IDOL IN MY HEART

IDOL IN MY HEART
dua puluh lima



"Apa benar kamu selapar itu?" Sejak tadi Aya terus mengawasi segala tingkah polah Steven yang sedang sibuk menyantap nasi ayam geprek. Padahal cowok itu lebih suka mi ayam atau nasi goreng, tapi cara makannya persis seperti orang kelaparan akut. Apa ia benar-benar lapar atau suka?


"Dari tadi pagi aku belum makan apa-apa," cetus Steven padahal mulutnya penuh dengan makanan. "Lagipula aku habis sakit, wajar kalau selera makanku tinggi. Bukannya itu malah bagus?"


Aya mengangguk. Gadis itu juga lapar dan menyukai ayam geprek, tapi ia tak serakus Steven.


"Hati-hati makannya," pesan Aya kemudian.


"Apa kamu sudah membeli hadiahnya?" Steven hampir menandaskan makanannya dua kali lebih cepat dari biasanya. Kedua pelipisnya terlihat berkeringat.


"Belum. Bukannya kamu bilang lebih baik membeli online aja?"


"Iya, tapi aku pikir kamu sudah membeli hadiahnya." Steven meneguk air minumnya dari gelas kaca usai menuntaskan sarapan sekaligus makan siangnya. Ia menarik selembar kertas tisu lalu mengelap kening dan pelipisnya yang terlihat lembab. Steven tak terlalu suka dengan sambal, jadi begitu ia makan sedikit saja sudah berkeringat seolah baru saja lari mengitari lapangan sepak bola sepuluh kali.


"Kupikir kamu memberi saran sekalian mau membayar belanjaanku. Makanya aku nggak jadi beli," kilah Aya.


"Enak aja," maki Steven sambil mengangkat tubuh dari atas kursi. Cowok itu berjalan ke dapur bermaksud untuk mencuci tangan.


"Hadiah itu bukan untukku, Stev. Tapi untuk Naura, putrinya Pak Jo. Bermurah hati lah sedikit," ucap Aya bermaksud merayu majikannya. Ia juga telah menyelesaikan makannya dan segera menyusul langkah Steven ke arah wastafel.


"Kenapa aku harus bermurah hati? Bukannya kamu yang sudah berjanji pada Pak Jo?" Cowok itu tiba-tiba membalik tubuh dan Aya kaget setengah mati karena ia nyaris menubruk tubuh Steven.


"I-iya," sahut Aya gugup. Posisi berdirinya sekarang berada persis di depan Steven dan jarak mereka yang terlalu dekat tidak menguntungkan bagi Aya. Perasaan dan detak jantungnya tiba-tiba tak keruan, membuat gadis itu salah tingkah. "Siapa tahu kamu juga mau berpartisipasi," ucap Aya buru-buru menyingkirkan tubuhnya sedikit agak menjauh dari Steven.


"Memangnya itu lomba?"


"Bisa kamu menyingkir sedikit?" Aya menggumam pelan. Wastafel itu berada persis di belakang punggung Steven dan Aya harus segera mencuci tangannya lalu pergi. "Aku nggak bisa mencuci tanganku," tunjuk Aya dengan mengangkat tangan kanannya yang kotor akibat ayam geprek.


Ah, senyum tipis mendadak merekah dengan indah di bibir Steven. Cowok itu menggeser sedikit tubuhnya guna memberi ruang bagi Aya untuk mencuci tangannya yang kotor. Jika dibiarkan terlalu lama, sisa-sisa sambal yang melekat di jari jemari gadis itu bisa memberi efek terbakar pada kulitnya.


"Apa kamu nggak menyukaiku?"


"Kenapa aku harus menyukaimu?" celutuk Aya. Meski ia terkejut mendengar pertanyaan konyol itu, namun Aya berusaha tidak terpengaruh.


"Karena aku tampan, Aya. Memangnya kamu nggak tertarik padaku? Kamu normal, kan?"


