo.
***