IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
End



Tiga bulan kemudian...


"Steven! Kamu masih belum bangun?!"


Steven membuka kedua mata dan menggeliat pelan. Suara teriakan Aya pagi ini cukup mengganggu telinganya dan memaksa cowok itu untuk segera turun dari tempat tidur. Usai mencuci muka, ia bergabung dengan Aya di meja makan. Aya telah menyiapkan nasi goreng dengan telur sebagai pelengkapnya untuk sarapan pagi ini.


"Kamu ada syuting hari ini, kan?" Aya menggeser sebuah piring yang telah terisi ke hadapan Steven.


"Iya," jawab Steven.


"Apa kamu mau nambah telur lagi?" tawar Aya sebelum mencicipi nasi goreng bagiannya.


"Nggak."


"Oh, ya. Tadi malam Thalia sudah berangkat ke Paris," beritahu Aya dengan nada hati-hati. Setidaknya ia perlu menjaga perasaan Steven, meski insiden malam itu telah berakhir tanpa permasalahan sama sekali. Thalia telah menyampaikan permintaan maaf dan ia juga sangat menyesal atas kejadian itu. Aya berbesar hati dan memaafkan Thalia, tapi Steven tampaknya belum bisa melupakan semuanya.


Steven tak menyahut. Ia terlihat sangat menikmati nasi gorengnya seolah tak terpengaruh akan penuturan Aya. Baginya, semua hal tentang Thalia telah berakhir. Tidak ada yang perlu ia bahas tentang gadis itu. Thalia adalah lembaran buku yang telah Steven tutup untuk selamanya.


"Semalam mami menelepon," ujar Steven setelah beberapa menit tak ada suara di ruangan itu.


"Kapan? Kenapa aku nggak tahu?"


"Kamu tidur sangat nyenyak, jadi mana mungkin kamu tahu," balas Steven bersungut-sungut.


"Memangnya apa yang mami bilang?" tanya Aya tak begitu antusias. Sejak ia dan Steven menikah dua bulan yang lalu, mami kerap menelepon dan bertanya keadaan mereka berdua. Jadi, Aya tidak akan heran jika wanita itu menelepon setiap hari.


"Pelaku penyebar berita bohong itu sudah tertangkap..."


"Oh ya? Siapa?" Tiba-tiba saja Aya berseru karena penasaran. Ia sempat berpikir jika mami Steven hanya bertanya kabar, kenyataannya lebih dari itu.


"Bang Odi."


"Bang Odi?!" Aya memekik histeris. "Tapi, bagaimana mungkin Bang Odi pelakunya? Dia orang baik..."


Aya tertegun mendengar uraian Steven yang baginya masih belum bisa dipercaya begitu saja. Selama ini Bang Odi tampak baik dan rasanya mustahil ia bisa melakukan hal seburuk itu.


"Mami diam-diam melaporkan kasus itu ke polisi," beritahu Steven menambahi. "Dan semalam dia ditangkap."


"Syukurlah..."


"Dan berita baiknya, mami akan mengirimi kita tiket bulan madu ke Lombok. Kamu senang, kan?"


"Benarkah?" decak Aya gembira. Ia hampir melompat dari kursinya karena terlalu bersemangat.


"Tapi mami minta sepulang dari Lombok, kita harus memberinya kabar baik," kata Steven seraya menyembunyikan senyum geli karena tingkah lucu Aya.


"Kabar baik apa?" Aya benar-benar tak bisa menerjemahkan maksud kalimat Steven.


"Mami ingin cepat-cepat menimang cucu. Kamu paham?"


Oh. Aya menahan napas dan ekspresi gembira di wajahnya seketika memudar.


"Aku akan mencuci piring dulu," ucapnya sembari mengangkat tubuh dari atas kursi dan buru-buru membereskan piring kotor miliknya lalu melenggang santai ke dapur.


"Kamu nggak mau mewujudkan impian mami?!" Steven terpaksa berteriak karena Aya telah sampai di dapur. "Aya! Kamu nggak ingin membuat mami bahagia?"


"Impian mami sudah terwujud, Stev!"


"Apa?" Steven mengerutkan dahi. Kira-kira apa maksud ucapan Aya? "Apa kamu sudah hamil, Sayang?"


"Sepertinya begitu!"


Astaga! Steven terperangah dan seperti orang yang baru saja tersengat listrik, ia bergegas bangun dari kursi dan berlari ke dapur lalu memeluk tubuh Aya.


*** TAMAT ***