
"Buka dulu maskernya sebelum makan," suruh Aya setelah pelayan yang mengantarkan pesanan mereka berlalu. Mereka sengaja mengambil tempat duduk di pojokan restoran agar tidak terlalu menjadi pusat perhatian pengunjung.
Steven bergegas menurunkan maskernya dan aroma khas pizza seketika menyerbu indra penciumannya. Cowok itu mengambil sepotong lalu memasukkannya ke dalam mulut setelah menuang sejumlah saus ke atasnya.
"Kamu senang kan, bisa menikmati kebebasan seperti ini?" tanya Aya dengan mulut sibuk mengunyah. Sebenarnya ia juga menikmati suasana seperti ini, makan pizza langsung di restorannya.
"Bukannya kamu yang senang bisa makan pizza gratis bersama aktor ftv sepertiku?" balas Steven seolah tahu apa yang dipikirkan Aya.
"Mantan aktor," ujar Aya meralat ucapan Steven.
"Memangnya kamu nggak suka aku jadi aktor lagi?"
"Suka."
"Lalu kenapa kamu menyuruhku untuk membuka restoran, bukannya mendukungku jadi aktor lagi?"
"Itu hanya rencana cadangan, Stev. Rasanya kita sudah membahas soal ini tadi," ucap Aya mengingatkan.
"Iya, karena kamu sangat mencintai uang, kan?" Lagi-lagi Steven melempar sindiran. Namun, ia tak serius kali ini.
Aya memilih diam dan mulai beralih ke gelas es krimnya. Menjawab sindiran itu berarti memancing perdebatan dengan Steven dan Aya benci untuk melakukannya.
"Kapan terakhir kamu makan es krim?" Tak ditanggapi oleh Aya, Steven mencoba mengambil topik perbincangan yang lain. Wanita selalu suka es krim, menurutnya begitu.
"Aku nggak ingat," jawab Aya setengah cuek. Ia terus memasukkan suap demi suap es krim cokelat ke dalam mulutnya. "Kamu nggak melihat di struk belanjaan?"
"Memangnya selain membeli benda mirip roti itu, kamu juga diam-diam membeli es krim tanpa sepengetahuanku?" Kening Steven terlihat mengerut.
"Pernah, tapi cuma sekali. Sorry. Kamu bisa memotong gajiku nanti," ucap Aya. Begitu banyak kesalahan yang ia lakukan dalam hal berbelanja dan setelah keadaan Steven menjadi terbalik seperti sekarang, Aya mulai menyadari perbuatannya.
"It's ok. Nggak pa pa. Aku nggak bakal jatuh miskin dengan tiba-tiba hanya dengan hal-hal sekecil itu," ujar Steven terkesan santai. Ia akan jatuh miskin mendadak karena karirnya hancur, itu saja. "Apa es krimnya enak?"
"Iya, kamu mau?" tawar Aya. Tadi Steven sengaja tak memesan seperti yang dilakukan gadis itu, karena cowok tidak biasa makan es krim. Namun, begitu melihat Aya begitu lahap menikmati es krim cokelatnya, hasrat Steven terbit juga.
"Kenapa?" Giliran Aya mengerutkan kening saat Steven kembali menggeser gelas es krim itu ke hadapannya. Padahal Steven baru menyuap sesendok saja.
"Aku nggak biasa makan es krim."
"Gigimu sensitif?"
"Nggak juga. Mungkin karena aku nggak biasa makan es krim aja." Steven kembali mengambil sisa potongan pizza yang terakhir sekadar untuk menetralkan suasana dingin yang sempat menguasai mulutnya selama beberapa saat.
"Sebaiknya kamu ganti pasta gigi, Stev. Kita bisa beli di supermarket yang tadi. Atau kamu mau aku belikan?" tawar Aya berbaik hati.
"Nggak perlu."
"Benar?"
"Uhm."
"Ya sudah," balas Aya sedikit lega. Jika Steven bersikap seolah semua baik-baik saja, pasti semuanya juga berjalan dengan baik. Masalah gigi sensitif bukan sesuatu yang serius baginya. "Ada saus di bibirmu," beritahu Aya tiba-tiba. Dengan gerakan spontan, gadis itu menarik selembar tisu dari dalam tasnya untuk mengelap saus yang betebaran di sekitar bibir Steven. Cowok itu terlalu banyak menuang saus ke atas pizzanya tadi.
Steven mengembangkan tawa setelah Aya berhasil membersihkan bibir cowok itu dari sisa-sisa saus.
"Kenapa?" Aya berdecak heran melihat sikap Steven. Bukannya berterimakasih, ia malah menertawakan perhatian kecil Aya padanya.
"Aku merasa kita seperti pasangan yang sedang berkencan," tandas Steven. Senyum tipis masih tercetak di bibirnya. Tapi, ia merasa senang diperlakukan sebaik itu oleh Aya. "Kamu merasakannya juga, kan?"
Aya mengerjap. Suasana di dalam hatinya yang tadinya nyaman, menjadi sedikit terusik berkat pertanyaan Steven. Sejujurnya ia sangat menikmati momen-momen kebersamaannya dengan Steven, tapi apa boleh ia sedikit melambungkan harapannya lebih tinggi?
"Nggak punya kata-kata untuk diucapkan?" Steven menggelakkan tawa renyah melihat raut wajah Aya yang terlihat bingung. "Ayo pulang," ajak cowok itu sembari mengangkat tubuhnya dari atas kursi.
***