IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
dua puluh tiga



Steven merasa telah tidur sangat lama, seperti berhari-hari lamanya dan begitu pulas, serta tanpa secuil mimpi pun. Ketika ia membuka mata, sinar matahari pagi tampak menerobos melalui celah-celah udara di atas jendela yang tirainya masih tertutup rapat. Cowok itu merasa tubuhnya jauh lebih baik ketimbang kemarin. Ia tak lagi demam dan kepalanya sudah tak seberat sebelumnya. Semua berkat Aya. Ketelatenan gadis itu, meski terkadang ia cerewet dan menyebalkan, telah membuahkan hasil.


Oh!


Steven terkejut bukan kepalang ketika cowok itu bermaksud hendak turun dari atas tempat tidur. Pasalnya Aya sedang tidur dengan menumpukan kepalanya di dekat tubuh Steven dan tangannya memeluk lengan cowok itu cukup erat.


Sebenarnya apa yang dipikirkan Aya?


Steven tertegun cukup lama sembari menatap Aya yang belum menyadari jika majikannya sudah bangun. Bahkan Aya rela menunggunya semalaman. Bukan, tapi sejak seharian kemarin ia setia menjaga Steven. Aya juga sudah melakukan berbagai upaya demi kesembuhan Steven. Meski ia terkadang menyebalkan, namun Steven sangat menghargai semua yang dilakukan Aya. Apakah Aya melakukan semua itu demi uang ataukah karena hatinya yang ingin? Ikhlaskah ia?


"Hei."


Tak ada reaksi yang ditimbulkan oleh suara Steven. Aya masih bergeming pada posisinya semula.


"Aya, bangun." Steven menambah volume suaranya dan sedikit mengguncang pundak Aya agar gadis itu segera membuka mata. Dan kali ini berhasil. Aya menggerakkan sedikit punggungnya lalu menegakkan tubuh meski kedua matanya masih terpejam.


"Steven?" Aya tampak cukup terkejut saat melihat wajah Steven untuk pertama kali setelah membuka matanya lebar-lebar. "Kamu sudah bangun? Apa kamu sudah sembuh? Bagaimana perasaanmu sekarang?"


Steven hanya diam tak menjawab cecaran Aya dan ia membiarkan gadis itu meraba keningnya dengan antusias. Bahkan ia bukan siapa-siapanya Steven, tapi sikapnya terlihat meyakinkan. Apa ia sebahagia itu saat melihat Steven telah bangun?


"Kamu sudah sembuh," ujar gadis itu dengan nada riang. Senyum semringah tiba-tiba terkembang di bibir Aya. Tanpa sadar ia mengguncang kedua pundak Steven demi merayakan kebahagiaan atas kesembuhan cowok itu.


"Apa kamu sebahagia itu?" tanya cowok itu dengan ekspresi kesal. Tubuh Steven terasa sakit saat Aya mengguncangnya tadi. Kekuatan gadis itu tak bisa diprediksi. Lengannya kecil, tapi ia cukup kuat rupanya.


"Iya, kamu nggak senang sudah sembuh, hah?" Aya mengerutkan kening mendengar pertanyaan ganjil Steven.


"Kamu melakukan semua ini karena uang, kan?"


"Apa maksudmu?" Aya tampak kebingungan saat Steven kembali menanyakan pertanyaan aneh.


Aya menggelengkan kepala. Ia bertambah bingung dengan sikap Steven pagi ini. Apa kesembuhan Steven justru berpengaruh pada kinerja otaknya?


"Kamu aneh, Stev. Apa kepalamu sakit?"


Steven memberikan gelengan yang sama.


"Kamu tahu, aku nggak akan membayarmu lebih atas jasamu merawatku."


"Apa kamu pikir aku mengharapkan bayaran atas jasaku merawatmu? Kamu salah kalau berpikir seperti itu, Stev." Aya berdiri dan mundur beberapa langkah ke belakang. Gadis itu mengurai senyum pahit di bibirnya untuk menertawakan situasi yang mendadak berubah jadi tegang. "Apa di matamu aku tampak ingin memanfaatkanmu?"


Steven menghela napas dalam-dalam. Ia mulai menyadari ada sesuatu yang salah dalam kalimat yang ia ucapkan sebelumnya. Mungkin harapan yang sempat melambung di pikirannya terlalu berlebihan. Kenapa pula ia mengharapkan sesuatu yang lebih dari seorang gadis seperti Aya? Perhatian yang Aya tunjukkan hanyalah sebuah kewajiban atas pekerjaan dan bukan keinginan yang tumbuh dari hati nuraninya. Apa Steven saja yang terlalu berharap? Tapi kenapa perasaan itu mendadak timbul di dalam pikiran Steven? Konyol sekali!


"Sorry. Kurasa kepalaku sedikit bermasalah." Steven menyudahi pembicaraan tak berarah itu sebelum berubah menjadi perdebatan tak berguna.


"Apa kamu mau aku ambilkan obat sakit kepala?" tawar Aya.


"Nggak perlu. Tolong buatkan aku kopi."


"Teh aja. Aku nggak mau lambungmu sakit karena minum kopi dalam keadaan perut kosong."


Aya dan perhatiannya, kenapa Steven merasa begitu nyaman dengan semua itu? Kenapa baru sekarang ia merasakan perasaan itu tumbuh tiba-tiba di dalam hatinya? Apakah itu normal? Mungkin saja tidak.


Steven bergegas kembali berbaring dan berusaha menghalau pikiran-pikiran ngawur tentang Aya usai gadis itu berlalu dari hadapannya. Pasti demam kemarin yang membuat otaknya terganggu. Kehadiran Aya di sisinya hanyalah sebuah keharusan dalam pekerjaan. Dan lengannya yang dipeluk cukup erat oleh gadis itu hanyalah sebuah kebetulan semata. Ia sedang tidur saat itu dan pasti tidak menyadari apa saja yang diperbuatnya.


***