
Steven pikir rumor itu akan mereda dengan sendirinya dan semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Tapi, kenyataannya dugaan Steven salah besar. Rumor yang mengatakan jika dirinya seorang gay, malah berkembang bebas dan meluas menjadi bahan perbincangan di mana-mana. Berita infotainment di televisi terus menerus membicarakan dirinya, bahkan seluruh kontrak ftv yang telah ditandatanganinya dibatalkan secara sepihak. Beberapa acara reality show juga dibatalkan. Karir keartisannya berada di ambang kehancuran. Jika artis-artis senior yang lain masih bisa bertahan di tengah terpaan gosip, kenapa Steven malah mengalami hal yang sebaliknya?
Memang, dunia seseorang tak akan selamanya berada di atas. Selalu ada masa-masa seseorang mengalami fase di mana ia berada di titik terendah dalam hidupnya dan itulah yang dialami Steven saat ini. Sejak awal terjun dalam dunia entertain, Steven sudah mempersiapkan hati dan mental untuk menghadapi hal-hal terburuk sekalipun. Namun, faktanya ini lebih dari sekadar menyakitkan untuknya. Pikiran, energi, dan emosinya nyaris terkuras habis demi mendengar omongan-omongan miring tentangnya. Steven tahu, ia tidak sesabar itu, tapi sampai saat ini tak ada yang dilakukannya. Steven tak ingin mengklarifikasi apapun pada wartawan yang terus berjaga di luar gedung apartemennya. Ia juga tak melaporkan penebar fitnah itu ke pihak kepolisian meski Aya terus mendesak.
"Kenapa kamu nggak melaporkan masalah ini ke polisi, Sayang? Mami akan mendukung kamu," ujar Mami Steven siang ini. Soraya, wanita cantik berpenampilan elegan itu sengaja menyambangi apartemen putranya karena hari ini adalah akhir pekan dan ia libur. Setelah meletakkan kantung-kantung belanjaan di atas meja makan, ia kembali melangkah ke ruang tamu. Steven sedang bermain game di ponselnya seolah tak peduli dengan apa yang sedang menimpanya seminggu belakangan. Padahal apa yang dilakukannya sekarang adalah sebuah upaya keras untuk menanggulangi stres yang bisa merusak kewarasannya.
"Biarlah, Mi. Berita seperti itu akan hilang dengan sendirinya," sahut Steven tanpa menjeda permainannya.
Soraya mendesah berat mendengar jawaban putranya. Wanita itu mengambil tempat duduk di dekat Steven lalu mengelus puncak kepalanya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Mi," ujar Steven sembari berusaha menghindarkan kepalanya dari jangkauan tangan wanita itu.
"Pulanglah, Stev. Mami akan senang kalau kamu tinggal bersama kami." Setelah sekian lama tak membujuk Steven, wanita itu kembali berusaha meluluhkan hati putranya. Apa salahnya ia mencoba lagi?
Steven mendengus kesal. Kata-kata maminya berperan besar dalam memecah konsentrasi Steven dan menyebabkan permainannya berakhir. Ia kesal karena harus mendengar kalimat yang sama.
"Mi, aku nggak membenci mereka," Steven menatap wajah maminya dalam-dalam. "suami dan anak tiri mami, mereka juga keluargaku. Kalau aku nggak mau tinggal bersama kalian, bukan berarti aku membenci kalian. Aku sayang pada kalian. Tapi aku lebih suka di sini, aku ingin hidup mandiri, Mi. Aku nggak ingin menyusahkan siapa-siapa."
Soraya mengurai senyum maklum mendengar kalimat yang disampaikan putranya. Ia tak pernah memaksa untuk hal yang satu ini. Lagipula Steven sudah 23 tahun dan cukup dewasa untuk mengarungi hidupnya sendiri.
Mungkin itu lebih baik bagi Steven karena kembali ke rumah baginya berarti menggali kenangan lama bersama almarhum ayah kandungnya di sana. Kesedihan yang tersimpan jauh dalam hatinya otomatis akan terkuak ke permukaan dan merusak total suasana hatinya.
Almarhum ayah kandung Steven adalah seorang polisi. Beliau meninggal sepuluh tahun lalu dalam sebuah operasi penangkapan mafia pengedar narkoba. Saat rombongan polisi melakukan pengejaran para pengedar narkoba itu, ayah Steven terkena tembakan yang dilepaskan oleh salah satu dari mereka. Sayang, nyawanya tak bisa diselamatkan karena peluru itu menembus organ vital dan terjadi perdarahan yang cukup parah. Beliau mengembuskan napas yang terakhir saat dilarikan ke rumah sakit.
"Kamu mau makan apa? Biar mami masak buat kamu." Soraya bangkit dari tempat duduknya demi kembali menetralkan suasana yang sempat berubah tegang. Steven tak bisa dipaksa untuk urusan apapun.
"Apa aja, Mi. Kalau mami yang masak pasti enak. Beda dengan Aya. Masakannya nggak pernah enak," tukas Steven bersemangat. Sudah beberapa hari ini ia harus menelan makanan yang dibuat Aya dan ia merindukan sesuatu yang lezat.
"Oh ya? Mami sudah lama nggak bertemu Aya..."
"Aku menyuruhnya libur hari ini karena mami akan datang."
"Lalu bagaimana dengan Thalia? Apa kalian sudah berbaikan?" Soraya membalik tubuh sebelum sempat menyentuh kantung belanjaan yang beberapa menit lalu ia letakkan di atas meja makan.
Steven langsung mengedik. Ia belum sempat menelepon Thalia setelah pertengkaran malam itu.
"Kalian harus berbaikan, Stev. Kamu masih mencintainya, kan? Kalau kalian berbaikan dan menikah, secara nggak langsung kamu sudah mematahkan rumor itu, kan?"
Seharusnya begitu. Tapi Thalia seolah tak peduli dengan masalah yang menimpa Steven. Sepertinya gadis itu benar-benar marah pada Steven.
Steven memilih bungkam dan memulai permainannya kembali. Mendengar saran maminya malah membuat Steven bertanya-tanya dalam hati. Apa mungkin jika Thalia adalah pelaku di balik semua ini? Motifnya juga jelas. Kejadiannya juga beberapa hari pasca kedatangan Thalia, kan?
***