"Tentu saja aku normal," sahut Aya dengan nada sewot. Gadis itu menyelesaikan kegiatannya mencuci tangan. Lama-lama jantungnya bisa meledak jika terus-terusan berada di dekat Steven.


"Lalu kenapa kamu nggak menikah? Umurmu sudah 25 tahun, kan? Bahkan kamu nggak punya pacar," cerocos Steven seraya mengekor langkah Aya menuju ke ruang tamu. Ia sama sekali tidak khawatir akan menyinggung perasaan gadis itu. Jika Aya berani marah, maka Steven akan mengancamnya seperti biasa. Bukankah Aya paling takut jika gajinya dipotong?


"Apa orang harus menikah saat umurnya sudah menginjak 25 tahun?" balas Aya sembari menjatuhkan tubuh di atas sofa panjang yang biasa di duduki Steven. "Lagipula terserah aku mau menikah pada umur berapa. Itu bukan urusanmu."


Aya menoleh ke arah Steven sejurus kemudian. Entahlah, batinnya. Akhir-akhir ini perasaannya juga tak menentu jika ia menatap lama ke arah Steven. Aya tahu ada yang salah dengan hatinya, tapi bagaimana cara memperbaikinya? Steven memang kerap bersikap seenaknya pada Aya. Ia angkuh dan dua tahun lebih muda darinya, tapi apa cinta bisa tumbuh dari hal-hal menyebalkan seperti itu?


"Apa seperti Arya Sena?" tanya Steven lagi karena tak sabar menunggu kebisuan Aya.


"Mungkin."


"Mungkin?"


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Thalia? Dia pacarmu, kan?" Aya berniat untuk mengusik suasana hati Steven dengan balas bertanya tentang hal-hal pribadinya. Lagipula hubungan mereka berdua semakin dekat, rasanya mustahil jika Steven akan marah saat Aya bertanya macam-macam padanya.


"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang dia?" Steven menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa di dekat tubuh Aya. Ia terlihat tak begitu antusias saat membicarakan tentang Thalia. Bahkan ia enggan menyebut nama gadis itu. "Kamu cemburu padanya?" Tiba-tiba Steven menoleh ke arah Aya dan membuat gadis itu merasa terintimidasi.


"Kenapa aku harus merasa cemburu?" Aya mengurai tawa hambar. Ia tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh hatinya, tapi ia sangat ingin tahu tentang Thalia. "Aku bukan siapa-siapamu, kan?"


"Kalau aku bilang dia mantan pacarku, apa kamu senang? Atau kamu merasa cemburu?"


Aya terenyak. Isi kepalanya tiba-tiba kosong dan kosakata di dalamnya juga turut lenyap.


"Semua pertanyaanmu tentang dia sudah terjawab. Apa kamu sudah merasa lega sekarang?"


"Oh," Aya tergagap dan buru-buru memasang senyum bodoh di bibirnya. "tentu. Aku senang karena gosip itu memang nggak benar."


Steven tersenyum geli melihat wajah Aya dan segenap tingkah bodohnya. Gadis itu lebih bodoh dari yang dipikirkannya.


"Jangan nyalakan televisinya, Aya!" pekik Steven tiba-tiba. Cowok itu bergegas menyambar remote kontrol yang baru saja diraih Aya dari atas meja. "Sudah kubilang kan, jangan menyalakan televisi."


"Tapi aku hanya ingin nonton sinetron, Stev," ujar Aya seraya menatap kesal ke arah Steven yang merampas remote kontrol itu lalu menyembunyikannya di belakang punggung.


"Kita belanja aja. Bukannya kamu mau membeli hadiah untuk putrinya Pak Jo? Kita akan membeli dua hadiah sekaligus. Bagaimana?" bujuk Steven akhirnya.


"Tapi kamu yang bayar, ya?"


"Terserah kamu."


"Oke, setuju."


***